Mimbar Jum'at " Mengambil Dunia Untuk Keselamatan Akhirat"

Mengambil Dunia Untuk Keselamatan Akhirat 

Mengambil Dunia untuk Keselamatan Akhirat ( Perspektif Al-Qur'an, Hadis Nabi saw dan Pandangan Ulama )

Oleh: ust.Bustami, S.Ag., M.Pd.

Inti Pembahasan

Islam tidak mengajarkan umatnya meninggalkan kehidupan dunia, tetapi mengajarkan bagaimana menjadikan dunia sebagai ladang amal untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat merupakan tujuan akhir kehidupan manusia. Oleh karena itu, seluruh potensi yang dimiliki manusia, seperti umur, kesehatan, harta, ilmu, jabatan, keluarga, dan waktu harus dimanfaatkan sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal. Artikel ini mengkaji konsep "Mengambil Dunia untuk Keselamatan Akhirat" berdasarkan Al-Qur'an, hadis Nabi Muhammad Saw, penjelasan para ulama klasik dan kontemporer, serta relevansinya dalam kehidupan modern.

Kata Kunci: Dunia, Akhirat, Zuhud, Amal Saleh, Islam.

Pendahuluan

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memahami bahwa kehidupan dunia bertentangan dengan kehidupan akhirat. Padahal Islam justru memerintahkan agar dunia dijadikan sarana beribadah kepada Allah. Seorang mukmin bekerja, belajar, berdagang, bertani, memimpin, bahkan berkeluarga sebagai bentuk ibadah apabila diniatkan karena Allah SWT.

Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash [28]: 77)

Ayat ini menjadi dasar keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Hadis Pokok

Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.

Artinya:

"Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah saw memegang kedua pundakku seraya bersabda: Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir. Kemudian Ibnu Umar berkata: Apabila engkau berada di sore hari maka jangan menunggu pagi, dan apabila engkau berada di pagi hari jangan menunggu sore. Manfaatkanlah kesehatanmu sebelum datang sakitmu dan kehidupanmu sebelum datang kematianmu."

(HR. Bukhari No. 6416)

Hadis ini merupakan pedoman hidup seorang Muslim agar tidak diperbudak oleh dunia, tetapi menjadikannya sebagai bekal menuju akhirat.

Hakikat Kehidupan Dunia

Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ...

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.... Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali 'Imran [3]: 185)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dunia hanyalah tempat ujian, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya adalah akhirat. Oleh sebab itu, seorang mukmin tidak boleh tertipu oleh kemewahan dunia.

Dunia sebagai Ladang Akhirat

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa dunia ibarat sawah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah musim panennya. Barang siapa menanam amal saleh di dunia, maka ia akan menuai kebahagiaan di akhirat.

Hasan Al-Bashri berkata:

"Dunia adalah jembatan menuju akhirat. Maka lewatilah ia dan jangan menjadikannya sebagai tempat tinggal."

Makna Zuhud Menurut Para Ulama

Zuhud bukan berarti meninggalkan harta atau pekerjaan.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

"Zuhud adalah tidak bergantung hati kepada dunia meskipun dunia berada di tanganmu."

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hakikat zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat.

Dengan demikian, seorang pedagang, guru, dokter, petani, pejabat, maupun pengusaha dapat menjadi ahli zuhud apabila seluruh aktivitasnya diniatkan sebagai ibadah kepada Allah.

Delapan Pelajaran Besar dari Hadis

1. Bersegera melakukan amal saleh sebelum datang kematian.

2. Memanfaatkan setiap kesempatan hidup dengan sebaik-baiknya.

3. Menggunakan kesehatan sebagai modal beribadah.

4. Menjadikan dunia sebagai jalan menuju ridha Allah.

5. Menjauhi teman yang dapat menghalangi jalan menuju surga.

6. Bekerja mencari nafkah yang halal sebagai bagian dari ibadah.

7. Selalu bertaubat dan memperbaiki diri setiap saat.

8. Pentingnya perhatian guru kepada murid sebagaimana Rasulullah Saw mendidik Ibnu Umar dengan penuh kasih sayang.

Optimalisasi Waktu

Allah berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

"Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah berharap." (QS. Asy-Syarh [94]: 7–8)

Ayat ini mengajarkan etos kerja, produktivitas, dan kontinuitas amal.

Dunia sebagai Amanah

Seluruh nikmat dunia akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah saw bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ... وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ

"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, ilmunya, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tubuhnya digunakan untuk apa." (HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa semua yang dimiliki manusia adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

Dakwah sebagai Investasi Akhirat

Rasulullah saw bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

"Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat." (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ

"Barang siapa mengajak kepada petunjuk maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya." (HR. Muslim)

Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

"Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar." (QS. Ali 'Imran [3]: 104)

Dakwah dengan ilmu, tulisan, pendidikan, media sosial, maupun keteladanan merupakan investasi pahala yang terus mengalir.

Implementasi dalam Kehidupan Modern

Seorang guru mendidik dengan ikhlas, seorang pedagang berlaku jujur, seorang pejabat melayani masyarakat secara amanah, seorang petani bekerja dengan tekun, dan seorang pelajar belajar sungguh-sungguh. Semua aktivitas tersebut dapat menjadi ibadah apabila dilakukan sesuai syariat dan diniatkan mencari ridha Allah.

Dengan demikian, Islam mendorong umatnya menjadi produktif, profesional, disiplin, dan bermanfaat bagi masyarakat tanpa melupakan orientasi akhirat.

Kesimpulan

Hakikat kehidupan dunia adalah tempat beramal dan mempersiapkan bekal menuju akhirat. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperoleh keselamatan di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, setiap nikmat berupa umur, kesehatan, ilmu, harta, dan kesempatan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat dakwah, meningkatkan kualitas ibadah, dan memberi manfaat bagi sesama.

Sebagaimana pesan Rasulullah Saw , seorang mukmin hendaknya hidup seperti musafir yang tidak terlena oleh gemerlap dunia, tetapi senantiasa mempersiapkan bekal terbaik untuk perjalanan menuju kehidupan yang kekal di akhirat.

Referensi

1. Al-Qur'an al-Karim.

2. Shahih al-Bukhari.

3. Shahih Muslim.

4. Imam An-Nawawi, Al-Arba'in An-Nawawiyyah.

5. Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari.

6. Imam Al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din.

7. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim.

8. Imam Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an.

9. Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wa al-Hikam.

10. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa.

Redaksi Islamic tekhno tv com 

Posting Komentar untuk "Mimbar Jum'at " Mengambil Dunia Untuk Keselamatan Akhirat""