BAGAIMANA CARA MENCINTAI RASULULLAH SAW DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI? ( Kajian Ilmiah Berdasarkan Al-Qur'an, Hadis, dan Pandangan Ulama serta Implementasinya di Era Modern )
INTI PEMBAHASAN
Mencintai Rasulullah Muhammad Saw. merupakan bagian yang sangat mendasar dalam keimanan seorang Muslim. Cinta kepada Nabi Saw. bukan sekadar perasaan emosional, ungkapan lisan, atau kecintaan simbolik, melainkan cinta yang dibuktikan melalui keimanan, ketaatan, pengamalan sunnah, akhlak, pembelaan terhadap kehormatan Nabi, dan kesungguhan menjadikan beliau sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Artikel ini membahas hakikat mencintai Rasulullah Saw., landasan normatifnya dalam Al-Qur'an dan hadis, pandangan para ulama, serta bentuk implementasinya dalam kehidupan keluarga, pendidikan, masyarakat, pekerjaan, kepemimpinan, dan dunia digital. Di era modern, cinta kepada Rasulullah Saw. harus diterjemahkan menjadi living sunnah, yaitu menghadirkan nilai-nilai kenabian secara nyata dalam kehidupan kontemporer. Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah Saw. akan membentuk pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak, moderat, jujur, adil, penuh kasih sayang, serta bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial.
Kata kunci: Cinta Rasulullah, sunnah, akhlak Nabi, keteladanan, kehidupan modern.
A. AWAL PEMBAHASAN
Rasulullah Muhammad Saw. adalah manusia pilihan Allah Swt., pembawa risalah Islam, penyempurna ajaran para nabi sebelumnya, serta teladan utama bagi seluruh umat manusia. Keimanan kepada beliau tidak cukup hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Seorang Muslim juga dituntut untuk membenarkan risalahnya, menaati perintahnya, mengikuti sunnahnya, menghormatinya, dan mencintainya.
Persoalan yang sangat penting pada zaman modern adalah bagaimana menjadikan cinta kepada Rasulullah Saw. bukan sekadar slogan.
Ada orang yang sangat emosional ketika nama Rasulullah Saw. disebut, tetapi masih meninggalkan salat. Ada yang gemar berselawat, tetapi lisannya suka menghina dan menyakiti orang lain. Ada pula yang mengaku cinta kepada Nabi, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru lebih mengikuti budaya buruk, hawa nafsu, dan tren media sosial daripada ajaran Rasulullah Saw.
Karena itu, cinta yang benar kepada Rasulullah Saw. harus terlihat dalam:
1. Keyakinan dalam hati;
2. Ucapan yang benar;
3. Ketaatan dalam perbuatan;
4. Kemuliaan akhlak;
5. Pengorbanan untuk membela kebenaran;
6. Kesungguhan menghidupkan sunnah.
Cinta kepada Rasulullah Saw. adalah cinta yang bersifat aktif, bukan pasif. Cinta yang membentuk cara seseorang berbicara, makan, bekerja, mendidik anak, menggunakan media sosial, memimpin, berdagang, dan memperlakukan manusia.
B. PENGERTIAN MENCINTAI RASULULLAH SAW.
Secara bahasa, mahabbah (الْمَحَبَّةُ) berarti cinta atau kecenderungan hati kepada sesuatu yang dianggap bernilai.
Mencintai Rasulullah Saw. berarti menempatkan beliau sebagai manusia yang paling dicintai setelah Allah Swt., karena melalui beliau manusia mengenal Allah, menerima Al-Qur'an, mengetahui jalan keselamatan, dan memperoleh ajaran untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Namun cinta kepada Nabi Saw. tidak boleh dipahami sebagai mengangkat beliau ke dalam kedudukan ketuhanan. Rasulullah Saw. adalah manusia dan hamba Allah, tetapi manusia yang dipilih dan dimuliakan untuk menerima wahyu.
Allah Swt. berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
Artinya:
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Dengan demikian, cinta kepada Rasulullah Saw. harus berada dalam kerangka tauhid, yaitu mencintai beliau sebagai utusan dan hamba Allah yang paling mulia.
C. KEDUDUKAN CINTA KEPADA RASULULLAH SAW. DALAM IMAN
Rasulullah Saw. bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”
Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Bukhari dan Muslim; salah satu riwayat sahih tercantum dalam Sunan Ibnu Majah no. 67.
Kandungan Hadis
Hadis ini menunjukkan bahwa:
1. Cinta kepada Rasulullah Saw. merupakan bagian dari kesempurnaan iman;
2. Cinta kepada beliau harus mengalahkan kecintaan terhadap kepentingan pribadi;
3. Kecintaan kepada keluarga tidak dilarang, tetapi tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya;
4. Cinta yang benar akan melahirkan kesediaan mengikuti ajaran beliau.
Cinta kepada Rasulullah Saw. bukan berarti seorang Muslim harus membenci keluarganya. Maksudnya adalah apabila terjadi pertentangan antara hawa nafsu dengan ajaran Rasulullah, maka seorang Muslim harus memilih kebenaran yang dibawa oleh beliau.
D. DALIL AL-QUR'AN TENTANG CINTA KEPADA RASULULLAH SAW.
1. Mengikuti Rasulullah adalah bukti cinta kepada Allah
Allah Swt. berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
“Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali 'Imran: 31)
Isi Kandungan Ayat
Ayat ini memberikan prinsip yang sangat penting:
"Cinta yang benar harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah Saw."
Oleh sebab itu, seseorang tidak cukup mengatakan, “Saya mencintai Rasulullah,” apabila kehidupannya secara sengaja meninggalkan sunnah dan ajaran beliau.
Menurut penjelasan ulama, ayat ini menjadi salah satu dasar utama bahwa kecintaan kepada Allah dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah. Al-Qadhi 'Iyadh dalam Asy-Syifa bi Ta'rif Huquq al-Musthafa juga menempatkan mengikuti Nabi, menaati perintahnya, dan meneladani petunjuknya sebagai bagian dari bukti cinta yang benar.
2. Rasulullah adalah teladan terbaik
Allah Swt. berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Isi Kandungan Ayat
Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. adalah model kehidupan Muslim.
Beliau menjadi teladan dalam:
- beribadah;
- menjadi suami;
- menjadi ayah;
- menjadi pendidik;
- menjadi sahabat;
- menjadi pemimpin;
- menjadi pedagang;
- menyelesaikan konflik;
- memaafkan kesalahan;
- memperlakukan orang lemah;
- menghadapi musuh;
- membangun masyarakat.
Maka mencintai Rasulullah berarti berusaha menjadikan akhlak beliau sebagai sistem nilai kehidupan. Mengikuti, menaati, dan menjadikan beliau teladan merupakan tanda penting kecintaan kepada Nabi.
3. Perintah menaati Allah dan Rasul-Nya
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedangkan kamu mendengar.”
(QS. Al-Anfal: 20)
Isi Kandungan
Cinta kepada Rasulullah Saw. harus menghasilkan ketaatan. Cinta tanpa ketaatan merupakan cinta yang masih perlu dipertanyakan kejujurannya.
Dalam penjelasan Asy-Syifa, kewajiban beriman kepada Nabi berkaitan erat dengan kewajiban menaati dan mengikutinya.
E. CINTA KEPADA RASULULLAH SAW. HARUS LEBIH KUAT DARIPADA HAWA NAFSU
Dalam kehidupan, manusia memiliki berbagai kecintaan:
- cinta kepada harta;
- cinta kepada keluarga;
- cinta kepada kedudukan;
- cinta kepada pekerjaan;
- cinta kepada kelompok;
- cinta kepada popularitas;
- cinta kepada kesenangan.
Namun semua kecintaan itu harus berada di bawah kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah Swt. berfirman:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya:
“Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)
Ayat ini menunjukkan betapa besar kedudukan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
F. BAGAIMANA CARA MENCINTAI RASULULLAH SAW. DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI?
1. Mengenal Rasulullah Saw. secara mendalam
Tidak mungkin seseorang mencintai secara mendalam apabila ia tidak mengenal yang dicintainya.
Karena itu, langkah pertama adalah mempelajari:
- sirah Nabawiyah;
- akhlak Rasulullah;
- sunnah beliau;
- perjuangan dakwah beliau;
- kehidupan keluarga beliau;
- sifat-sifat beliau;
- kesabaran dan pengorbanan beliau.
Implementasi
- membaca sirah Nabi setiap hari;
- mengajarkan kisah Nabi kepada anak;
- membuat program “Satu Hadis Satu Hari”;
- mengikuti kajian sirah Nabawiyah;
- menjadikan bulan Maulid sebagai momentum pendidikan sirah, bukan sekadar seremoni.
Prinsipnya:
"Semakin seseorang mengenal Rasulullah, semakin kuat peluang tumbuhnya cinta yang benar."
2. Membaca dan mempelajari hadis Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw. telah meninggalkan warisan ajaran yang sangat luas.
Setiap Muslim sebaiknya memiliki kebiasaan mempelajari hadis.
Contoh program pribadi
Setiap hari:
1. membaca satu hadis;
2. memahami maknanya;
3. menghafal bagian penting;
4. mengamalkannya;
5. mengajarkannya kepada keluarga.
Contohnya, ketika mempelajari hadis tentang kejujuran, maka implementasinya adalah:
"Tidak berbohong, meskipun sedang bercanda atau menghadapi keuntungan dunia."
Inilah bentuk nyata cinta kepada Rasulullah Saw.
3. Mengikuti sunnah Rasulullah Saw.
Cinta yang paling nyata adalah mengikuti orang yang dicintai.
Al-Qadhi 'Iyadh menjelaskan bahwa tanda cinta yang benar kepada Nabi ialah meneladani beliau, mengamalkan sunnah, mengikuti perkataan dan perbuatannya, menaati perintah, menjauhi larangan, serta beradab dengan adab beliau dalam keadaan lapang maupun sulit.
Contoh implementasi
a. Dalam shalat
- Menjaga shalat lima waktu;
- Berusaha berjamaah bagi yang memungkinkan;
- Melaksanakan sunah rawatib;
- Menjaga kekhusyukan.
b. Ketika makan
- Membaca basmalah;
- Menggunakan tangan kanan;
- Mengambil makanan secukupnya;
- Tidak mencela makanan;
- Ridak berlebihan.
c. Dalam berpakaian
- menutup aurat;
- menjaga kesopanan;
- tidak sombong;
- menjaga kebersihan.
d. Ketika berbicara
- berkata baik;
- tidak berbohong;
- tidak menggunjing;
- tidak memfitnah;
- tidak berkata kasar.
e. Ketika menghadapi masalah
- sabar;
- bermusyawarah;
- menghindari kezaliman;
- memaafkan ketika mampu.
G. MEMPERBANYAK SELAWAT
Allah Swt. berfirman:
"إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا"
Artinya:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Salah satu bentuk selawat yang paling masyhur ialah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Selawat hendaknya tidak hanya dibaca, tetapi menjadi sarana untuk mengingat dan meneladani Rasulullah Saw.
H. MENELADANI AKHLAK RASULULLAH SAW.
Allah Swt. berfirman:
"وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ"
Artinya:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Cinta kepada Nabi harus melahirkan perubahan akhlak.
1. Meneladani kejujuran
Rasulullah Saw. dikenal dengan gelar:
"الصَّادِقُ الْأَمِينُ"
“Orang yang sangat jujur dan sangat terpercaya.”
Implementasi modern
- tidak menyebarkan berita palsu;
- tidak membuat konten fitnah;
- tidak memalsukan dokumen;
- tidak melakukan korupsi;
- tidak menipu dalam perdagangan;
- tidak menggunakan akun media sosial untuk membohongi orang lain.
2. Meneladani kasih sayang
Rasulullah Saw. adalah teladan kasih sayang.
Dalam era modern, cinta kepada Nabi harus menghasilkan:
- kepedulian kepada fakir miskin;
- perlindungan terhadap anak;
- penghormatan kepada orang tua;
- penghargaan kepada guru;
- kepedulian terhadap tetangga;
- perlakuan baik terhadap sesama.
3. Meneladani sifat pemaaf
Dalam kehidupan modern, masyarakat mudah marah hanya karena:
- perbedaan politik;
- perbedaan organisasi;
- perbedaan pendapat;
- komentar media sosial.
Seorang yang mencintai Rasulullah Saw. hendaknya belajar mengendalikan emosi dan menyelesaikan konflik dengan hikmah.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman, tetapi menghindari pembalasan yang melampaui batas.
I. MENJADIKAN RUMAH TANGGA SEBAGAI TEMPAT CINTA KEPADA RASULULLAH SAW.
Cinta kepada Nabi harus dimulai dari rumah.
Implementasi suami
Suami yang mencintai Rasulullah Saw. harus:
- bertanggung jawab;
- lembut kepada keluarga;
- tidak melakukan kekerasan;
- menghormati istri;
- mendidik anak dengan baik.
Implementasi istri
Istri:
- menjaga kehormatan;
- membangun rumah tangga dengan kasih sayang;
- mendidik anak mencintai agama.
Implementasi orang tua
Orang tua hendaknya mengajarkan kepada anak:
1. siapa Rasulullah Saw.;
2. bagaimana perjuangan beliau;
3. bagaimana akhlak beliau;
4. bagaimana beribadah seperti ajaran beliau.
Contoh program keluarga
Setelah Magrib:
- 10 menit membaca Al-Qur'an;
- 10 menit membaca hadis atau sirah Nabi;
- satu anggota keluarga menjelaskan pelajaran;
- menutup dengan doa dan selawat.
J. MENCINTAI RASULULLAH SAW. DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Bagi guru dan pendidik, Rasulullah Saw. adalah pendidik agung.
Beliau mendidik:
- dengan kasih sayang;
- dengan keteladanan;
- secara bertahap;
- sesuai kondisi manusia;
- tanpa mempermalukan.
Implementasi bagi guru
1. mengajar dengan niat ibadah;
2. menghormati peserta didik;
3. tidak merendahkan murid;
4. membimbing dengan kesabaran;
5. menjadi teladan;
6. menghubungkan ilmu dengan akhlak.
Seorang guru tidak cukup mengajarkan:
“Apa yang harus diketahui?”
Tetapi juga:
“Bagaimana ilmu tersebut menjadikan manusia lebih baik?”
K. MENCINTAI RASULULLAH SAW. DALAM PEKERJAAN DAN KEPEMIMPINAN
Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa pekerjaan merupakan amanah.
Cinta kepada beliau harus membentuk etos kerja:
- jujur;
- profesional;
- disiplin;
- tidak korup;
- tidak mengambil hak orang lain;
- tidak menyalahgunakan jabatan.
Bagi pemimpin
Pemimpin yang mencintai Rasulullah Saw. harus:
- melayani rakyat;
- bersikap adil;
- mendengar aspirasi;
- tidak hidup berlebihan di atas penderitaan masyarakat;
- menempatkan amanah di atas kepentingan pribadi.
L. MENCINTAI RASULULLAH SAW. DI ERA MEDIA SOSIAL
Inilah salah satu medan implementasi cinta kepada Rasulullah Saw. yang paling penting saat ini.
Jangan melakukan:
- menyebarkan hoaks;
- memfitnah;
- membully;
- menghina;
- menyebarkan aib;
- membuat konten yang merusak akhlak.
Lakukanlah:
- menyebarkan ilmu;
- mengajarkan akhlak;
- memperbanyak konten positif;
- menyampaikan hadis dengan sumber yang jelas;
- menghormati perbedaan pendapat;
- menjaga etika digital.
Setiap jari yang mengetik harus mencerminkan akhlak Rasulullah Saw.
Sebelum mengirim sebuah unggahan, tanyakan:
“Apakah unggahan ini mendekatkan saya kepada akhlak Rasulullah atau justru sebaliknya?”
M. PANDANGAN ULAMA TENTANG TANDA CINTA KEPADA RASULULLAH SAW.
1. Al-Qadhi 'Iyadh
Dalam kitab Asy-Syifa bi Ta'rif Huquq al-Musthafa, Al-Qadhi 'Iyadh menegaskan bahwa orang yang benar dalam cintanya kepada Nabi akan memperlihatkan tanda cinta tersebut melalui:
- meneladani Nabi;
- mengamalkan sunnah;
- mengikuti perkataan dan perbuatannya;
- menaati perintah;
- menjauhi larangan;
- beradab dengan akhlak beliau.
Prinsipnya sangat tegas:
"Orang yang benar-benar mencintai akan lebih mengutamakan kesesuaian dengan orang yang dicintainya."
2. Pandangan ulama tentang kedudukan cinta kepada Nabi
Para ulama menjelaskan bahwa cinta kepada Rasulullah Saw. merupakan kewajiban dan bagian dari kesempurnaan iman. Di antara bukti cinta tersebut ialah:
- mengikuti sunnah;
- menaati perintah;
- menghormati kedudukan beliau;
- membela ajaran beliau;
- mencintai keluarga dan para sahabat beliau dengan cara yang benar;
- merindukan perjumpaan dengan beliau.
Riwayat tentang generasi setelah Nabi yang sangat merindukan beliau juga menunjukkan bahwa cinta kepada Rasulullah tidak bergantung pada pernah atau tidaknya seseorang melihat beliau secara langsung.
N. MENCINTAI RASULULLAH SAW. DI ZAMAN MODERN
Zaman berubah, tetapi prinsip cinta kepada Rasulullah tidak berubah.
Yang berubah hanyalah bentuk tantangan dan media implementasinya.
1. Cinta kepada Nabi bukan nostalgia masa lalu
Mencintai Nabi bukan berarti sekadar mengenang sejarah Arab abad ketujuh.
Justru pertanyaannya:
"Bagaimana prinsip Rasulullah diterapkan untuk menjawab masalah abad ke-21?"
Misalnya:
- kejujuran untuk melawan korupsi;
- amanah untuk memperbaiki pemerintahan;
- kasih sayang untuk mengatasi kekerasan;
- ilmu untuk melawan kebodohan;
- tabayyun untuk melawan hoaks;
- musyawarah untuk mengurangi konflik;
- keadilan untuk melawan diskriminasi.
2. Cinta kepada Nabi harus berbasis ilmu
Pada zaman digital, banyak hadis, kutipan, dan kisah yang tersebar tanpa kejelasan sumber.
Karena itu, cinta kepada Rasulullah harus melahirkan tanggung jawab ilmiah:
"Jangan menyebarkan hadis sebelum memeriksa sumber dan keabsahannya."
Cinta kepada Rasulullah tidak boleh digunakan untuk menyebarkan informasi palsu atas nama beliau.
3. Menghidupkan sunnah dengan hikmah
Menghidupkan sunnah bukan berarti memaksakan pendapat secara kasar.
Dakwah Rasulullah Saw. mengajarkan:
- hikmah;
- kelembutan;
- kesabaran;
- keteladanan.
Seorang Muslim yang mencintai Nabi tidak boleh menjadikan agama sebagai alasan untuk menghina, membenci, atau merendahkan manusia.
O. PROGRAM PRAKTIS 30 HARI MENUMBUHKAN CINTA KEPADA RASULULLAH SAW.
Setiap hari:
1. Membaca Al-Qur'an minimal beberapa ayat.
2. Membaca selawat dengan penuh kesadaran.
3. Mempelajari satu hadis.
4. Mengamalkan satu sunnah.
5. Menghindari satu akhlak buruk.
6. Membaca beberapa halaman sirah Nabi.
7. Mengajarkan satu nilai Nabi kepada keluarga.
Setiap pekan:
- mengkaji satu sifat Rasulullah;
- melakukan satu kegiatan sosial;
- mengevaluasi penggunaan media sosial;
- memperbaiki satu akhlak.
Pertanyaan evaluasi sebelum tidur:
"Apakah hari ini saya telah berkata seperti seorang yang mencintai Rasulullah?"
"Apakah saya telah menggunakan media sosial dengan akhlak beliau?"
"Apakah keluarga saya merasakan kasih sayang dari saya?"
"Apakah pekerjaan saya telah saya lakukan dengan amanah?"
P. KESIMPULAN
Mencintai Rasulullah Muhammad Saw. adalah bagian yang sangat penting dari keimanan seorang Muslim. Cinta tersebut tidak boleh berhenti pada pengakuan, selawat, peringatan, atau ekspresi emosional semata.
Cinta yang benar kepada Rasulullah Saw. harus dibuktikan melalui:
1. mengenal Rasulullah secara mendalam;
2. mempelajari Al-Qur'an , hadits dan Sunnah
Redaksi Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "CARA MENCINTAI RASULULLAH SAW DI ERA MODERN"