MENELADANI QANA‘AH RASULULLAH SAW.

Qana'ah dalam hidup dan kehidupan keseharian 

MENELADANI QANA‘AH RASULULLAH SAW. DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI (Kajian Tastafi tentang Iman, Akhlak, dan Keteladanan Nabi Muhammad Saw.)

Inti Pembahasan

Qana‘ah merupakan salah satu akhlak mulia yang memiliki kedudukan penting dalam membentuk ketenangan jiwa, kesederhanaan hidup, kekuatan iman, dan kebahagiaan seorang Muslim. Dalam kehidupan modern yang ditandai oleh persaingan ekonomi, konsumerisme, budaya pamer, dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain, nilai qana‘ah semakin penting untuk dihidupkan kembali. Artikel ini menguraikan qana‘ah melalui perspektif kajian Tauhid, Tasawuf, dan Fikih (Tastafi), dengan titik tekan pada hubungan antara qana‘ah dan rukun iman, serta keteladanan hidup Rasulullah Saw. Kajian ini juga dikaitkan dengan pengajian Tastafi yang disampaikan oleh Abu Paya Pasi di Masjid Al-Falah Sigli, sebagai upaya menghidupkan pendidikan akidah dan akhlak di tengah masyarakat. Secara ilmiah, qana‘ah bukan berarti malas, pasrah tanpa usaha, atau menolak kemajuan. Qana‘ah adalah menerima pembagian Allah dengan hati yang ridha setelah melakukan ikhtiar yang benar, disertai tawakal, syukur, dan pengendalian diri. Rasulullah Saw. merupakan teladan tertinggi dalam kesederhanaan, kerendahan hati, dan kekayaan jiwa.

Kata kunci: Qana‘ah, Rasulullah Saw., Tastafi, iman, akhlak, tasawuf, syukur, tawakal.

I. Awal Pembahasan

Manusia hidup dengan berbagai keinginan. Sebagian keinginan diperlukan untuk mempertahankan kehidupan dan mencapai kemajuan. Akan tetapi, apabila keinginan tidak dikendalikan oleh iman, ia dapat berubah menjadi ketamakan yang tidak pernah berakhir.

Dalam kehidupan modern, manusia sering diukur dari rumahnya, kendaraannya, jabatannya, jumlah hartanya, dan apa yang ditampilkannya di media sosial. Akibatnya, tidak sedikit orang yang sebenarnya telah memiliki kecukupan, tetapi tetap merasa miskin; memiliki banyak harta, tetapi tidak memiliki ketenangan; memiliki jabatan, tetapi tetap merasa kurang.

Di sinilah ajaran qana‘ah memiliki kedudukan yang sangat penting.

Secara umum, qana‘ah berarti merasa cukup, menerima dengan ridha pembagian Allah, tidak tamak, dan tidak menjadikan keinginan dunia sebagai pusat kehidupan. Qana‘ah merupakan kekayaan batin dan kekuatan hati.

Rasulullah Saw. bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya:

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi landasan utama bahwa ukuran kekayaan dalam Islam bukan hanya jumlah materi, tetapi kekayaan hati.

Kajian Tastafi menempatkan persoalan qana‘ah bukan sekadar persoalan akhlak, tetapi berkaitan erat dengan:

1. Tauhid dan keimanan kepada Allah;

2. Iman kepada qada dan qadar;

3. Tasawuf dan penyucian hati;

4. Fikih dalam mencari dan menggunakan harta secara halal;

5. Akhlak Rasulullah Saw. sebagai teladan kehidupan.

Pengajian Tastafi yang disampaikan oleh Abu Paya Pasi di Masjid Al-Falah Sigli dapat dipahami sebagai bagian dari tradisi keilmuan Aceh yang menghubungkan akidah yang benar, ibadah yang sahih, dan akhlak yang mulia. Masjid Al-Falah sendiri merupakan salah satu pusat kegiatan keagamaan di Kota Sigli.

Catatan akademik: 

" Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai transkrip kata demi kata ceramah Abu Paya Pasi. Uraian berikut adalah pengembangan ilmiah atas tema qana‘ah dalam kerangka Tauhid, Tasawuf, dan Fikih yang menjadi karakter kajian Tastafi." 

II. PENGERTIAN QANA‘AH

Secara bahasa Arab: قَنِعَ – يَقْنَعُ – قُنُوعًا – قَنَاعَةً

Maknanya berkaitan dengan merasa cukup, menerima, dan ridha terhadap apa yang diberikan.

Secara istilah, qana‘ah berarti:

الرِّضَا بِمَا قَسَمَ اللَّهُ تَعَالَى وَالْقَنَاعَةُ بِمَا آتَى

Artinya:

“Ridha terhadap apa yang Allah Ta‘ala bagikan dan merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan.”

Para ulama menjelaskan qana‘ah sebagai keadaan hati yang tidak diperbudak oleh ketamakan. Al-Qadhi ‘Iyadh mendefinisikannya sebagai keridhaan terhadap pemberian Allah, sedangkan ulama akhlak juga menekankan kesederhanaan dalam makanan, minuman, dan kesenangan hidup.

Qana‘ah bukan berarti:

- tidak boleh menjadi kaya;

- tidak boleh memiliki rumah yang baik;

- tidak boleh mengembangkan usaha;

- tidak boleh memiliki cita-cita;

- tidak boleh berusaha memperbaiki kehidupan.

Sebaliknya, qana‘ah berarti:

Bekerja keras dalam mencari yang halal, tetapi tidak diperbudak oleh hasil.

Dengan demikian, seorang Muslim dapat:

Bekerja keras , berusaha maksimal , berdoa , tawakal , menerima hasil dengan ridha , bersyukur.

Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan qana‘ah.

III. LANDASAN QANA‘AH DALAM AL-QUR’AN

1. Larangan membandingkan diri secara berlebihan

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya:

“Janganlah kamu berangan-angan terhadap sesuatu yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisā’: 32)

Kandungan ayat

Ayat ini mengajarkan tiga prinsip:

1. Jangan iri terhadap nikmat orang lain.

2. Berusahalah dengan kemampuan sendiri.

3. Mohonlah karunia kepada Allah.

Dengan demikian, qana‘ah tidak menutup pintu usaha. Seseorang tetap diperintahkan bekerja dan memohon tambahan karunia kepada Allah, tetapi ia dilarang menjadikan iri dan dengki sebagai cara hidup.

2. Syukur adalah jalan bertambahnya nikmat

Allah Swt. berfirman:

«لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ»

Artinya:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrāhīm: 7)

Kandungan ayat

Qana‘ah dan syukur merupakan dua sifat yang saling berkaitan.

- Qana‘ah: hati merasa cukup.

- Syukur: menyadari dan menggunakan nikmat dengan benar.

Orang yang tidak qana‘ah akan selalu berkata:

“Saya belum punya apa-apa.”

Padahal mungkin ia telah memiliki:

- kesehatan;

- keluarga;

- makanan;

- tempat tinggal;

- ilmu;

- pekerjaan;

- iman;

- kesempatan beribadah.

Karena itu, qana‘ah mengajarkan manusia untuk melihat apa yang telah diberikan Allah, bukan hanya apa yang belum dimiliki.

3. Rezeki berada dalam jaminan dan pengetahuan Allah

Allah Swt. berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya:

“Tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat tinggalnya dan tempat penyimpanannya. Semua itu tertulis dalam Kitab yang nyata.” (QS. Hūd: 6)

Kandungan ayat

Ayat ini membangun keyakinan bahwa manusia tidak perlu menjadi tamak.

Namun, jaminan rezeki tidak berarti manusia diperbolehkan malas. Nabi Saw. mengajarkan umatnya bekerja. Burung yang keluar dari sarangnya merupakan gambaran bahwa tawakal harus disertai usaha.

4. Musibah dan kehidupan berada dalam ketentuan Allah

Allah Swt. berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam sebuah kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”

(QS. Al-Ḥadīd: 22)

Ayat berikutnya menjelaskan hikmah keimanan terhadap takdir:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

Artinya:

“Agar kamu tidak terlalu bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Ḥadīd: 23)

Kandungan ayat

Inilah salah satu dasar qana‘ah yang sangat penting:

«Apa yang luput dari kita tidak selalu merupakan kehancuran, dan apa yang kita miliki tidak boleh menjadikan kita sombong.»

Qana‘ah menjaga manusia dari dua ekstrem:

- terlalu hancur ketika kehilangan;

- terlalu sombong ketika memperoleh.

IV. QANA‘AH BERDASARKAN ENAM RUKUN IMAN

Kajian qana‘ah menjadi lebih mendalam apabila dikaitkan dengan rukun iman.

1. Iman kepada Allah

Orang yang beriman kepada Allah yakin bahwa Allah adalah: الرَّزَّاقُ yaitu Ar-Razzāq , Maha Pemberi Rezeki.

Allah berfirman: إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pemberi Rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 58)

Keyakinan kepada Allah sebagai Ar-Razzāq menjadikan seorang mukmin bekerja tanpa panik, berusaha tanpa putus asa, dan menerima hasil tanpa kufur.

2. Iman kepada malaikat

Iman kepada malaikat mengajarkan bahwa kehidupan manusia selalu berada dalam pengawasan dan pencatatan.

Orang yang qana‘ah akan berhati-hati dalam mencari rezeki. Ia tidak ingin:

- menyuap;

- mencuri;

- korupsi;

- menipu;

- mengambil hak orang lain.

Mengapa?

Karena ia percaya:

" Rezeki yang halal sedikit tetapi berkah lebih baik daripada harta banyak tetapi haram."

3. Iman kepada kitab-kitab Allah

Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan.

Allah Swt. berfirman:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A‘rāf: 31)

Qana‘ah berarti menggunakan nikmat dengan proporsional.

4. Iman kepada para rasul

Puncak keteladanan qana‘ah adalah Rasulullah Muhammad Saw.

Allah berfirman: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya:

“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Aḥzāb: 21)

Nabi Muhammad Saw. adalah pemimpin umat, tetapi hidupnya tidak dipenuhi kemewahan.

Beliau mampu hidup sederhana, merasakan lapar, tidur di tempat yang sederhana, dan mendahulukan orang lain. Hal itu bukan karena beliau tidak mampu memperoleh dunia, tetapi karena dunia tidak menguasai hatinya.

5. Iman kepada hari akhir

Orang yang beriman kepada akhirat memahami bahwa harta dunia hanya sementara.

Allah berfirman: وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya:

“Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)

Qana‘ah lahir ketika manusia memahami bahwa:

- rumah dunia akan ditinggalkan;

- jabatan akan berakhir;

- harta akan diwariskan;

- tubuh akan kembali kepada tanah.

Yang dibawa menuju akhirat adalah:

- iman;

- amal saleh;

- akhlak;

- keikhlasan.

6. Iman kepada qada dan qadar

Inilah salah satu fondasi terbesar qana‘ah.

Rasulullah Saw. bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ

Artinya:

“Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan pernah luput darimu.”

Keimanan kepada qadar mengajarkan ketenangan.

Namun, qana‘ah tidak boleh disalahgunakan menjadi alasan untuk meninggalkan usaha. Seorang Muslim tetap harus:

" Berusaha sebelum hasil, bersyukur setelah hasil, dan sabar ketika hasil belum sesuai harapan."

V. QANA‘AH DALAM KEHIDUPAN RASULULLAH SAW.

Rasulullah Saw. adalah manusia paling mulia, tetapi kehidupan beliau penuh kesederhanaan.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa keluarga Nabi Saw. mengalami masa ketika tidak tersedia makanan yang dimasak di rumah dalam waktu yang cukup lama. Keadaan tersebut tidak menjadikan beliau mengeluh kepada Allah.

Aisyah r.a. meriwayatkan:

إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ نَارٌ

Artinya:

“Sungguh, kami melihat tiga hilal dalam dua bulan, sementara tidak pernah dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah Saw.”

Keterangan ini menunjukkan betapa sederhana kehidupan Nabi Saw. Namun, kesederhanaan itu tidak mengurangi kebahagiaan dan kemuliaan beliau.

Pelajaran dari kehidupan Nabi Saw.

1. Kesederhanaan tidak berarti kehinaan.

2. Banyak harta bukan jaminan kebahagiaan.

3. Sedikit harta dapat menjadi cukup apabila hati qana‘ah.

4. Seorang pemimpin tidak harus hidup bermewah-mewahan.

5. Harta harus berada di tangan, bukan menguasai hati.

VI. HADIS-HADIS RASULULLAH SAW. TENTANG QANA‘AH

1. Kekayaan yang sebenarnya

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya:

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kandungan hadis

Seseorang dapat memiliki banyak uang tetapi tetap merasa miskin.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki kehidupan sederhana tetapi merasa kaya karena:

- hatinya tenang;

- keluarganya baik;

- kesehatannya dijaga;

- ibadahnya terpelihara;

- tidak diperbudak keinginan.

2. Beruntunglah orang yang qana‘ah

Rasulullah Saw. bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Artinya:

“Sungguh beruntung orang yang telah masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan tiga unsur kebahagiaan:

1. Islam yang benar;

2. rezeki yang mencukupi;

3. hati yang qana‘ah.

3. Lihatlah orang yang berada di bawah dalam urusan dunia

Rasulullah Saw. bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Artinya:

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.”

(HR. Muslim)

Ini bukan berarti umat Islam tidak boleh belajar dari orang yang lebih maju. Dalam urusan ilmu dan prestasi, kita diperintahkan berlomba dalam kebaikan.

Maksud hadis ini adalah:

Dalam urusan dunia, jangan menjadikan orang yang lebih kaya sebagai ukuran kebahagiaan.

VII. QANA‘AH BUKAN MALAS

Ini merupakan pemahaman yang sangat penting.

Ada orang yang berkata:

“Saya qana‘ah, maka saya tidak perlu bekerja keras.”

Pemahaman ini keliru.

Rasulullah Saw. bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ

Artinya:

“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau menjadi lemah.” (HR. Muslim)

Qana‘ah tidak mematikan semangat.

Qana‘ah justru membuat manusia:

- bekerja tanpa rakus;

- berusaha tanpa putus asa;

- berhasil tanpa sombong;

- gagal tanpa hancur;

- kaya tanpa takabur;

- miskin tanpa meminta-minta secara hina.

VIII. QANA‘AH DALAM PERSPEKTIF TASAWUF

Dalam tasawuf, qana‘ah berkaitan dengan penyucian hati.

Penyakit hati yang berlawanan dengan qana‘ah antara lain:

1. الْحِرْصُ — al-ḥirṣ yaitu ketamakan;

2. الْحَسَدُ — al-ḥasad yaitu kedengkian;

3. الطَّمَعُ — aṭ-ṭama‘ yaitu menginginkan milik orang lain;

4. الْكِبْرُ — al-kibr yaitu kesombongan;

5. الرِّيَاءُ — ar-riyā’ yaitu pamer;

6. الْإِسْرَافُ — al-isrāf yaitu berlebihan.

Qana‘ah berfungsi sebagai obat bagi hati.

Imam al-Ghazali dalam pembahasan akhlak dan zuhud menjelaskan pentingnya membatasi ketergantungan hati terhadap kenikmatan dunia. Dalam perkembangan pemikiran Islam, qana‘ah dipahami sebagai keseimbangan antara menerima karunia Allah dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi.

IX. PANDANGAN ULAMA TENTANG QANA‘AH

1. Imam al-Ghazali

Dalam pembahasan akhlak dan penyucian jiwa, qana‘ah berkaitan erat dengan kemampuan menundukkan hawa nafsu.

Semangat qana‘ah adalah:

الْقَنَاعَةُ كَنْزٌ لَا يَفْنَى Artinya:

“ Qana‘ah adalah harta yang tidak akan habis.”

Maknanya bukan sekadar memiliki sedikit, tetapi memiliki hati yang tidak selalu menuntut lebih.

2. Buya Hamka

Dalam pemikiran Hamka, qana‘ah tidak identik dengan kemiskinan atau kemalasan.

Qana‘ah adalah:

Menerima ketentuan Allah dengan puas, sambil tetap memiliki tawakal dan ridha kepada-Nya.

Pandangan ini penting bagi masyarakat modern:

" Qana‘ah bukan berhenti berusaha, tetapi berhenti diperbudak oleh ketidakpuasan." 

Kajian akademik tentang tafsir Al-Azhar dan Al-Mishbah juga menempatkan qana‘ah sebagai sikap merasa cukup dengan pemberian Allah tanpa berlebihan, serta memiliki keterkaitan dengan tawakal dan ridha.

X. SIFAT-SIFAT RASULULLAH SAW. YANG BERKAITAN DENGAN QANA‘AH

1. Ṣiddīq — صِدِّيقٌ yaitu benar atau jujur

Rasulullah Saw. adalah orang yang benar dan jujur.

Qana‘ah tidak dapat dipisahkan dari kejujuran. Orang yang tidak qana‘ah dapat terdorong untuk:

- berdusta;

- memanipulasi;

- mengambil yang bukan haknya.

2. Amānah — أَمَانَةٌ yaitu Amanah terpercaya

Orang qana‘ah tidak mudah mengkhianati amanah demi keuntungan.

Dalam kehidupan pemerintahan dan pendidikan, qana‘ah sangat penting agar seseorang tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri secara tidak halal.

3. Tablīgh — تَبْلِيغٌ yaitu menyampaikan

Rasulullah Saw. menyampaikan kebenaran.

Orang yang qana‘ah memiliki keberanian untuk mempertahankan kebenaran karena hatinya tidak diperbudak oleh kepentingan materi.

4. Faṭānah — فَطَانَةٌ yaitu Kecerdasan

Kecerdasan Rasulullah Saw. mengajarkan manusia agar bijaksana dalam membedakan:

- kebutuhan dan keinginan;

- kecukupan dan kemewahan;

- investasi dan pemborosan;

- kemajuan dan kerakusan.

Qana‘ah membutuhkan kecerdasan dalam mengelola kehidupan.

XI. IMPLEMENTASI QANA‘AH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1. Dalam keluarga

Suami dan istri hendaknya tidak menjadikan keluarga lain sebagai standar mutlak kebahagiaan.

Qana‘ah mengajarkan:

- hidup sesuai kemampuan;

- menghindari utang konsumtif;

- bersyukur atas rezeki;

- mendidik anak hidup sederhana.

2. Dalam pendidikan

Guru dan peserta didik harus memahami bahwa ilmu bukan hanya untuk mengejar materi.

Qana‘ah dapat diterapkan melalui:

- hidup disiplin;

- tidak mencontek;

- tidak pamer;

- menghargai proses;

- menggunakan fasilitas secara bijak.

3. Dalam pekerjaan

Seorang pekerja yang qana‘ah:

- tidak mengambil uang haram;

- tidak menerima suap;

- tidak korupsi;

- bekerja profesional;

- merasa cukup dengan rezeki halal.

4. Dalam media sosial

Era digital menimbulkan masalah baru:

" Perbandingan sosial tanpa batas."

Melalui media sosial, manusia melihat:

- kemewahan orang;

- perjalanan orang;

- kendaraan orang;

- rumah orang;

- kesuksesan orang.

Jika tidak dikendalikan, seseorang dapat merasa hidupnya selalu kurang.

Qana‘ah menjadi benteng agar manusia tidak membangun kebahagiaan berdasarkan kehidupan yang ditampilkan orang lain.

5. Dalam menghadapi kegagalan

Qana‘ah bukan berarti tidak sedih.

Islam membolehkan manusia sedih.

Namun, qana‘ah mencegah kesedihan berubah menjadi:

- keputusasaan;

- menyalahkan Allah;

- dengki kepada orang lain.

Seorang mukmin berkata:

قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Artinya:

“Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.”

Kemudian ia bangkit kembali dan berusaha.

XII. TANDA-TANDA ORANG YANG QANA‘AH

Orang yang memiliki sifat qana‘ah biasanya:

1. Bersyukur terhadap nikmat.

2. Tidak tamak.

3. Tidak iri kepada orang lain.

4. Tidak suka meminta-minta.

5. Tetap bekerja keras.

6. Ridha terhadap pembagian Allah.

7. Tidak boros.

8. Tidak sombong ketika kaya.

9. Tidak putus asa ketika miskin.

10. Mengutamakan harta yang halal.

11. Mendahulukan kebutuhan daripada gengsi.

12. Memiliki ketenangan jiwa.

XIII. LANGKAH PRAKTIS MENELADANI QANA‘AH RASULULLAH SAW.

Pertama: Perbaiki iman

Tanamkan keyakinan:

الرِّزْقُ مِنَ اللَّهِ

“Rezeki berasal dari Allah.”

Kedua: Biasakan bersyukur

Setiap hari renungkan minimal beberapa nikmat Allah yang telah dimiliki.

Ketiga: Bedakan kebutuhan dan keinginan

Tidak semua yang diinginkan harus dimiliki.

Keempat: Bekerja secara maksimal

Qana‘ah tidak berarti berhenti berusaha.

Kelima: Hindari membandingkan diri secara berlebihan

Setiap orang memiliki:

rezeki;

waktu;

kemampuan;

ujian;

perjalanan hidup yang berbeda.

Keenam: Hidup sederhana

Kesederhanaan membebaskan manusia dari perbudakan gengsi

Ketujuh: Perbanyak sedekah

Sedekah mengajarkan bahwa harta bukan milik mutlak manusia.

Kedelapan: Mengingat akhirat

Kesadaran bahwa dunia sementara membuat manusia lebih bijak dalam mengejar dunia.

XIV. PENUTUP

Qana‘ah merupakan salah satu akhlak besar yang harus dihidupkan kembali dalam kehidupan modern. Ia bukan ajaran untuk menjadi lemah, miskin, atau tidak memiliki cita-cita.

Qana‘ah adalah:

ketenangan hati setelah usaha, keridhaan setelah ketentuan, syukur terhadap nikmat, dan kebebasan jiwa dari ketamakan.

Rasulullah Muhammad Saw. telah memberikan contoh nyata bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada kemewahan hidup.

Beliau adalah pemimpin terbesar, tetapi rendah hati.

Beliau memiliki kekuasaan, tetapi sederhana.

Beliau dicintai, tetapi tidak sombong.

Beliau diuji dengan kesulitan, tetapi tidak berputus asa.

Beliau diberi dunia, tetapi dunia tidak menguasai hatinya.

Inilah inti keteladanan qana‘ah Rasulullah Saw.

Seorang Muslim harus berusaha dengan sungguh-sungguh, membangun pendidikan, mengembangkan ekonomi, mencari rezeki halal, dan memperbaiki kehidupannya. Akan tetapi, seluruh usaha tersebut harus dikendalikan oleh iman.

Karena manusia yang paling kaya bukanlah orang yang memiliki semuanya.

Tetapi:

orang yang memiliki hati yang merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah, tetap bersyukur atas nikmat yang ada, dan tetap berusaha secara halal untuk masa depannya.

Semoga kajian Tastafi di Masjid Al-Falah Sigli menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa kekuatan seorang Muslim tidak hanya terletak pada kecerdasan dan kekayaan, tetapi juga pada iman, akhlak, kesabaran, tawakal, syukur, dan qana‘ah.

Redaksi : Islamic tekhno tv com 



Posting Komentar untuk "MENELADANI QANA‘AH RASULULLAH SAW."