FENOMENA “POKORO” DALAM DINAMIKA SOSIAL MASYARAKAT ACEH: (Analisis Psikologi Sosial, Perspektif Islam, dan Strategi Penanggulangannya )
Oleh ust.Bustami Ahmad,S.Ag.,M.Pd
Inti permasalahan secara ilmiah:
Dalam budaya masyarakat Aceh dikenal istilah "Pokoro", yaitu individu yang gemar memancing konflik, mengadu domba, menyebarkan isu, fitnah, atau provokasi sehingga menimbulkan keretakan hubungan sosial dalam kelompok masyarakat maupun media komunikasi digital seperti WhatsApp Group (WAG). Fenomena ini bukan sekadar persoalan etika sosial, tetapi juga memiliki akar psikologis yang kuat dan berkaitan erat dengan penyakit hati seperti iri (envy), dengki (hasad), serta kecenderungan manipulatif. Tulisan ini bertujuan mengkaji fenomena pokoro melalui pendekatan psikologi sosial modern, neurosains, komunikasi digital, dan perspektif Islam, sekaligus menawarkan strategi penanggulangan pada tingkat individu, kelompok, dan masyarakat.
Awal perkataan :
Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah pola interaksi sosial manusia. Media sosial dan grup percakapan digital menjadi ruang baru bagi terbentuknya hubungan sosial sekaligus konflik sosial.
Di Aceh, terdapat istilah lokal yang sangat relevan dengan fenomena tersebut, yaitu "Pokoro".
Secara kultural, pokoro dipahami sebagai seseorang yang sengaja mengeruhkan suasana, memancing pertengkaran, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, serta menikmati konflik yang terjadi antar anggota kelompok.
Fenomena ini semakin mudah ditemukan pada grup WhatsApp keluarga, organisasi, komunitas keagamaan, hingga kelompok politik.
Dalam ilmu sosial modern, perilaku demikian tidak lagi dipandang sebagai kenakalan biasa, melainkan sebagai bentuk agresi sosial tidak langsung (indirect social aggression) yang berpotensi merusak modal sosial masyarakat.
Makna Pokoro dalam Perspektif Budaya Aceh
Dalam tradisi lisan masyarakat Aceh, kata "pokoro" diyakini berasal dari akar kata "karo" yang bermakna keruh atau kacau.
Secara makna budaya:
Pokoro adalah orang yang menyebabkan suasana menjadi keruh, kacau, dan tidak harmonis.
Karakteristik pokoro antara lain:
1. Menyampaikan informasi setengah benar.
2. Menyebarkan gosip tanpa verifikasi.
3. Mengadu domba antar individu.
4. Menghilangkan konteks informasi.
5. Menikmati pertengkaran yang terjadi.
Dalam masyarakat tradisional Aceh, perilaku semacam ini termasuk perbuatan tercela karena bertentangan dengan nilai musyawarah, ukhuwah, dan adat "peumulia jamee, peusaboh hatee" (mempersatukan hati).
Analisis Psikologi Sosial
1. Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory)
Tokoh psikologi sosial, Leon Festinger (1954), menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain.
Ketika seseorang melihat orang lain lebih sukses, lebih dihormati, atau lebih berpengaruh, muncul dua kemungkinan:
Inspirasi (admiration)
Iri hati (envy)
Apabila iri hati tidak dikelola secara sehat, maka berkembang menjadi dengki (malicious envy), yaitu keinginan agar nikmat orang lain hilang.
Dari sinilah sering lahir perilaku pokoro.
2. Teori Dark Triad Personality
Penelitian Delroy Paulhus dan Kevin Williams (2002) memperkenalkan konsep Dark Triad:
a. Machiavellianisme
Sifat manipulatif dan suka mengatur orang lain demi keuntungan pribadi.
b. Narsisme
Merasa diri paling penting dan haus pengakuan.
c. Psikopati Ringan
Kurang empati terhadap penderitaan orang lain.
Perilaku pokoro sering menunjukkan dominasi unsur Machiavellianisme, yaitu kemampuan memecah belah kelompok demi memperoleh kepuasan psikologis atau posisi sosial tertentu.
3. Perspektif Neurosains
Penelitian neurosains menunjukkan bahwa rasa iri dapat mengaktifkan area otak yang disebut:
Anterior Cingulate Cortex (ACC)
Bagian ini berkaitan dengan rasa sakit sosial (social pain).
Secara biologis, otak seseorang dapat merasakan "ketidaknyamanan" ketika melihat keberhasilan orang lain.
Akibatnya muncul dorongan bawah sadar untuk:
menjatuhkan,
mempermalukan,
atau merusak reputasi pihak yang dianggap lebih unggul.
Inilah yang menjelaskan mengapa sebagian pelaku provokasi merasa puas ketika melihat orang lain mengalami kesulitan.
Perspektif Islam: Pokoro sebagai Penyakit Hati
Dalam Islam, perilaku pokoro berkaitan dengan beberapa penyakit hati:
1. Hasad (dengki)
2. Ghibah (menggunjing)
3. Namimah (adu domba)
4. Su'uzan (prasangka buruk)
Allah SWT berfirman:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Artinya:
"Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS. Al-Falaq: 5)
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti." (QS. Al-Hujurat: 6)
Hadis tentang Adu Domba
Rasulullah saw bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
Artinya:
"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa beratnya dosa namimah dalam pandangan Islam.
Pandangan Imam Al-Ghazali
Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa hasad merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya.
Menurut beliau, hasad memiliki beberapa dampak:
1. Menghilangkan ketenangan jiwa.
2. Menimbulkan permusuhan.
3. Merusak persaudaraan.
4. Menyebabkan pelakunya hidup dalam penderitaan batin.
Al-Ghazali mengibaratkan hasad seperti api yang membakar kayu bakar hingga habis.
Dampak Sosial Perilaku Pokoro
1. Keretakan Hubungan Sosial
Pokoro merusak kepercayaan yang merupakan fondasi utama kehidupan bermasyarakat.
2. Konflik Berkepanjangan
Satu informasi yang dipelintir dapat berkembang menjadi konflik besar.
3. Polarisasi Kelompok
Masyarakat terpecah menjadi kubu-kubu yang saling curiga.
4. Gangguan Kesehatan Mental
Korban fitnah dan provokasi berisiko mengalami:
stres,
kecemasan,
depresi,
gangguan tidur.
Strategi Penanggulangan
A. Tingkat Individu
1. Muhasabah Diri
Mengakui adanya iri dan dengki dalam diri.
2. Memperbanyak Syukur
Menulis dan mengingat nikmat Allah setiap hari.
3. Mendoakan Orang yang Didengki
Ini merupakan terapi spiritual yang dianjurkan para ulama.
4. Menjaga Lisan dan Jari
Tidak menyebarkan informasi yang belum jelas.
B. Tingkat Grup WhatsApp
1. Terapkan Aturan Grup
Dilarang fitnah.
Dilarang adu domba.
Dilarang menyebarkan screenshot tanpa izin.
2. Admin Bersikap Netral
Admin wajib menjadi penengah, bukan bagian dari konflik.
3. Verifikasi Informasi
Gunakan prinsip:
Tabayyun sebelum menyimpulkan.
4. Klarifikasi Secara Personal
Konflik lebih mudah diselesaikan melalui komunikasi pribadi dibandingkan forum terbuka.
C. Tingkat Masyarakat
1. Kajian Tazkiyatun Nafs
Pembinaan akhlak dan penyucian hati.
2. Literasi Digital
Masyarakat perlu memahami:
hoaks,
disinformasi,
manipulasi digital.
3. Keteladanan Tokoh
Ulama, teungku, keuchik, guru, dan tokoh masyarakat harus menjadi teladan dalam menjaga persatuan.
Kesimpulan
Fenomena "Pokoro" merupakan realitas sosial yang telah lama dikenal dalam budaya Aceh dan kini semakin tampak dalam ruang komunikasi digital. Secara ilmiah, perilaku ini dapat dijelaskan melalui teori perbandingan sosial, kepribadian manipulatif (Dark Triad), dan mekanisme psikologis akibat iri serta dengki. Dalam perspektif Islam, pokoro berkaitan erat dengan penyakit hati seperti hasad, namimah, dan ghibah yang secara tegas dilarang oleh syariat.
Karena itu, penanggulangan pokoro tidak cukup hanya dengan aturan sosial, tetapi harus dilakukan melalui pendekatan multidisipliner: pendidikan akhlak, penguatan spiritual, literasi digital, pembinaan psikologis, dan penegakan etika komunikasi. Masyarakat yang mampu membangun budaya tabayyun, syukur, dan ukhuwah akan lebih tahan terhadap provokasi serta mampu menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi digital.
Daftar Rujukan
1. Leon Festinger (19
54). A Theory of Social Comparison Processes.
2. Delroy Paulhus & Kevin Williams (2002). The Dark Triad of Personality.
3. Abu Hamid al-Ghazali. Ihya Ulumuddin.
4. Shahih al-Bukhari.
5. Shahih Muslim.
6. Al-Qur'an al-Karim.
7. Kajian psikologi komunikasi digital dan agresi sosial dalam komunitas daring.
Redaksi : Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "WASPADA FENOMENA POKORO Di ACEH"