AIR HUJAN SEBAGAI PERUMPAMAAN HARI KEBANGKITAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN ( Kajian Tafsir QS. Fāṭir Ayat 9, QS. Az-Zukhruf Ayat 11, dan QS. Qāf Ayat 11 )
Oleh : ust.Bustami Ahmad, S.Ag.,M.Pd
A. Pendahuluan
Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi umat manusia yang menjelaskan berbagai tanda kekuasaan Allah SWT, baik yang terdapat di alam semesta maupun yang berkaitan dengan kehidupan manusia setelah kematian.
Salah satu fenomena alam yang sering dijadikan perumpamaan dalam Al-Qur’an adalah turunnya air hujan. Hujan bukan sekadar proses alam yang menghidupkan tanah dan tumbuh-tumbuhan, melainkan juga menjadi tanda kekuasaan Allah SWT dalam menghidupkan kembali bumi yang sebelumnya kering dan mati.
Fenomena tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan peristiwa kebangkitan manusia pada hari kiamat (Yaumul Ba‘ts). Sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang tandus melalui turunnya hujan, Allah juga Mahakuasa membangkitkan manusia setelah kematian.
Ketiga ayat yang menjadi dasar pembahasan ini adalah:
1. QS. Fāṭir ayat 9.
2. QS. Az-Zukhruf ayat 11.
3. QS. Qāf ayat 11.
Ketiganya memberikan gambaran bahwa hujan merupakan salah satu bukti nyata kekuasaan Allah SWT atas kehidupan, kematian, dan kebangkitan.
B. Pembahasan Ayat-Ayat Al-Qur’an
1. QS. Fāṭir (35): Ayat 9
وَاللّٰهُ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَسُقْنٰهُ اِلٰى بَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَحْيَيْنَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ كَذٰلِكَ النُّشُوْرُ ٩
Artinya:
"Dan Allah-lah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, kemudian Kami arahkan awan itu ke suatu negeri yang mati (tandus), lalu dengan hujan itu Kami hidupkan bumi setelah matinya. Seperti itulah kebangkitan (manusia)."
Isi kandungan ayat:
Ayat ini menjelaskan beberapa tanda kekuasaan Allah SWT:
1. Allah SWT yang menggerakkan angin dan mengarahkan awan.
2. Awan membawa air yang kemudian turun sebagai hujan atas kehendak Allah.
3. Tanah yang sebelumnya tandus dan kering dapat kembali hidup setelah memperoleh air hujan.
4. Tumbuh-tumbuhan yang sebelumnya tidak tampak kemudian tumbuh dan berkembang.
5. Peristiwa hidupnya kembali bumi menjadi bukti bahwa kebangkitan manusia bukan sesuatu yang mustahil bagi Allah SWT.
Hubungan dengan hari kebangkitan:
Kalimat yang sangat penting dalam ayat ini adalah:
كَذٰلِكَ النُّشُوْرُ
Artinya: Demikianlah kebangkitan.
Allah memberikan perumpamaan yang dapat disaksikan manusia setiap tahun. Tanah yang mati dapat hidup kembali setelah turun hujan. Demikian pula manusia yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan kembali oleh Allah SWT pada hari kiamat.
2. QS. Az-Zukhruf (43): Ayat 11
وَالَّذِيْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍۚ فَاَنْشَرْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًاۚ كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ ١١
Artinya:
"Dan yang menurunkan air dari langit menurut ukuran (yang diperlukan), lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)."
Isi kandungan ayat:
1. Allah SWT menurunkan air hujan dengan ukuran dan ketentuan-Nya.
2. Air hujan merupakan rahmat Allah yang sangat penting bagi kehidupan seluruh makhluk.
3. Allah menghidupkan tanah yang mati sehingga dapat menghasilkan berbagai tumbuh-tumbuhan.
4. Fenomena turunnya hujan menjadi bukti kekuasaan Allah dalam mengatur kehidupan.
5. Allah menegaskan bahwa manusia kelak akan dikeluarkan dari kubur untuk menghadapi kehidupan akhirat.
Hubungan dengan hari kebangkitan:
Perhatikan bagian akhir ayat:
كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ
Artinya: Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).
Ayat ini mengandung penegasan bahwa sebagaimana bumi yang mati dapat hidup kembali karena air hujan, manusia juga akan dikeluarkan kembali dari kuburnya atas kekuasaan Allah SWT.
3. QS. Qāf (50): Ayat 11
رِزْقًا لِّلْعِبَادِۙ وَاَحْيَيْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًاۚ كَذٰلِكَ الْخُرُوْجُ ١١
Artinya:
"Sebagai rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur)."
Isi kandungan ayat:
1. Air hujan merupakan salah satu bentuk rezeki dan rahmat Allah kepada seluruh hamba-Nya.
2. Allah memberikan kehidupan melalui air yang diturunkan dari langit.
3. Tanah yang tandus dapat kembali subur dan menghasilkan berbagai sumber makanan.
4. Kehidupan manusia dan makhluk lainnya bergantung pada rahmat serta ketentuan Allah.
5. Allah memberikan perumpamaan tentang kebangkitan manusia melalui bumi yang hidup kembali setelah mati.
Hubungan dengan hari kebangkitan:
كَذٰلِكَ الْخُرُوْجُ
Artinya: Seperti itulah kebangkitan (dari kubur).
Ayat ini menegaskan bahwa kebangkitan manusia dari kubur merupakan sesuatu yang pasti dalam ketetapan Allah. Sebagaimana tanah yang mati dapat hidup kembali, demikian pula manusia akan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.
C. Persamaan dan Perbedaan Makna Ketiga Ayat
Ketiga ayat tersebut memiliki satu pokok pembahasan yang sama, yaitu kekuasaan Allah SWT dalam menghidupkan bumi yang mati sebagai bukti kemampuan-Nya membangkitkan manusia setelah kematian.
Namun, masing-masing ayat memiliki penekanan yang berbeda.
Surah dan ayat Pokok penekanan Pesan kebangkitan
Fāṭir: 9 yaitu Angin menggerakkan awan dan hujan menghidupkan bumi كَذٰلِكَ النُّشُوْرُ
Az-Zukhruf: 11 yaitu Hujan turun dengan ukuran dan ketentuan Allah كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ
Qāf: 11 yaitu Hujan menjadi rezeki dan menghidupkan bumi كَذٰلِكَ الْخُرُوْجُ
Kesimpulan persamaan ketiga ayat:
1. Bumi yang mati dapat hidup kembali dengan air hujan.
2. Allah SWT memiliki kekuasaan mutlak atas kehidupan dan kematian.
3. Kebangkitan manusia dari kubur merupakan perkara yang benar dan pasti.
4. Kehidupan dunia merupakan bukti kekuasaan Allah yang dapat disaksikan manusia setiap hari.
D. Pandangan Para Mufasir dan Ulama
1. Imam Ibnu Katsir
Ibnu Katsir dalam kitab Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Aẓīm menjelaskan bahwa Allah menjadikan peristiwa turunnya hujan dan hidupnya kembali bumi sebagai bukti kekuasaan-Nya untuk membangkitkan manusia.
Pokok pemikirannya adalah bahwa Zat yang mampu menghidupkan bumi setelah kekeringan dan kematian tentu Mahakuasa menghidupkan kembali manusia setelah mereka meninggal dunia.
2. Imam Ath-Thabari
Ath-Thabari melalui kitab Jāmi‘ Al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy Al-Qur’ān menjelaskan makna ayat-ayat tersebut dengan menekankan kekuasaan Allah dalam menghidupkan negeri yang tandus melalui air hujan.
Peristiwa tersebut menjadi tanda bagi manusia agar memahami bahwa kebangkitan bukan sesuatu yang mustahil.
3. Imam Al-Qurthubi
Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jāmi‘ li Aḥkām Al-Qur’ān membahas ayat-ayat tentang hujan dan kebangkitan sebagai bagian dari penjelasan mengenai kekuasaan Allah serta bukti kebenaran kehidupan akhirat.
Manusia hendaknya mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta.
4. Syekh Abdurrahman As-Sa'di
Abdurrahman As-Sa'di dalam kitab Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān menjelaskan bahwa menghidupkan bumi setelah mati merupakan dalil yang menunjukkan mudahnya bagi Allah menghidupkan manusia kembali.
Catatan: Uraian di atas merupakan ringkasan pemikiran para mufasir, bukan kutipan langsung dari kitab mereka.
E. Hubungan Fenomena Hujan dengan Hari Kebangkitan Menurut Perspektif Ilmiah
Hujan memiliki proses yang menunjukkan keteraturan ciptaan Allah SWT.
Berikut tahapan yang dapat diamati:
1. Penguapan air: Air dari laut, sungai, dan permukaan bumi mengalami penguapan karena energi matahari.
2. Pembentukan awan: Uap air mengalami pendinginan dan kondensasi sehingga membentuk awan.
3. Turunnya hujan: Ketika kondisi atmosfer mendukung, air turun ke bumi dalam bentuk hujan.
4. Penyerapan air: Air hujan meresap ke dalam tanah dan membantu memenuhi kebutuhan air tumbuh-tumbuhan.
5. Pertumbuhan kehidupan: Benih memperoleh air dan kondisi yang sesuai untuk berkecambah serta tumbuh.
Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana lingkungan yang kering dapat kembali mendukung kehidupan setelah memperoleh air.
Dalam perspektif akidah Islam, peristiwa ini merupakan tanda kekuasaan Allah SWT dan menjadi perumpamaan untuk memahami kebangkitan manusia.
Namun, perlu dipahami bahwa proses pertumbuhan tanaman secara biologis tidak sama dengan proses kebangkitan manusia. Hubungannya adalah sebagai perumpamaan dan bukti kekuasaan Allah, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur'an.
F. Nilai-Nilai Akidah dan Hikmah yang Dapat Diambil
Dari ketiga ayat tersebut, terdapat beberapa pelajaran penting bagi kehidupan manusia.
1. Meyakini adanya hari kebangkitan
Setiap muslim wajib meyakini bahwa kehidupan tidak berakhir dengan kematian. Akan ada kehidupan akhirat dan kebangkitan manusia dari kubur.
2. Mengakui kekuasaan Allah SWT
Allah yang menciptakan alam semesta, menurunkan hujan, dan menghidupkan bumi memiliki kekuasaan untuk membangkitkan seluruh manusia.
3. Menyadari bahwa hujan adalah rahmat Allah
Air hujan merupakan nikmat yang sangat besar. Tanpa air, kehidupan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan akan mengalami kesulitan.
4. Memperkuat keimanan terhadap kehidupan akhirat
Manusia hendaknya tidak meragukan janji Allah tentang hari kebangkitan.
5. Mempersiapkan amal saleh
Keyakinan terhadap hari kebangkitan harus mendorong manusia untuk memperbanyak ibadah, menjaga akhlak, berbuat baik, dan menjauhi perbuatan dosa.
G. Kesimpulan
Air hujan dalam QS. Fāṭir ayat 9, QS. Az-Zukhruf ayat 11, dan QS. Qāf ayat 11 merupakan salah satu perumpamaan yang sangat mendalam tentang kekuasaan Allah SWT dalam menghidupkan kembali sesuatu yang sebelumnya mati.
Ketiga ayat tersebut mengajarkan bahwa bumi yang kering dan tandus dapat kembali hidup setelah turun hujan. Demikian pula manusia yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan kembali oleh Allah SWT pada hari kiamat.
Ada tiga ungkapan Al-Qur'an yang menjadi inti pembahasan:
كَذٰلِكَ النُّشُوْرُ QS. Fāṭir: 9
Demikianlah kebangkitan.
كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ QS. Az-Zukhruf: 11
Seperti itulah kamu akan dikeluarkan dari kubur.
كَذٰلِكَ الْخُرُوْجُ QS. Qāf: 11
Seperti itulah kebangkitan dari kubur.
Pesan utama:
Jangan pernah meragukan hari kebangkitan. Jika Allah mampu menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan, maka Allah Mahakuasa membangkitkan seluruh manusia dari kuburnya untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.
H. Daftar Kitab dan Referensi
Berikut beberapa rujukan ilmiah yang dapat digunakan untuk memperdalam pembahasan:
1. Ibnu Katsir, Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Aẓīm, tafsir QS. Fāṭir: 9, QS. Az-Zukhruf: 11, dan QS. Qāf: 11.
2. Ath-Thabari, Jāmi‘ Al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy Al-Qur’ān.
3. Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām Al-Qur’ān.
4. Abdurrahman As-Sa'di, Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān.
5. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah.
6. Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Tafsirnya.
Penutup
Dari pembahasan ini dapat dipahami bahwa hujan bukan hanya membawa kesuburan dan kehidupan bagi bumi, tetapi juga menjadi tanda kebesaran Allah SWT yang mengingatkan manusia tentang kepastian hari kebangkitan.
Ketika melihat hujan turun, hendaknya kita tidak hanya bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah, tetapi juga mengingat bahwa suatu hari nanti seluruh manusia akan dibangkitkan dan kembali menghadap kepada-Nya.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Redaksi: Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "AIR HUJAN SEBAGAI PERUMPAMAAN HARI KEBANGKITAN "