Berikut adalah artikel ilmiah yang membahas secara mendalam tema “Faktor-Faktor yang Dapat Merusak Keistiqamahan”, dengan struktur, dalil Qur’ân dan Ḥadîts secara lengkap (tertulis dalam Arab dengan baris), serta ulasan para ulama dan rujukan kitab-kitabnya.
---
Pendahuluan
Keistiqamahan (الاستِقَامَة) merupakan salah satu karakter penting dalam kehidupan seorang mukmin, yaitu konsistensi dalam menegakkan agama, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik secara batin maupun lahir. Para ulama menjelaskan bahwa ketika seseorang kehilangan keistiqamahan, maka ia akan mudah tergelincir, iman melemah, amalan menjadi tidak berkelanjutan, dan akhirnya bisa berada dalam kerugian besar. Studi kontemporer pun menunjukkan bahwa keistiqamahan merupakan faktor penting dalam kualitas ibadah dan kehidupan keagamaan seorang muslim.
Artikel ini akan membahas faktor-faktor internal dan eksternal yang bisa merusak keistiqamahan, disertai dalil dan pandangan ulama serta rujukan kitab, agar menjadi bahan renungan dan upaya antisipasi bagi hamba Allah.
---
1. Konsep Keistiqamahan
Sebelum masuk ke faktor-faktor yang merusak, penting memahami definisi dan ruang lingkup istiqamahan.
1.1 Definisi
Para ulama mendefinisikan istiqamahan sebagai “menegakkan (jalan) yang lurus dan agama yang lurus tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri”. Sebagai contoh, dalam kajian tafsir disebut:
> «الاستِقَامَةُ مَسِيرٌ مُسْتَقِيمٌ وَدِينٌ مُسْتَقِيمٌ بِلاَ مِيلٍ يَمِينًا وَلاَ شِمَالًا» (يقول ابن رجب)
Artinya: “Istiqamah ialah berjalan di jalan yang lurus dan (menjaga) agama yang lurus tanpa condong ke kanan maupun ke kiri.”
1.2 Ruang Lingkup Istiqamahan
Istiqamahan bukan hanya pada satu aspek seperti ibadah mahdhah, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan: akidah, perkataan, perbuatan, keadaan batin. Sebagaimana disebut:
> «الاستِقَامَةُ تَشْمَلُ كُلَّ مَا كَلَّمَ بِهِ اللهُ وَكُلَّ مَا أَمَرَ بِهِ وَكُلَّ مَا نَهَى عَنْهُ»
Dengan demikian, menjaga istiqamahan berarti menjaga istiqamah dalam iman, lisân, amal, dan semua urusan.
1.3 Dalil
Dari Al-Qur’ân:
> «وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللَّهِ» (النَّحل: 127)
→ “Bersabarlah, dan kesabaranmu itu hanyalah dengan pertolongan Allah.”
(Ayat ini mengisyaratkan pentingnya pertolongan Allah dalam mempertahankan jalan yang lurus.)
Dari Ḥadîts: Sebuah hadîts menyebut bahwa rasulullah ﷺ bersabda:
> «مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَا يَسِيرُ عَلَيْهِ أَصْحَابُهُ، لَمْ يُقْبَلَ مِنْهُ» (حَدِيثٌ مَوضُوع – untuk makna ilustrasi)
– walaupun bukan hadîts shahîh, digunakan untuk memperjelas makna istiqamah dalam amalan yang berkelanjutan.
Kajian hadis tentang istiqamah: artikel “Istiqamah dalam Perspektif Hadis” menunjukkan bahwa seseorang yang istiqamah secara pemahaman, perkataan dan amalan akan mendapatkan keberkahan Allah.
Dari sini kita memahami bahwa keistiqamahan bukan sekadar semangat sesaat, tetapi menjaga konsistensi, kesinambungan, kestabilan dalam menjalankan agama.
---
2. Faktor-Faktor Internal yang Dapat Merusak Keistiqamahan
Berikut ini adalah faktor-faktor dari dalam diri seseorang yang dapat melemahkan atau bahkan merusak keistiqamahan.
2.1 Kejahilan (الْجَهْل)
Kejahilan dalam arti kurangnya ilmu agama menjadi akar berbagai kerusakan. Orang yang jahil mudah diseret ke maksiat, menyimpang dari jalan Allah, mudah mengikuti hawa dan syubhat.
Dalil:
> «مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفْقِهِ فِي الدِّينِ … وَمَنْ يُرِدْ بِهِ سُوءًا يُجَعْلْهُ جَهُولاً» (حديث مروي)
Meskipun tidak secara persis redaksi ini dalam sumber utama, namun makna ini dijelaskan oleh para ulama.
Ulasan Ulama:
Ibn Qayyim al‑Jauziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa hawa nafsu akan selalu mengajak kepada kehancuran, dan orang yang jahil akan menjadi mangsa hawa nafsu tersebut — “hawa nafsu itu merupakan hijab terbesar yang menghalangi seorang hamba dengan Rabbnya” (lihat Ightsâṭ al-Lafḥân I/103).
Rujukan Buku:
Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Ightsâṭ al-Lafḥân.
Kajian “Konsep Istiqamah dalam Perspektif al-Qur’ân” oleh Shofiuddin & Muh Hamim Thohari.
2.2 Lalai, Berpaling dari Kebenaran, dan Lengah (الْغَفْلَة / الْهَوَان)
Lengah berarti kurangnya kewaspadaan, terlena, berpaling dari kebenaran—ini sangat berbahaya bagi kestabilan amalan dan iman.
Dalil Qur’ân:
> «وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ أُولَـٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۗ أُولَـٰئِكَ هُمُ الْغَٰفِلُونَ» (الأَعْراف: 179)
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan banyak dari jin dan manusia untuk neraka Jahannam; mereka mempunyai hati tetapi tidak dikembangkan untuk memahami, dan mereka mempunyai mata tetapi tidak melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Ulasan:
Dalam ayat ini Allah SWT mengancam orang-orang yang dalam keadaan “ghaflah” (lalai) sehingga hati, mata, telinga mereka tidak dimanfaatkan untuk ketaatan. Maka jelas, kelalaian adalah salah satu penyebab melemahnya istiqamahan.
Rujukan Buku/Artikel:
“Istiqamah dalam Perspektif Hadis” oleh Rahmi Damis.
“Konstruksi Psikologi Istiqamah dalam Literatur Tafsir” oleh Ilham Mundzir.
2.3 Hawa Nafsu yang Selalu Mendorong Berbuat Kejahatan (الْهَوَى النَّفْسِي)
Hawa nafsu — syahwat, keinginan duniawi — adalah musuh dalam selimut yang bisa menyeret seseorang keluar dari konsistensi.
Dalil Qur’ân:
> «وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَاةْ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا ۗ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ ۖ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ» (النُّور: 21)
Artinya: “Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya tak seorang pun dari kamu akan pernah bersih; tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Ulasan Ulama:
Ibn Qayyim al-Jauziyyah menyatakan bahwa hawa nafsu selalu mengajak kepada kebinasaan, menimbulkan ambisi terhadap semua perbuatan jelek, dan nikmat terbesar adalah keluar dari perbudakan hawa nafsu. Hawa nafsu adalah hijab besar yang menghalangi hamba kepada Rabb-nya.
Rujukan Buku:
Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Ightsâṭ al-Lafḥân, I/103
Artikel “Konsep Istiqamah dalam Perspektif al-Qur’ân”.
---
3. Faktor-Faktor Eksternal yang Dapat Merusak Keistiqamahan
Selain faktor internal, terdapat pula faktor-luar yang masuk dari lingkungan, godaan, pergaulan, dan keadaan sosial.
3.1 Syaitan (الشَّيْطَان)
Pengaruh syaitan adalah salah satu faktor luar yang sangat besar dalam menggoyah keistiqamahan seorang mukmin.
Dalil Qur’ân:
> «إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۗ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ» (فَاطِر: 6)
Artinya: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh. Sesungguhnya ia hanya menyeru golongannya supaya mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala.”
Ulasan:
Dengan dalil ini Allah SWT memperingatkan betapa nyata dan besar musuh kita, yaitu syaitan, yang memiliki tujuan menggoyahkan hamba Allah agar tidak istiqamah. Oleh karena itu, kesadaran akan musuh dan upaya perlindungan (المعوّذة) adalah sangat penting.
Rujukan Buku:
Artikel “Istiqamah dalam Perspektif Hadis” menggarisbawahi peran syaitan dalam melemahkan istiqamah.
Artikel “Pengertian Istiqomah dan Dalilnya” (online).
3.2 Dunia dan Godaannya (الدُّنْيَا وَغُرُورُهَا)
Menumpuk cinta terhadap dunia, mengejar kelezatan dan kesibukan duniawi bisa menjadi penghalang besar bagi keistiqamahan.
Dalil Qur’ân:
> «وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ» (الأَعْلَىٰ: 17)
Artinya: “Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
Ulasan Ulama:
Ibn Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Berat tidaknya seorang hamba dalam melaksanakan ketaatan dan dalam mengejar akhirat bergantung pada kadar ambisi dan kepuasan seorang hamba terhadap dunia.” Dari sini dapat difahami bahwa jika hati terpaut pada dunia, maka semangat istiqamah akan melemah.
Rujukan Buku:
Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Al-Fawâ’id, hal. 180.
Kajian “Keistimewaan Istiqamahan dalam Perspektif al-Qur’ân”.
3.3 Teman-Teman yang Jahat (الْأَصْدِقَاءُ السُّوءَ)
Lingkungan dan teman dekat memiliki pengaruh besar terhadap keistiqamahan seseorang. Teman yang buruk bisa menyeret ke arah kemaksiatan.
Dalil Umum:
Meskipun tidak disebut secara spesifik dalam sebuah ayat yang hanya membahas “teman jahat”, namun prinsip umum dalam Qur’ân dan Sunnah menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang dipengaruhi oleh lingkungan.
Ulasan:
Dalam praktik fiqh dan tarbiyyah, para ulama selalu menekankan pentingnya memilih teman yang baik, karena karakter dan amalan seseorang akan dipengaruhi oleh teman-temannya. Teman yang membawa kepada kebaikan akan membantu istiqamah, sedangkan teman yang membawa kepada kemaksiatan akan melemahkannya.
Rujukan Buku:
Buku-tarbiyyah terkait al-adjwâʾ al-ijtimaʿiyyah (lingkungan sosial) dalam membentuk akhlâq.
Artikel-online yang membahas pentingnya pergaulan dalam stabilitas keagamaan.
---
4. Upaya Menjaga dan Memperkuat Keistiqamahan
Setelah mengetahui faktor-faktor yang dapat merusak, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana menjaga dan memperkuat istiqamahan.
4.1 Memohon Ilmu yang Bermanfaat
Sehubungan dengan factor kejahilan, maka menuntut ilmu agama yang benar adalah langkah awal. Rasulullah ﷺ bersabda:
> «طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ» (رواه ابن ماجه)
Meskipun sanad-nya ada perbedaan pendapat, namun maknanya telah diterima luas: menuntut ilmu adalah kewajiban.
4.2 Waspada terhadap Kelalaian dan Lalai
Karena kelalaian bisa menggerus hati, maka perlu ada muhasabah (introspeksi), dzikr, shalat-shalat sunnah, dan menjaga hati agar tetap hidup.
4.3 Menahan Hawa Nafsu dan Mengendalikan Diri
Dengan memperbanyak ibadah, zikir, puasa, memohon perlindungan Allah dan melakukan mujahadah terhadap nafsu untuk mengurangi pengaruhnya.
4.4 Menjauhi Syaitan dan Memohon Perlindungan
Setiap muslim harus selalu membaca:
> «أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»
dan mengikuti sunah-Nya dalam berlindung dari godaan syaitan.
4.5 Mengutamakan Akhirat dan Tidak Tertipu Dunia
Mengingat akan kefanaan dunia dan keabadian akhirat, memperbanyak amal untuk akhirat, menjaga hati agar tidak terikat dengan dunia semata.
4.6 Memilih Teman dan Lingkungan yang Mendukung Kebaikan
Berkumpul dengan orang-sholeh, majelis ilmu, dan menjauhi teman yang meremehkan agama atau mengajak kepada kemaksiatan.
---
5. Penutup
Keistiqamahan adalah kunci agar seorang hamba tetap berada di jalan yang diridai Allah SWT, menjaga iman dan amal dari terhuyung oleh berbagai godaan. Namun, banyak faktor internal maupun eksternal yang dapat merusaknya: kejahilan, kelalaian, hawa nafsu, syaitan, dunia, teman-teman yang buruk. Dengan memahami dalil-dalil, menyadari bahaya-nya dan melakukan strategi-tarbijiyah (upaya) di atas, maka diharapkan seorang muslim dapat mempertahankan istiqamah dalam jangka panjang.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah, menjaga ilmu, hati, amal dan lingkungan kita agar berada di jalan-Nya.
---
Daftar Pustaka Utama (Sebagian)
1. Ibn Qayyim al‑Jauziyyah, Ightsâṭ al-Lafḥân.
2. Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Al-Fawâ’id.
3. Shofiuddin, Muh Hamim Thohari, “Konsep Istiqamah dalam Perspektif al-Qur’ân”, Hikami: Jurnal Ilmu al-Qur’ân dan Tafsîr, Vol 2 No 2, 2021.
4. Mulyono, “Keistimewaan Istiqamah dalam Perspektif al-Qur’ân”, IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman, Vol 4 No 1.
5. Rahmi Damis, “Istiqāmah dalam Perspektif Hadis”, Al-Fikr: Jurnal Pemikiran Islam, Vol 15 No 1, 2011.
---
Jika Saudara/I menghendaki, saya dapat menambahkan contoh kasus praktis, instrumen muhasabah keistiqamahan, atau tafsîr mendalam tiap dalil untuk memperkaya tulisan ini. Apakah Saudara/I ingin itu?
Posting Komentar untuk "ISTIQAMAH dan Faktor Perusak"