Tarbiyah Ramadhan: "ADAB LEBIH TINGGI DARI ILMU"

Adab Lebih Tinggi Dari Ilmu, by.Bustami

ADAB LEBIH TINGGI DARI ILMU: KENAPA NILAI INI MULAI HILANG?                                    (Analisis Konsep Adab dalam Islam, Teladan Ulama Salaf, dan Krisis Pendidikan Modern)

Oleh: Bustami Ahmad

Abstrak

Tulisan ini mengkaji konsep adab sebagai fondasi utama dalam tradisi pendidikan Islam. Dalam khazanah keilmuan Islam klasik, adab selalu ditempatkan sebelum ilmu karena ia menentukan keberkahan dan kemanfaatan ilmu itu sendiri. Namun realitas pendidikan modern menunjukkan adanya krisis adab, baik pada peserta didik maupun dalam kultur pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan menelaah Al-Qur’an, hadis Nabi, serta pemikiran ulama klasik seperti Imam Malik, Imam Al-Ghazali, dan Imam Az-Zarnuji. Hasil kajian menunjukkan bahwa hilangnya adab dalam dunia pendidikan disebabkan oleh pergeseran orientasi pendidikan dari pembentukan akhlak menuju orientasi akademik dan materialistik. Oleh karena itu, diperlukan revitalisasi pendidikan adab melalui integrasi kurikulum, keteladanan guru, serta penguatan pendidikan keluarga.

Kata Kunci: adab, pendidikan Islam, krisis moral, ulama salaf, pendidikan karakter.

Pendahuluan

Sejak masa awal peradaban Islam, para ulama menegaskan bahwa ilmu tidak akan membawa keberkahan tanpa adab. Bahkan banyak ulama yang menempatkan adab lebih tinggi daripada ilmu itu sendiri. Hal ini karena ilmu yang tidak disertai adab dapat menjadi sumber kerusakan, kesombongan, bahkan penyimpangan moral.

Dalam dunia pendidikan modern, fenomena krisis adab semakin tampak. Banyak siswa yang memiliki prestasi akademik tinggi tetapi menunjukkan perilaku yang kurang menghormati guru, orang tua, bahkan nilai-nilai agama. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: mengapa nilai adab yang dahulu menjadi fondasi pendidikan Islam kini mulai memudar?

Para ulama klasik telah mengingatkan pentingnya adab dalam proses pendidikan. Abdullah bin Mubarak mengatakan:

نَحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ

Artinya:

“Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”¹

Pernyataan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya ilmu yang diperoleh, tetapi juga dari kualitas adab yang dimiliki.

Konsep Adab dalam Islam

Secara bahasa, kata adab berasal dari bahasa Arab yang berarti kesopanan, kehalusan budi, dan perilaku yang baik. Dalam perspektif Islam, adab memiliki makna yang lebih luas, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya sesuai dengan ketentuan Allah.

Menurut Imam Al-Jurjani:

الأَدَبُ هُوَ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا

Artinya:

“Adab adalah menggunakan sesuatu yang terpuji baik dalam perkataan maupun perbuatan.”²

Sementara itu, Syed Muhammad Naquib Al-Attas mendefinisikan adab sebagai:

 “Pengenalan dan pengakuan terhadap tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam tatanan penciptaan.”³

Dalam Islam, adab mencakup hubungan manusia dengan:

1. Allah

2. Rasulullah

3. orang tua

4. guru

5. masyarakat

6. diri sendiri

Dengan demikian, adab bukan sekadar etika sosial, tetapi juga fondasi spiritual dalam kehidupan manusia.

Dalil Al-Qur’an tentang Adab

Salah satu ayat yang menunjukkan pentingnya adab adalah firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(QS. Al-Hujurat: 1)

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Menurut tafsir Ibn Katsir, ayat ini mengajarkan adab kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu tidak berbicara, tidak memutuskan sesuatu, dan tidak bertindak sebelum mengetahui petunjuk wahyu.⁴

Ayat ini menegaskan bahwa adab merupakan bagian dari keimanan.

Adab dalam Hadis Nabi

Rasulullah SAW menegaskan bahwa misi utama Islam adalah memperbaiki akhlak manusia.

Beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Artinya:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam pada hakikatnya adalah pendidikan akhlak dan adab.

Hadis lain menyebutkan:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Artinya:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak ulama.”

(HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan pentingnya adab dalam hubungan sosial.

Teladan Imam Malik dan Ulama Salaf

Dalam tradisi pendidikan Islam klasik, adab selalu diajarkan sebelum ilmu.

Imam Malik berkata:

تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

Artinya:

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”⁵

Ibnu Jama’ah dalam kitab Tazkirah al-Sami’ wal Mutakallim menceritakan bahwa ibu Imam Malik pernah berkata kepada anaknya:

 “Pergilah kepada Rabi’ah, pelajari adabnya sebelum ilmunya.”⁶

Ulama salaf bahkan mempelajari adab selama bertahun-tahun sebelum mempelajari ilmu.

Imam Ibn Sirin berkata:

كَانُوا يَتَعَلَّمُونَ الْهَدْيَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ

Artinya:

“Mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”⁷

Analisis Krisis Adab di Sekolah Modern

Krisis adab dalam dunia pendidikan modern dapat dilihat dari beberapa fenomena:

1. Pendidikan terlalu akademik

Banyak lembaga pendidikan hanya menilai keberhasilan siswa melalui nilai ujian, ranking, dan prestasi akademik.

Akibatnya, pendidikan karakter menjadi terpinggirkan.

Padahal menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, tujuan utama pendidikan adalah:

“Mendekatkan manusia kepada Allah dan membentuk akhlak yang mulia.”⁸

2. Hilangnya keteladanan guru

Dalam tradisi Islam, guru bukan hanya penyampai ilmu tetapi juga teladan akhlak.

Namun dalam sistem pendidikan modern, hubungan guru dan murid sering hanya bersifat administratif.

Akibatnya, proses pembentukan adab menjadi lemah.

3. Pengaruh budaya digital

Media sosial telah mengubah pola komunikasi generasi muda.

Fenomena seperti:

ujaran kebencian

penghinaan

budaya viral tanpa etika

secara tidak langsung merusak nilai-nilai adab dalam masyarakat.

Solusi Revitalisasi Pendidikan Adab

Untuk mengatasi krisis adab, diperlukan beberapa langkah strategis:

1. Integrasi adab dalam kurikulum pendidikan

Pendidikan Islam harus menempatkan akhlak sebagai inti pembelajaran, bukan sekadar pelengkap.

Konsep ini telah dijelaskan oleh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, bahwa tujuan ilmu adalah untuk memperbaiki akhlak manusia.⁹

2. Keteladanan guru

Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

(QS. Al-Ahzab: 21)

Artinya:

“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”

Guru harus menjadi teladan dalam:

kejujuran

kesabaran

kedisiplinan

kesederhanaan

3. Pendidikan adab di keluarga

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa anak memiliki hati yang bersih seperti permata yang siap dibentuk.¹⁰

Karena itu orang tua harus menanamkan adab sejak kecil melalui:

keteladanan

pembiasaan

nasihat yang lembut

Kesimpulan

Adab merupakan fondasi utama dalam pendidikan Islam. Al-Qur’an, hadis Nabi, dan tradisi ulama salaf menegaskan bahwa ilmu tanpa adab tidak akan membawa keberkahan.

Krisis adab yang terjadi dalam pendidikan modern disebabkan oleh pergeseran orientasi pendidikan yang terlalu menekankan prestasi akademik dan mengabaikan pembentukan akhlak.

Oleh karena itu, revitalisasi pendidikan adab harus dilakukan melalui integrasi kurikulum, keteladanan guru, serta penguatan pendidikan keluarga.

Dengan demikian diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga mulia dalam akhlak dan adab.

Catatan Kaki (Footnote)

1. Abdullah bin Mubarak, Kitab al-Zuhd, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

2. Al-Jurjani, At-Ta’rifat.

3. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism, Kuala Lumpur.

4. Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Azim.

5. Ibn Abd al-Barr, Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadhlih.

6. Ibn Jama’ah, Tazkirah al-Sami’ wal Mutakallim.

7. Al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala.

8. Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin.

9. Az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim.

10. Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Bab Tarbiyah al-Aulad.

Redaksi: Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "Tarbiyah Ramadhan: "ADAB LEBIH TINGGI DARI ILMU""