FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB BANJIR ( Jangan Salahkan Hujan Ekstrem )
Analisis Ilmiah-Berbasis Lingkungan dan Teologis: Jangan Salahkan Hujan, Salahkan Ulah Manusia dan Dosa-Dosanya
Inti masalah
Banjir sering disalahartikan sebagai bencana alam murni akibat hujan ekstrem. Padahal, secara ilmiah dan teologis, banjir adalah fenomena kompleks yang dominan disebabkan oleh aktivitas manusia yang merusak keseimbangan ekosistem. Artikel ini mengkaji faktor penyebab banjir dari perspektif ilmu lingkungan dan ajaran Islam, menegaskan bahwa kerusakan sistem drainase, penggundulan hutan, penyempitan sungai, tata ruang yang sembarangan, dan dosa-dosa manusia menjadi faktor utama. Dalil Al-Qur’an, hadis, serta pandangan ulama dan para ahli lingkungan digunakan untuk memperkuat argumen bahwa banjir adalah refleksi disharmoni antara manusia dan alam akibat pelanggaran terhadap hukum Allah dan sunnatullah.
Kata Kunci: Banjir, Kerusakan Lingkungan, Dosa Manusia, Islam dan Ekologi, Bencana Ekologis.
Awal kata
Dalam narasi publik, hujan deras sering dijadikan kambing hitam atas terjadinya banjir. Padahal hujan adalah rahmat Allah yang menjadi sumber kehidupan. Kehancuran terjadi ketika manusia mengabaikan amanah sebagai khalifah di bumi dan merusak sistem alam yang telah ditata seimbang.
Islam menegaskan bahwa kerusakan alam merupakan akibat langsung dari perbuatan manusia, bukan semata-mata fenomena alam.
Landasan Teologis: Bencana sebagai Akibat Perbuatan Manusia
1. Al-Qur’an: Kerusakan Disebabkan Ulah Manusia
Surah Ar-Rūm ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya:
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Isi Kandungan:
Ayat ini menegaskan bahwa bencana ekologis, termasuk banjir, adalah konsekuensi dosa struktural manusia: eksploitasi, keserakahan, dan pengabaian hukum alam.
Menurut Tafsir Al-Qurthubi, “fasad” mencakup rusaknya tatanan alam, banjir, kekeringan, dan ketidakseimbangan iklim akibat manusia.
Faktor Ilmiah Penyebab Banjir Akibat Tangan Manusia
1. Rusaknya Drainase dan Saluran Air
Saluran air yang tersumbat sampah, sedimen, dan tidak dilakukan perawatan rutin menghambat aliran air sehingga terjadi limpasan ke permukiman.
2. Penggundulan Hutan dan Penebangan Liar
Hutan berfungsi sebagai penyerap air alami (natural water catchment). Deforestasi menyebabkan air hujan tidak meresap ke tanah, melainkan mengalir deras ke hilir.
3. Penyempitan Sungai
Alih fungsi daerah bantaran sungai menjadi pemukiman menyebabkan daya tampung air menyusut drastis.
4. Tata Ruang yang Tidak Berbasis Ekologi
Pembangunan tanpa kajian AMDAL, betonisasi berlebihan serta penimbunan rawa memperparah genangan.
5. Hilangnya Daerah Resapan
Aspal dan semen menutup pori-pori tanah sehingga menghambat infiltrasi air.
Menurut Prof. Emil Salim, banjir bukan musibah alam melainkan “bencana buatan manusia (man-made disaster)” karena kesalahan tata kelola lingkungan.
Dosa Manusia dan Hubungannya dengan Bencana
Islam tidak memisahkan kerusakan lingkungan dari dimensi spiritual.
Dalil kedua:
Surah Asy-Syūrā ayat 30:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
Artinya:
Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah akibat perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
Isi Kandungan:
Banjir dapat menjadi peringatan spiritual akibat:
Keserakahan ekonomi
Korupsi proyek lingkungan
Pengabaian amanah tata ruang
Perusakan alam sebagai bentuk dosa ekologis
Imam Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa dosa kolektif dapat memicu turunnya bala sebagai teguran ilahi.
Perspektif Ulama dan Ahli
1. Ibnu Katsir
Menafsirkan Ar-Rum:41 sebagai peringatan bahwa kerusakan alam adalah tanda murka Allah terhadap manusia yang melampaui batas.
2. Quraish Shihab
Menyatakan bahwa Islam mewajibkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari iman ekologis.
3. Prof. Otto Soemarwoto (Ahli Lingkungan)
Menyebut banjir sebagai akibat langsung dari kegagalan manusia membaca keseimbangan ekosistem.
Integrasi Ilmu dan Agama
Faktor Ilmiah Perspektif Agama
Saluran tersumbat Kelalaian dan dosa amanah
Deforestasi Keserakahan dan kerusakan fasad
Tata ruang buruk Pelanggaran sunnatullah
Sampah sembarangan Tidak menjaga kebersihan (najis ekologis)
Solusi Islami dan Ilmiah
1. Restorasi hutan dan reboisasi
2. Penegakan hukum lingkungan
3. Peningkatan kesadaran ekoteologis
4. Revitalisasi drainase
5. Taubat ekologis dan etika lingkungan
Kesimpulan
Banjir bukanlah kesalahan hujan. Hujan adalah rahmat. Banjir terjadi karena manusia menghancurkan sistem alam yang telah Allah tetapkan. Jika manusia kembali pada prinsip khalifah fil ardh, menjaga, bukan merusak, maka keseimbangan akan pulih.
Daftar Rujukan
1. Al-Qur’an al-Karim
2. Tafsir Ibnu Katsir
3. Tafsir Al-Qurthubi
4. Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin
5. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an
6. Emil Salim, Pembangunan Berkelanjutan
7. Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan
8. Kementerian Lingkungan Hidup RI, Modul Bencana Ekologis
Redaksi: Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "Banjir Jangan Salahkan Hujan Ekstrem "