ISRA’ MI‘RAJ: TEGURAN LANGIT BAGI KESOMBONGAN AKAL MANUSIA
Oleh: Cik Gu ust.Bustami Ahmad S.Ag., M.Pd
Peristiwa Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad Saw bukan sekadar kisah spiritual tahunan yang diperingati secara seremonial. Ia adalah pernyataan teologis paling tegas tentang kekuasaan mutlak Allah SWT atas ruang, waktu, dan seluruh alam semesta, sekaligus teguran keras bagi kesombongan akal manusia.
Allah SWT berfirman:
سُبْحَانَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ
(QS. Al-Isrā’: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Palestina terjadi dalam satu malam, bukan mimpi dan bukan simbol. Mayoritas ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa Isra’ Mi‘raj terjadi secara jasad dan ruh dalam keadaan sadar.
Imam Ibnu Katsir menegaskan:
“Rasulullah Saw diperjalankan dengan jasad dan ruhnya, dalam keadaan terjaga, bukan mimpi.”
(Tafsir Ibn Kathir)
Melampaui Bumi, Menembus Langit
Mi‘raj bukan sekadar perjalanan bumi ke bumi, melainkan menembus tujuh lapis langit hingga Sidratul Muntaha, sebuah batas kosmik yang tidak dapat dilampaui makhluk mana pun selain Rasulullah saw atas izin Allah.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ رَءَىٰ مِنْ ءَايَـٰتِ رَبِّهِ ٱلْكُبْرَىٰ
(QS. An-Najm: 18)
Menurut Imam An-Nawawi, Sidratul Muntaha adalah:
“Tempat berakhirnya ilmu seluruh makhluk.”
(Syarh Shahih Muslim)
Ini menegaskan bahwa akal dan ilmu manusia memiliki batas, sementara kekuasaan Allah tidak.
Isyarat Alam Semesta di Luar Bumi
Al-Qur’an sejak awal telah berbicara tentang langit berlapis-lapis:
ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَـٰوَٰتٍۢ طِبَاقًۭا
(QS. Al-Mulk: 3)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa setiap langit memiliki sistem dan penghuninya sendiri. Ini sejalan dengan temuan kosmologi modern tentang luasnya alam semesta dan kemungkinan banyak planet, meski tujuan Al-Qur’an bukan membangun teori sains, melainkan meneguhkan tauhid.
Hukum Alam Tunduk kepada Allah
Sebagian orang menolak Isra’ Mi‘raj karena dianggap tidak masuk akal. Padahal, akal itu ciptaan Allah, sedangkan Isra’ Mi‘raj adalah perbuatan Allah.
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menegaskan:
“Allah adalah pencipta waktu dan tempat, maka perbuatan-Nya tidak diukur dengan hukum ciptaan-Nya.”
(Fathul Bari)
Menolak Isra’ Mi‘raj dengan alasan rasionalitas justru menunjukkan kesombongan intelektual, bukan kecerdasan iman.
Shalat: Perintah Langit yang Diremehkan
Ironisnya, dari perjalanan agung lintas alam semesta ini, Allah tidak mewajibkan kekuasaan politik atau kemajuan teknologi, tetapi shalat lima waktu.
Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diwajibkan langsung di langit, tanpa perantara wahyu di bumi.
Imam Al-Ghazali menyebut:
“Shalat adalah mi‘rajnya orang beriman.”
(Ihya’ ‘Ulumiddin)
Mereka yang mengaku beriman tetapi meremehkan shalat sejatinya sedang mengabaikan pesan utama Isra’ Mi‘raj.
Penutup
Isra’ Mi‘raj adalah teguran langit bagi manusia yang sombong dengan ilmunya, tetapi lalai dengan Tuhannya. Ia mengajarkan bahwa iman bukan sekadar percaya, melainkan tunduk dan taat.
Barang siapa menjaga shalatnya, ia sedang menjaga hubungannya dengan langit.
Barang siapa meremehkannya, ia telah memutus mi‘rajnya sendiri.
Wallahu a‘lam biṣ-ṣawab.
Redaksi: Islamic tekhno tv.com

Posting Komentar untuk "ISRA’ MI‘RAJ: TEGURAN LANGIT BAGI KESOMBONGAN AKAL MANUSIA"