HALAL BIHALAL DAN SILATURRAHMI Di TANAH ACEH

Halal bihalal di Aceh, by.Bustami Ahmad

HALAL BIHALAL DAN SILATURRAHMI: ANTARA RITUAL SOSIAL DAN KEHILANGAN MAKNA DI TANAH ACEH

Oleh: Bustami Ahmad, S.Ag., M.Pd

Setiap tahun, gema takbir Idul Fitri menggema dari meunasah hingga masjid-masjid di Aceh. Tangan-tangan saling berjabat, ucapan “mohon maaf lahir batin” mengalir deras. Tradisi halal bihalal kembali digelar, di rumah pejabat, di kantor, di gampong, di lembaga lembaga bahkan di hotel-hotel mewah.

Namun pertanyaannya:

Apakah kita benar-benar sudah “menghalalkan” satu sama lain, atau sekadar menjalankan seremoni tahunan tanpa ruh?

Silaturrahmi: Perintah Ilahi yang Mulai Tereduksi

Islam menempatkan silaturrahmi bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai kewajiban yang memiliki konsekuensi serius.

Allah berfirman:

 وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Dan peliharalah hubungan silaturrahim...” (QS. An-Nisa: 1)

Bahkan Rasulullah Saw memberikan peringatan keras:

 لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak masuk surga orang yang memutus silaturrahim.” (HR. Muslim)

Tetapi hari ini, silaturrahmi sering direduksi menjadi:

formalitas kunjungan,

foto bersama untuk media sosial,

atau ajang pencitraan politik musiman.

Nilai spiritualnya perlahan memudar.

Halal Bihalal: Kearifan Lokal atau Komoditas Sosial?

Tradisi halal bihalal memang tidak lahir dari teks klasik Islam, tetapi dari kearifan ulama Nusantara sebagai solusi sosial pasca konflik dan perbedaan.

Secara substansi, ia sejalan dengan firman Allah:

 وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Maafkanlah dan lapangkanlah...” (QS. An-Nur: 22)

Namun di era sekarang, halal bihalal mengalami pergeseran makna:

dari spiritual reconciliation menjadi agenda seremonial

dari ikhlas memaafkan menjadi sekadar basa-basi sosial

Lebih tajam lagi, di sebagian kalangan elit:

halal bihalal menjadi panggung kekuasaan

ajang konsolidasi politik

bahkan ruang transaksi kepentingan

Ini ironi.

Aceh: Antara Syariat dan Realitas Sosial

Aceh memiliki falsafah agung:

 “Hukôm ngon adat lagee zat ngon sifeut”

Namun realitas hari ini menunjukkan ketegangan antara nilai dan praktik.

Di satu sisi:

Aceh menerapkan syariat Islam

Tradisi seperti meugang, khanduri, dan peusijuk tetap hidup

Di sisi lain:

konflik sosial masih terjadi

hubungan keluarga retak karena warisan dan politik

permusuhan personal dibungkus senyum saat halal bihalal

Apakah ini silaturrahmi? Atau sekadar sandiwara sosial?

Silaturrahmi yang Hakiki: Tidak Murah dan Tidak Mudah

Silaturrahmi sejati bukan sekadar:

datang berkunjung

berjabat tangan

atau mengucapkan maaf

Tetapi:

menghapus dendam

mengakui kesalahan

memperbaiki hubungan secara nyata

Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah yang menyambung silaturrahmi itu yang membalas kebaikan, tetapi yang tetap menyambung meskipun diputus.” (HR. Bukhari)

Inilah standar tinggi yang sering kita abaikan.

Krisis Kejujuran dalam Halal Bihalal

Masalah terbesar hari ini bukan pada tradisinya, tetapi pada kejujuran hati.

Kita mengatakan:

“Maaf lahir batin”

Namun dalam hati:

masih ada iri

masih ada benci

masih ada dendam

Kita berjabat tangan, tapi tidak pernah benar-benar berdamai.

Mengembalikan Ruh Halal Bihalal

Jika Aceh ingin tetap menjadi Serambi Mekkah yang bermartabat, maka:

halal bihalal harus dikembalikan ke substansinya

silaturrahmi harus dibangun dengan keikhlasan, bukan kepentingan

Langkah konkret:

1. Mulai dari keluarga , selesaikan konflik internal

2. Jujur dalam meminta maaf ,  bukan sekadar formalitas

3. Hilangkan kepentingan politik dalam tradisi sosial

4. Perkuat nilai agama dalam adat

Penutup: Antara Tradisi dan Pertanggungjawaban Akhirat

Pada akhirnya, silaturrahmi bukan sekadar urusan dunia, tetapi urusan akhirat.

Karena:

hubungan manusia akan dipertanggungjawabkan

setiap luka hati akan dituntut

setiap kedzaliman akan dihisab

Halal bihalal bukan sekadar tradisi tahunan,

tetapi momentum spiritual untuk: membersihkan hati, menyambung kembali yang terputus, dan mendekat kepada Allah.

Jika tidak,

maka ia hanya akan menjadi: ritual tanpa makna, budaya tanpa ruh, dan agama tanpa pengamalan.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

Redaksi: Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "HALAL BIHALAL DAN SILATURRAHMI Di TANAH ACEH"