Kisah Fakta: Perjalanan Da'wah Dr.Tgk.H.Amri Fatmi, LC .,MA di Negeri Kanguru Australia
" TANTANGAN HIDUP DAN KEHIDUPAN MUSLIM DI AUSTRALIA: SEBUAH KOMPARASI DENGAN ACEH Dan INDONESIA "
Disimpulkan: Bustami Ahmad, S.Ag.,M.Pd
Pendahuluan
Dinamika kehidupan Muslim di era globalisasi menunjukkan realitas yang sangat kontras antara wilayah minoritas dan mayoritas Muslim. Pengalaman empiris yang disampaikan dalam kajian Safari Subuh oleh Dr. Tgk. H. Amri Fatmi, LC ,MA, memberikan gambaran nyata tentang kehidupan Muslim di Australia, yang sarat tantangan, sekaligus membuka perspektif baru bagi umat Islam di Aceh sebagai wilayah syariat
1. Perbandingan Kehidupan Muslim di Australia dan Aceh
a. Muslim di Australia (Minoritas)
Islam adalah agama minoritas, hidup dalam sistem sekuler.
Kebebasan beragama dijamin, tetapi praktik Islam menghadapi tantangan sosial.
Ibadah dilakukan dengan kesadaran tinggi, bukan karena tekanan sosial.
Masjid menjadi pusat komunitas, bukan sekadar tempat ibadah.
b. Muslim di Aceh (Mayoritas)
Islam menjadi identitas sosial dan sistem hukum melalui penerapan syariat.
Praktik ibadah relatif lebih mudah dan didukung lingkungan.
Namun, tantangan muncul dalam bentuk formalitas agama tanpa penghayatan mendalam.
Analisis: Muslim di Australia diuji dengan keimanan eksistensial, sementara di Aceh diuji dengan keikhlasan dan konsistensi. Ini sesuai dengan firman Allah:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan...”
(QS. Al-Baqarah: 155)
2. Persatuan Muslim Migran Indonesia dan Aceh di Australia
Di Australia, komunitas Muslim Indonesia, termasuk Aceh, menunjukkan solidaritas yang kuat:
Terbentuknya organisasi keislaman dan komunitas diaspora.
Pengajian rutin, Safari Dakwah, dan kegiatan sosial.
Masjid menjadi pusat ukhuwah lintas suku dan daerah.
Fenomena ini mencerminkan hadis Rasulullah SAW:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Analisis: Justru dalam keterasingan, ukhuwah Islamiyah semakin kuat. Ini menjadi pelajaran bagi masyarakat Aceh agar tidak terjebak dalam sekat sosial dan politik lokal.
3. Kehidupan Ekonomi Pekerja di Australia
Fakta di Australia
Upah tinggi dan sistem kerja profesional.
Disiplin waktu dan etos kerja sangat dijunjung tinggi.
Tidak ada toleransi terhadap kemalasan atau pelanggaran aturan.
Perbandingan dengan Aceh
Peluang ekonomi lebih terbatas.
Budaya kerja masih dipengaruhi faktor sosial dan kultural.
Produktivitas belum optimal.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang bekerja, ia menyempurnakannya.”
(HR. Thabrani)
Analisis: Muslim di Australia sukses bukan karena sistem semata, tetapi karena mereka mempraktikkan nilai Islam seperti disiplin, amanah, dan profesionalitas—yang ironisnya sering diabaikan di negeri Muslim sendiri.
4. Pendidikan dan Peradaban Anak Muslim di Australia
Tantangan Utama
Sistem pendidikan sekuler.
Pengaruh budaya liberal.
Risiko degradasi identitas keislaman generasi muda.
Kekhawatiran Orang Tua
Ketika kembali ke Indonesia:
Anak mengalami “culture shock”.
Perbedaan nilai agama dan sosial.
Potensi melemahnya akhlak Islami.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”
(QS. At-Tahrim: 6)
Analisis: Pendidikan iman harus menjadi prioritas utama. Lingkungan boleh berbeda, tetapi aqidah harus tetap kokoh. Orang tua memegang peran sentral dalam membangun benteng spiritual anak.
5. Legalitas Tanah dan Perspektif Islam tentang Kepemilikan Alam
a. Perspektif Suku Asli Australia
Dalam kajian disebutkan tentang konsep tanah suci yang dijaga oleh komunitas lokal (disebut dalam kajian sebagai “Abu Ridik”, kemungkinan merujuk pada suku Aborigin):
Tanah dianggap warisan leluhur yang sakral.
Tidak boleh dieksploitasi sembarangan.
Memiliki nilai spiritual tinggi.
b. Perspektif Islam
Islam memandang bumi sebagai amanah dari Allah untuk seluruh manusia:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dialah Allah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu.”
(QS. Al-Baqarah: 29)
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Rasulullah SAW bersabda:
الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ... فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي الدُّنْيَا
“Dunia itu hijau dan indah... maka bertakwalah kepada Allah dalam mengelolanya.”
(HR. Muslim)
Analisis Komparatif
Suku asli menjaga tanah karena warisan leluhur.
Islam menjaga bumi karena amanah dari Allah.
Kesimpulan penting: Islam lebih universal, tanah bukan hanya milik satu kaum, tetapi amanah bagi seluruh manusia untuk dimakmurkan, bukan dirusak.
Kesimpulan Umum
1. Muslim di Australia menghadapi ujian berat sebagai minoritas, namun menunjukkan kualitas keimanan yang tinggi.
2. Persatuan umat Islam di diaspora justru lebih kuat dibandingkan di daerah mayoritas.
3. Etos kerja di Australia mencerminkan nilai Islam yang sejati: disiplin, amanah, dan profesional.
4. Tantangan terbesar adalah menjaga aqidah dan akhlak generasi muda.
5. Konsep kepemilikan tanah dalam Islam bersifat universal dan berorientasi pada kemakmuran, bukan eksploitasi.
Penutup (Refleksi Tajam)
Realitas ini menjadi cermin bagi umat Islam di Aceh:
jangan sampai hidup dalam “lingkungan Islam”, tetapi kehilangan “ruh Islam”.
Apa yang diperjuangkan Muslim minoritas di Australia, justru sering dilalaikan oleh Muslim mayoritas.
Pertanyaannya:
Apakah kita di Aceh sudah benar-benar hidup sebagai Muslim, atau hanya tinggal di wilayah yang berlabel Islam.
Redaksi: Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "FAKTA TANTANGAN HIDUP DAN KEHIDUPAN MUSLIM DI AUSTRALIA "