Editorial
MENCARI RIDHA ALLAH DI TENGAH KRISIS MORAL MODERN ( Antara Simbol Keagamaan dan Substansi Kehidupan )
Oleh: ust.Bustami Ahmad, S.Ag.,M.Pd
Di awal perkataan
Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang kian deras, umat Islam dihadapkan pada satu krisis yang tidak kasat mata namun sangat mendasar: krisis orientasi spiritual. Di satu sisi, ekspresi keagamaan tampak semakin semarak; simbol-simbol Islam hadir di ruang publik, ritual keagamaan meningkat, dan narasi religius kian menguat. Namun di sisi lain, realitas sosial justru memperlihatkan gejala sebaliknya: meningkatnya praktik ketidakjujuran, ketidakadilan, serta lunturnya integritas moral.
Pertanyaan mendasar pun muncul: dimanakah sebenarnya posisi ridha Allah dalam kehidupan umat saat ini? Apakah ia benar-benar menjadi tujuan utama, atau sekadar jargon yang kehilangan makna substantif?
Allah SWT telah menegaskan:
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(QS. At-Taubah: 72)
Artinya:
“Keridhaan Allah itu lebih besar; itulah kemenangan yang agung.”
Ayat ini menegaskan bahwa ridha Allah adalah puncak dari segala tujuan hidup. Namun dalam praktiknya, orientasi ini sering kali tergeser oleh kepentingan duniawi.
Reduksi Makna Keberagamaan
Fenomena yang mengemuka saat ini adalah terjadinya reduksi makna keberagamaan. Agama kerap dipahami secara parsial—terbatas pada ritual formal dan simbol-simbol lahiriah—tanpa diiringi transformasi moral yang substantif.
Padahal Al-Qur’an secara tegas menekankan pentingnya keikhlasan sebagai fondasi utama ibadah:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Artinya:
“Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan.”
Dalam konteks ini, keikhlasan bukan sekadar aspek spiritual individual, melainkan juga prinsip etis yang harus mewarnai seluruh dimensi kehidupan, termasuk dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik.
Diskrepansi Antara Ibadah dan Moralitas Sosial
Salah satu persoalan mendasar yang dihadapi umat adalah adanya kesenjangan antara intensitas ibadah ritual dengan kualitas moralitas sosial. Tidak sedikit individu yang secara ritual tampak religius, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari justru terlibat dalam tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Rasulullah SAW telah mengingatkan:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa nilai suatu amal tidak hanya ditentukan oleh bentuk lahiriahnya, tetapi terutama oleh niat dan integritas batinnya.
Lebih jauh, Islam menempatkan akhlak sebagai indikator utama kualitas keimanan. Ketika ibadah tidak melahirkan kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab sosial, maka patut dipertanyakan kedalaman pemahaman keagamaan yang dianut.
Ridha Allah dalam Perspektif Sosial
Ridha Allah tidak dapat dilepaskan dari dimensi sosial kehidupan manusia. Ia tidak hanya dicapai melalui hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga melalui hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas).
Rasulullah SAW bersabda:
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
Artinya:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa ridha Allah memiliki dimensi konkret dalam kehidupan sosial, dimulai dari unit terkecil: keluarga.
Dalam skala yang lebih luas, prinsip ini mencakup keadilan sosial, amanah dalam kepemimpinan, serta komitmen terhadap kebenaran dalam setiap aspek kehidupan.
Tantangan Modernitas: Materialisme dan Krisis Nilai
Modernitas membawa berbagai kemajuan, namun juga menghadirkan tantangan serius berupa menguatnya materialisme dan pragmatisme. Dalam banyak kasus, keberhasilan diukur semata-mata dari aspek material: kekayaan, jabatan, dan kekuasaan.
Padahal Al-Qur’an telah memberikan peringatan tegas:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا
(QS. Al-Qashash: 83)
Artinya:
“Negeri akhirat itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi.”
Ayat ini menegaskan bahwa orientasi hidup yang berlebihan pada dunia dapat menjadi penghalang utama dalam meraih ridha Allah.
Perspektif Ulama: Integrasi Iman dan Amal
Para ulama klasik telah lama menekankan pentingnya integrasi antara iman, ilmu, dan amal dalam meraih ridha Allah.
Imam Al-Ghazali menegaskan dalam Ihya Ulumuddin bahwa keikhlasan merupakan inti dari seluruh amal ibadah, dan tanpa keikhlasan, amal kehilangan nilainya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij As-Salikin menyatakan bahwa ridha Allah dicapai melalui kesesuaian antara kehendak manusia dengan kehendak Allah.
Imam An-Nawawi menekankan pentingnya konsistensi dalam amal dan menjaga niat sebagai kunci diterimanya ibadah.
Pandangan-pandangan ini menunjukkan bahwa ridha Allah bukanlah konsep abstrak, melainkan hasil dari proses spiritual dan moral yang berkelanjutan.
Penutup: Mengembalikan Orientasi Kehidupan
Editorial ini menegaskan bahwa krisis utama yang dihadapi umat bukanlah krisis ritual, melainkan krisis makna. Ridha Allah telah bergeser dari tujuan utama menjadi sekadar retorika.
Untuk itu, diperlukan upaya serius untuk mengembalikan orientasi kehidupan kepada nilai-nilai fundamental Islam:
1. Menjadikan keikhlasan sebagai landasan utama setiap amal
2. Mengintegrasikan ibadah ritual dengan tanggung jawab sosial
3. Menegakkan kejujuran dan keadilan dalam seluruh aspek kehidupan
4. Mengendalikan orientasi materialistik yang berlebihan
Pada akhirnya, ridha Allah bukanlah sesuatu yang dapat dimanipulasi oleh simbol atau retorika. Ia hanya dapat diraih melalui ketulusan, integritas, dan konsistensi dalam menjalani ajaran Islam secara menyeluruh.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
(QS. Al-Fajr: 27–28)
Artinya:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”
(Editorial rubrik opini media nasional dengan fokus isu keagamaan, sosial, dan moralitas publik.)
Redaksi: Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "MENCARI RIDHA ALLAH DI TENGAH KRISIS MORAL MODERN"