MAKNA DAN LEVEL CINTA DALAM PERJALANAN HIDUP MANUSIA
Kajian Ilmiah Berdasarkan Al-Qur'an, Hadis Nabi saw, dan Pandangan Ulama Tasawuf
Oleh ust. Bustami Ahmad
Inti pembahasan
Cinta merupakan fitrah yang Allah tanamkan dalam diri setiap manusia. Seluruh aktivitas manusia, baik ibadah, keluarga, pendidikan, ekonomi, maupun perjuangan, pada hakikatnya digerakkan oleh cinta. Dalam Islam, cinta bukan sekadar perasaan, melainkan kekuatan ruhani yang menghubungkan manusia dengan dirinya, sesama makhluk, dan akhirnya dengan Allah SWT. Artikel ini mengkaji makna cinta melalui empat tahapan konseptual, yaitu Aku, Kami, Kita, dan Dia, sebagai gambaran perjalanan penyucian jiwa menuju mahabbah kepada Allah. Kajian ini disusun berdasarkan Al-Qur'an, hadis-hadis sahih, serta pandangan para ulama klasik seperti Imam Al-Ghazali, Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Imam al-Qusyairi, Imam an-Nawawi, dan Ibnu 'Athaillah as-Sakandari.
A. Pengertian Cinta dalam Islam
Kata cinta dalam Islam dikenal dengan istilah Mahabbah (المحبة).
Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam kitab Ihya' Ulumiddin:
"Mahabbah adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang dianggap sempurna dan membawa kenikmatan."
Menurut Ibn Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin, seluruh ibadah pada hakikatnya dibangun di atas cinta kepada Allah.
Allah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
Artinya:
"Di antara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah."
(QS. Al-Baqarah: 165)
Kandungan ayat
Cinta adalah fitrah manusia.
Puncak cinta orang beriman hanyalah kepada Allah.
Semua cinta dunia harus berada di bawah cinta kepada Allah.
B. Level Pertama: AKU (الأنا)
Makna; Tahap ini adalah fase manusia masih berpusat kepada dirinya sendiri.
Aku memikirkan: keinginanku, ambisiku, hartaku, kehormatanku. Dalam tasawuf disebut Nafs Ammarah.
Allah berfirman:
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
Artinya:"Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan."
(QS. Yusuf: 53)
Kandungan; Ego masih dominan.Kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan orang lain.
Cinta masih bersifat duniawi.
Menurut Imam Al-Ghazali:
"Musuh terbesar manusia bukanlah syaitan, tetapi hawa nafsunya sendiri.
C. Level Kedua: KAMI (نحن الصغيرة)
Setelah ego mulai dikendalikan, manusia belajar mencintai keluarga.
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
Artinya:
"Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan agar kamu memperoleh ketenangan, dan Dia menjadikan di antara kalian kasih sayang."(QS. Ar-Rum:21)
Kandungan; Cinta berkembang menjadi:
keluarga
suami istri
anak-anak
sahabat
Hadis Rasulullah saw « خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ »
Artinya:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya." (HR. At-Tirmidzi)
D. Level Ketiga: KITA (الأمة)
Pada tahap ini cinta meluas kepada masyarakat.
Allah berfirman: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat:10)
Hadis Nabi saw
« لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ »
Artinya:
"Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kandungan: Peduli kepada masyarakat. Rela berkorban.Tolong-menolong.Dakwah.Amar ma'ruf nahi munkar.
E. Level Keempat: DIA (هُوَ)
Tahap tertinggi adalah seluruh cinta kembali kepada Allah.
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
Artinya:
"Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian."
(QS. Ali 'Imran:31)
Hadis Qudsi:
« وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ »
Artinya:
"Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya."
(HR. Al-Bukhari)
Kandungan Pada tahap ini:
Semua dilakukan karena Allah.
Dunia tidak lagi menjadi tujuan utama.
Hati dipenuhi keikhlasan, syukur, sabar, dan tawakal.
Cinta kepada makhluk menjadi jalan menuju cinta kepada Allah, bukan pengganti-Nya.
Menurut Ibn Qayyim dalam Madarijus Salikin, mahabbah kepada Allah merupakan maqam tertinggi yang melahirkan kerinduan, keikhlasan, dan ketaatan.
F. Pandangan Para Ulama
1. Imam Al-Ghazali (Ihya' Ulumiddin)
Cinta kepada Allah adalah buah dari ma'rifat. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin besar cintanya kepada-Nya.
2. Ibn Qayyim al-Jauziyyah (Madarijus Salikin)
Seluruh perjalanan ruhani bertumpu pada cinta. Rasa takut dan harapan harus diseimbangkan dengan mahabbah.
3. Imam al-Qusyairi (Ar-Risalah al-Qusyairiyyah)
Mahabbah adalah keadaan hati yang mengutamakan kehendak Allah di atas kehendak diri sendiri.
4. Ibnu 'Athaillah as-Sakandari (Al-Hikam)
Keikhlasan dan cinta kepada Allah akan menghilangkan ketergantungan hati kepada selain-Nya.
G. Analisis Psikologi Spiritual
Empat level ini dapat dipahami sebagai perkembangan ruhani :
Level Aku : Orientasi nya; Diri sendiri Ego, karakternya ; hawa nafsu
Level Kami : Orientasi nya; Keluarga Kasih sayang, karakternya; tanggung jawab
Level Kita: Orientasi nya; Masyarakat Empati, ukhuwah, karakter nya ; pengabdian
Level Dia: orientasi nya; Allah SWT Ikhlas, karakter nya; mahabbah, ma'rifat, ridha
H. Kesimpulan
Cinta dalam Islam adalah perjalanan penyucian hati dari ego menuju penghambaan kepada Allah SWT. Konsep Aku, Kami, Kita, dan Dia dapat dijadikan kerangka pendidikan akhlak dan tasawuf untuk menggambarkan perluasan orientasi cinta: dari kepentingan diri, kepada keluarga, masyarakat, hingga cinta tertinggi kepada Allah. Meskipun istilah empat level tersebut bukan berasal langsung dari Al-Qur'an atau hadis, substansinya sejalan dengan prinsip-prinsip syariat apabila dipahami sebagai pendekatan konseptual. Puncak perjalanan seorang mukmin adalah ketika seluruh cintanya berada di bawah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga setiap amal menjadi ikhlas dan bernilai ibadah.
Daftar Pustaka
1. Al-Qur'an al-Karim.
2. Sahih al-Bukhari.
3. Sahih Muslim.
4. Ihya' Ulum al-Din.
5. Madarij al-Salikin.
6. Ar-Risalah al-Qusyairiyyah.
7. Al-Hikam.
8. Riyadh al-Salihin.
Redaksi Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "Level Cinta Dalam Perjalanan Hidup"