TASYU'A DAN ‘ASYURA 1448 H: PERSPEKTIF ISLAM DAN ADAT BUDAYA ACEH
Oleh: ust. Bustami Ahmad, S.Ag., M.Pd
Bale Tambeh, Seulanyan, 7 Hasan-Husen (Sa-Usen) 1448 TH bertepatan dengan 7 Muharram 1448 H / 22 Juni 2026 M
Pendahuluan
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Dalam kalender Islam, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram (bulan suci) yang memiliki keutamaan khusus. Pada bulan ini terdapat dua hari yang sangat istimewa, yaitu Hari Tasyu'a (9 Muharram) dan Hari ‘Asyura (10 Muharram).
Bagi umat Islam, kedua hari tersebut memiliki nilai ibadah yang tinggi, terutama dengan melaksanakan puasa sunnah. Sementara dalam kehidupan masyarakat Aceh, Hari ‘Asyura juga berkembang menjadi bagian dari tradisi budaya dan sosial keagamaan melalui pelaksanaan Khanduri ‘Asyura, yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kajian ini mencoba menguraikan makna Tasyu'a dan ‘Asyura dari perspektif Islam serta bagaimana tradisi tersebut hidup dalam adat budaya Aceh.
I. Pengertian Tasyu'a dan ‘Asyura
1. Hari Tasyu'a
Tasyu'a berasal dari kata Arab:
التَّاسُوعَاءُ
yang berarti hari kesembilan bulan Muharram.
Hari ini dianjurkan untuk berpuasa sebagai penyempurna puasa ‘Asyura.
2. Hari ‘Asyura
‘Asyura berasal dari kata:
عَاشُورَاءُ
yang berarti hari kesepuluh bulan Muharram.
Hari ini memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah para nabi dan umat Islam.
II. Dasar Al-Qur'an Tentang Kemuliaan Muharram
Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Artinya:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)
Menurut para mufassir, empat bulan haram tersebut adalah:
1. Dzulqa'dah
2. Dzulhijjah
3. Muharram
4. Rajab
Kitab rujukan:
Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Al-Qurthubi
III. Keutamaan Puasa ‘Asyura
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya:
"Puasa pada hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang lalu."
(HR. Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah penghapusan dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.
Rujukan:
Shahih Muslim
Syarah Shahih Muslim
IV. Hikmah Puasa Tasyu'a dan ‘Asyura
Ketika Rasulullah SAW mengetahui kaum Yahudi berpuasa pada 10 Muharram sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dari Fir'aun, beliau bersabda:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
Artinya:
"Jika aku masih hidup tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan."
(HR. Muslim)
Karena itu para ulama menganjurkan:
1. Puasa 9 dan 10 Muharram.
2. Atau 10 dan 11 Muharram.
3. Atau 9,10,11 Muharram sekaligus.
Pendapat ini dijelaskan oleh:
Imam An-Nawawi
Ibnu Hajar Al-Asqalani
Ibnu Taimiyah
V. Tragedi Karbala dan Syahidnya Sayyidina Husain RA
Pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah terjadi tragedi besar dalam sejarah Islam, yaitu syahidnya cucu Rasulullah SAW:
Husain bin Ali
di wilayah:
Karbala
bersama keluarga dan para sahabatnya.
Peristiwa ini merupakan salah satu tragedi paling menyedihkan dalam sejarah Islam.
Mayoritas ulama Ahlussunnah memandang bahwa:
Husain RA adalah syuhada yang mulia.
Umat Islam wajib mencintai Ahlul Bait.
Tidak dibenarkan meratap berlebihan.
Tidak dibenarkan menyakiti diri sendiri sebagai bentuk peringatan.
Pandangan ini dijelaskan dalam:
Al-Bidayah wan Nihayah
Tarikh Ath-Thabari
VI. Khanduri ‘Asyura Dalam Tradisi Aceh
Sejarah Budaya
Sebagaimana dicatat oleh Hasballah Saad dalam tulisannya tentang Khanduri Aceh, masyarakat Aceh mengenal tradisi:
Khanduri ‘Asyura
yang dilaksanakan di:
Meunasah
Surau
Dayah
Masjid
Tradisi ini dilakukan melalui:
1. Membawa makanan bersama.
2. Doa bersama.
3. Santunan fakir miskin dan anak yatim.
4. Pembacaan Hikayat Hasan-Husen.
5. Makan bersama seluruh masyarakat.
Tradisi tersebut mencerminkan:
Nilai Sosial
Ukhuwah Islamiyah.
Persaudaraan masyarakat.
Gotong royong.
Nilai Pendidikan
Mengenalkan sejarah Islam.
Mengenalkan kecintaan kepada Ahlul Bait.
Nilai Keagamaan
Syukur kepada Allah.
Doa bersama.
Sedekah dan berbagi rezeki.
VII. Analisis Tradisi Khanduri ‘Asyura Menurut Syariat
Dalam kaidah fikih dikenal prinsip:
الْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ
"Adat kebiasaan yang baik dapat dijadikan pertimbangan hukum."
Selama tradisi:
Tidak bertentangan dengan Al-Qur'an.
Tidak bertentangan dengan Sunnah.
Tidak mengandung syirik.
Tidak mengandung kemaksiatan.
maka dapat diterima sebagai bagian dari budaya Islam.
Karena itu Khanduri ‘Asyura di Aceh dapat dipahami sebagai:
1. Media silaturahmi.
2. Sarana dakwah.
3. Bentuk syukur kepada Allah.
4. Sarana mengenang sejarah Islam.
Namun inti utama Hari ‘Asyura tetaplah:
Puasa.
Zikir.
Sedekah.
Membaca Al-Qur'an.
Memperbanyak amal saleh.
VIII. Zikir dan Doa Hari ‘Asyura
Tidak terdapat doa khusus ‘Asyura yang sahih dan wajib dibaca. Namun para ulama membolehkan memperbanyak doa dan zikir berikut:
Istighfar
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Artinya:
"Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertaubat kepada-Nya."
Tasbih
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Shalawat
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Doa Keselamatan
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya:
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201)
IX. Hikmah ‘Asyura Bagi Masyarakat Aceh
Hari ‘Asyura mengajarkan beberapa nilai penting:
1. Kesabaran menghadapi ujian.
2. Keteguhan mempertahankan kebenaran.
3. Kecintaan kepada Rasulullah SAW dan Ahlul Bait.
4. Pentingnya persatuan umat.
5. Semangat berbagi kepada fakir miskin dan anak yatim.
6. Menjaga adat yang selaras dengan syariat.
Dalam falsafah Aceh dikenal ungkapan:
"Adat bak Poteumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana."
Artinya, adat dan agama harus berjalan seiring sehingga budaya menjadi sarana memperkuat nilai-nilai Islam.
Kesimpulan
Hari Tasyu'a (9 Muharram) dan Hari ‘Asyura (10 Muharram) merupakan momentum penting dalam Islam yang sarat dengan nilai ibadah, sejarah, dan pendidikan spiritual. Puasa Tasyu'a dan ‘Asyura adalah sunnah Rasulullah SAW yang memiliki keutamaan besar, yaitu penghapusan dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu.
Dalam konteks Aceh, tradisi Khanduri ‘Asyura merupakan warisan budaya Islam yang mengandung nilai ukhuwah, sedekah, dan penghormatan terhadap sejarah Islam, khususnya kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi SAW. Tradisi tersebut dapat terus dilestarikan selama tetap berada dalam koridor syariat Islam dan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan aqidah serta tuntunan Rasulullah SAW.
Semoga Allah SWT menjadikan bulan Muharram sebagai momentum muhasabah, memperbanyak amal saleh, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh orang-orang saleh. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Daftar
Rujukan
1. Al-Qur'an Al-Karim.
2. Shahih Al-Bukhari.
3. Shahih Muslim.
4. Tafsir Ibnu Katsir.
5. Tafsir Al-Qurthubi.
6. Al-Bidayah wan Nihayah.
7. Tarikh Ath-Thabari.
8. Tulisan Dr. Hasballah Saad, Khanduri Aceh: Jenis dan Ragamnya, Serambi Indonesia, 30 Desember 2007.
9. Kitab-kitab fikih mazhab Syafi'i tentang puasa sunnah Muharram dan ‘Asyura.
Redaksi: Islamic tekhno tv com
Posting Komentar untuk "TASYU'A DAN ‘ASYURA PERSPEKTIF ISLAM DAN ADAT BUDAYA ACEH"