Bagian ke III " WASIAT RASULULLAH "

Berpegang teguh pada Al Qur'an dan Sunnah

Bagian ke III

WASIAT RASULULLAH Saw  TENTANG BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR'AN DAN SUNNAH SERTA KEUTAMAAN EMPAT BULAN HARAM

Dirangkum : ust Bustami Ahmad,S.Ag.,M.Pd

A. Wasiat Rasulullah Saw  Agar Berpegang Teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah

Di antara pesan terpenting dalam Haji Wada', Rasulullah Saw  mengingatkan umat agar tidak menyimpang dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah Saw  bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللّٰهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ Artinya:

"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya."

(Hadis diriwayatkan dalam Al-Muwaṭṭa' karya Imam Malik, dan maknanya dikuatkan oleh hadis-hadis lain tentang kewajiban mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah.)

Allah Ta'ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya:

"Berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Āli 'Imrān: 103)

Kandungan Ayat

Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup dan menjauhi perpecahan yang lahir dari fanatisme, hawa nafsu, dan permusuhan.

B. Larangan Kembali kepada Kekafiran dengan Saling Membunuh

Rasulullah Saw  bersabda:

لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

Artinya:

"Janganlah kalian kembali menjadi seperti orang-orang kafir sepeninggalku dengan saling membunuh satu sama lain."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hikmah

Rasulullah Saw memperingatkan agar umat Islam tidak terjerumus ke dalam permusuhan, pertumpahan darah, dan peperangan yang merusak persatuan. Perselisihan hendaknya diselesaikan dengan keadilan, musyawarah, dan tuntunan syariat.

C. Persamaan Seluruh Manusia

Dalam khutbahnya Rasulullah Saw  menegaskan bahwa semua manusia berasal dari satu asal yang sama. Beliau bersabda:

لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِأَعْجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى

Artinya:

"Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas Arab, tidak pula yang berkulit merah atas yang berkulit hitam, dan tidak pula yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, kecuali karena ketakwaan."

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya:

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."

(QS. Al-Ḥujurāt: 13)

Penjelasan Ulama

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari keturunan, suku, warna kulit, atau kekayaan, melainkan dari ketakwaannya kepada Allah.

D. Penjelasan Tentang Empat Bulan Haram (الأشهر الحرم)

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ Artinya:

"Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah adalah dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu."

(QS. At-Taubah: 36)

Rasulullah Saw  bersabda:

«إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ» Artinya:

"Sesungguhnya satu tahun terdiri atas dua belas bulan. Di antaranya terdapat empat bulan haram, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

E. Hikmah Empat Bulan Haram

Para ulama menjelaskan bahwa empat bulan haram memiliki berbagai hikmah, antara lain:

1. Bulan yang dimuliakan oleh Allah sejak penciptaan langit dan bumi.

2. Larangan memperbanyak kezaliman dan dosa.

3. Anjuran memperbanyak taubat, istigfar, zikir, sedekah, puasa sunnah, dan amal saleh.

4. Momentum menjaga keamanan sehingga manusia dapat menunaikan ibadah haji dan umrah dengan tenang.

5. Pendidikan ruhani agar umat Islam menghormati waktu-waktu yang dimuliakan Allah.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa larangan menzalimi diri pada bulan-bulan haram berlaku sepanjang tahun, namun penekanannya lebih besar pada bulan-bulan tersebut karena kemuliaannya.

Imam An-Nawawi menerangkan bahwa amal saleh pada bulan-bulan haram memiliki keutamaan besar, sedangkan maksiat yang dilakukan pada waktu-waktu mulia lebih berat dosanya.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathā'if al-Ma'ārif menjelaskan bahwa bulan-bulan haram merupakan kesempatan istimewa untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.

F. Pelajaran bagi Umat Islam Masa Kini

Wasiat Rasulullah Saw  pada Haji Wada' tetap relevan sepanjang zaman. Umat Islam dituntut:

- Berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

- Menjaga persatuan umat dan menghindari perpecahan.

- Menghormati setiap manusia tanpa membedakan suku, ras, atau warna kulit.

- Memuliakan empat bulan haram dengan memperbanyak amal saleh dan meninggalkan segala bentuk kezaliman.

- Menjadikan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan di sisi Allah.

Referensi

1. Al-Qur'an al-Karim.

2. Shahih Al-Bukhari.

3. Shahih Muslim.

4. Imam Malik, Al-Muwaṭṭa'.

5. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim.

6. Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān.

7. Imam An-Nawawi, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.

8. Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Fatḥ al-Bārī.

9. Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathā'if al-Ma'ārif.

Redaksi: Islamic tekhno tv.com

Posting Komentar untuk "Bagian ke III " WASIAT RASULULLAH ""