Bimtek KBC dan Deep Learning: Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Cinta

Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Cinta

Bimtek KBC dan Deep Learning: Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Cinta

SIGLI, 11 Agustus 2026 

Guru Madrasah Diajak Ubah Pola Pikir dan Hadapi Peserta Didik dengan Cinta

Lebih dari 70 guru mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Deep Learning dengan tema “Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Cinta”. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi guru madrasah di Kabupaten Pidie untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus membangun pendekatan pendidikan yang lebih humanis.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pidie yang diwakili Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad), Drs. Saifuddin. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala MTsN 5 Pidie, Koordinator Pengawas (Kowas) Kabupaten Pidie, Hj. Nurainun. S.Ag., serta para guru peserta Bimtek.

Kegiatan menghadirkan dua pemateri, yakni Drs. Nopia Dorsain dan Mutia Sari, yang memberikan penguatan kepada guru terkait penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dan pembelajaran mendalam (Deep Learning) dalam proses pendidikan.

Sejak kegiatan dimulai, suasana terlihat penuh semangat. Para peserta tampak antusias menyimak materi, berdiskusi dan mengikuti berbagai arahan yang diberikan narasumber.

Dalam sambutannya, Drs. Saifuddin mengingatkan guru agar terlebih dahulu membangun pola pikir yang baik sebelum mendidik peserta didik.

Menurutnya, guru berhadapan dengan anak-anak yang memiliki karakter, kemampuan, latar belakang keluarga dan kondisi sosial yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut harus dihadapi dengan kesabaran, keteladanan dan kasih sayang.

“Guru harus berpola pikir baik dan penuh cinta terhadap anak-anak didiknya. Mereka memiliki bermacam karakter dan tingkatan sosial. Karena itu, guru harus mampu mendidik dengan hati dan memberikan perlakuan yang baik kepada semua peserta didik,” pesan Bapak Saifuddin.

Ia menegaskan, pendidikan tidak cukup hanya mengejar pencapaian akademik. Guru juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter, akhlak dan kepribadian peserta didik.

Konsep KBC dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman dan menyenangkan sehingga peserta didik tidak merasa takut dalam proses pembelajaran.

Sementara itu, Drs. Nopia Dorsain mengajak guru memahami bahwa mendidik bukan hanya menyampaikan materi pelajaran.

Guru harus mampu mengenal peserta didiknya secara lebih dekat. Setiap anak memiliki potensi dan karakter yang berbeda sehingga pendekatan pembelajaran tidak dapat diseragamkan.

“Anak-anak kita bukan sekadar angka dalam daftar nilai. Mereka adalah manusia yang memiliki hati, perasaan, harapan dan potensi yang harus dikembangkan,” menjadi semangat yang mengemuka dalam penyampaian materi tentang KBC.

Menurutnya, guru yang mengajar dengan cinta akan lebih mudah membangun hubungan positif dengan peserta didik. Teguran tetap diperlukan, tetapi harus diberikan dengan cara yang mendidik, bukan merendahkan.

Guru Harus Melek Teknologi

Pemateri lainnya, Mutia Sari, menekankan pentingnya guru meningkatkan kapasitas diri di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat.

Guru dituntut tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran yang kreatif dan menarik.

Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dapat membantu guru menyiapkan bahan ajar, media pembelajaran, asesmen dan berbagai aktivitas belajar yang lebih variatif.

Namun, teknologi tetap ditempatkan sebagai alat bantu. Peran guru sebagai pendidik, pembimbing dan teladan tidak dapat digantikan oleh teknologi.

“Guru harus terus belajar. Dunia berubah, teknologi berkembang, dan karakter peserta didik juga berubah. Karena itu, kompetensi guru harus terus ditingkatkan,” menjadi salah satu pesan penting dalam sesi tersebut.

Kowas Pidie Pantau Langsung

Sementara itu, Koordinator Pengawas Kabupaten Pidie, Hj. Nurainun, S.Ag., turut mendampingi kegiatan tersebut.

Ia tampak mengikuti secara langsung proses Bimtek, mengamati penyampaian materi oleh narasumber maupun antusiasme para guru yang menjadi peserta.

Kehadiran pengawas dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan peningkatan kompetensi guru dapat berlanjut pada penerapan nyata di madrasah.

Para peserta pun terlihat aktif mengikuti kegiatan. Suasana diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pengalaman dan persoalan pembelajaran yang muncul dari lapangan.

Bukan Sekadar Pelatihan

Bimtek KBC dan Deep Learning diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau pelatihan sesaat. Nilai-nilai yang diperoleh harus diterapkan dalam proses belajar mengajar sehari-hari.

Tema “Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Cinta” menjadi pesan kuat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, buku dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas hubungan antara guru dan peserta didik.

Guru yang memiliki ilmu akan mampu mengajar. Namun, guru yang mengajar dengan hati dan cinta diharapkan mampu menyentuh hati peserta didik, membangun karakter, menumbuhkan kepercayaan diri dan mengantarkan mereka menjadi generasi yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan pendidikan harus dimulai dari perubahan guru: mengubah cara berpikir, memperkuat kompetensi, memanfaatkan teknologi dan yang paling penting, menghadirkan cinta dalam setiap proses mendidik.

Redaksi : Islamic tekhno tv com 

Posting Komentar untuk "Bimtek KBC dan Deep Learning: Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Cinta"