Waspada Teman Makan Teman dan Solusinya

Kajian Subuh, Waspada Teman Makan Teman, 

Ilmu secara Ilmiah tentang tema “Waspada dalam Berteman Karena Terdapat Istilah Teman Makan Teman (arti: teman mengkhianati teman)”, Dan Solusinya

Kajian Subuh Dirangkumkan oleh : 

Cik Gu Bustami Ahmad , S.Ag.,M.Pd

Awal kata

Pertemanan adalah bagian penting dalam kehidupan manusia. Namun di dalam kehidupan sosial sering kita mendengar ungkapan “teman makan teman”, yaitu suatu keadaan di mana orang yang selama ini dianggap sebagai teman ternyata mengkhianati, mengecewakan atau merugikan sahabatnya sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan sosial dan pertemanan bukanlah tanpa risiko. Dari perspektif Islam, pertemanan yang salah bisa membawa seseorang ke arah kerugian dunia-akhirat. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk:

1. Menjelaskan bahaya dan realitas “teman makan teman” dari sisi sosial dan moral.

2. Memaparkan bagaimana Islam memandang kriteria dan cara memilih teman yang baik.

3. Menyajikan dalil Qur’ân dan Hadîts yang relevan serta pandangan ulama dan kitab-rujukan yang membahasnya.

Tinjauan Literatur / Dalil

1. Bahaya memilih teman yang keliru

Dalam Al-Qur’ân terdapat ayat yang memperingatkan bahwa seseorang akan menyesal pada hari kiamat karena memilih teman yang salah:

 وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ 

يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً  

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْۢ فُلَانًا خَلِيلًا

هُوَۦ لَدَيۡهِ ٱفَتَرَىٰ

Ayat 25:27-28 dari surah Al‑Furqân menggambarkan bahwa “Wahai kecelakaanlah bagiku! Seandainya aku tidak menjadikan si-fulan sebagai teman!” karena ia telunjuk ke kesesatan berdasarkan pengaruh teman. 

Ayat ini menunjukkan bahwa dinamika pertemanan dapat membawa kerugian besar jika teman tersebut memalingkan seseorang dari kebenaran.

Selain itu hadits dari Abu Hurairah ra bahwa rasulullah saw bersabda:

 «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ» (رواه أبو داود والترمذي) 

Artinya: “Seseorang (keadaannya) mengikuti agama (cara hidup) temannya; maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.” Hadits ini menegaskan bahwa teman dekat punya pengaruh besar terhadap keyakinan dan perilaku seseorang.

Sebagai ilustrasi lain, hadits dari Abu Mūsa ra:

 «مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ …» ‎ 

Teks  lengkap:

حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ، لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً».

Hadits ini memberi analogi: teman baik seperti penjual parfum (kamu setidaknya mendapat wangi yang baik), sedangkan teman buruk seperti tukang besi (bisa membakar atau menghasilkan bau buruk). Dengan demikian, pertemanan yang salah bisa membawa kerusakan moral atau spiritual.

Dari literatur ulama, misalnya dalam artikel “Konsep Memilih Teman yang Baik Menurut Hadis” dijelaskan bahwa memilih teman adalah bagian penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan. 

Juga dalam “Syarat Memilih Teman Bergaul” disebut oleh ‎Imam Al‑Ghazâlî bahwa kriteria teman yang baik meliputi: berakal, berakhlak baik, saleh, tidak tamak dunia, dan jujur. 

2. Kriteria teman yang baik dalam Islam

Berdasarkan penelitian dan kitab-rujukan, beberapa kriteria teman yang baik yang disebut ulama antara lain:

Bertakwa, taat pada Allah dan Rasulullah.

Memiliki akhlak yang baik, jujur, setia, dan tidak zalim.

Memiliki pengaruh positif terhadap keimanan dan amal.

Tidak membawa ke dalam maksiat atau perilaku buruk.

Mampu menjadi nasihat yang baik dan bukan hanya hiburan atau kerusakan.

Misalnya, artikel tentang syarat memilih teman menyebut: “berakal, berakhlak baik, saleh, tidak tamak pada dunia, dan jujur.” 

Dalam karya ‎Syekh Al‑Zarnûjî dalam kitab Ta‘lim al‑Muta‘allim juga dibahas bahwa guru/teman yang baik sangat menentukan dalam pembentukan karakter. 

3. Teman yang mendatangkan kerugian (“teman makan teman”)

Konsep teman yang khianat atau mengecewakan teman bisa dikaitkan dengan sahabat yang seharusnya saling membantu, namun justru merugikan. Dalam Islam, persahabatan yang sejati diharapkan berdasarkan ukhuwah (persaudaraan), bukan kepentingan duniawi semata. Ketika hubungan tersebut berubah menjadi “teman yang makan teman”, maka ia menyimpang dari nilai persahabatan Islam. Prinsip Islam menekankan bahwa teman yang baik bukan hanya hadir di saat senang, tapi juga mampu menjadi penyeimbang dan pengingat dalam kebaikan.

Pembahasan

1. Menghubungkan fenomena “teman makan teman” dengan perspektif Islam

Fenomena “teman makan teman” menunjukkan bahwa seseorang yang kita anggap teman, ternyata dapat menjadi bagian dari kerugian kita , secara moral, spiritual, atau sosial. Dalam kerangka Islam, ini bisa dilihat sebagai akibat dari salah memilih teman: teman yang tidak taat, tidak menasihati, atau bahkan memimpin kita ke dekadensi. Dalil-dalil di atas menyebut bahwa teman yang salah bisa membawa seseorang ke kerusakan (“burn your clothes or you will get a bad smell”). Ini menunjukkan bahwa teman yang keliru bisa mempengaruhi perilaku, nilai, bahkan agama seseorang.

Ayat 25:28-29 dari Al-Furqân secara khusus menyatakan:

 «يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْۢ فُلَانًا خَلِيلًا» ‎ 

«هُوَ لَدَيۡهِ ٱفَتَرَىٰ» ‎ 

Ini menegaskan bahwa salah mengambil teman bisa menjadi sumber penyesalan tertinggi di akhirat. Maka kesadaran akan potensi bahaya pertemanan sangat penting.

2. Prinsip memilih teman dalam Islam

Berdasarkan dalil dan ulama, berikut beberapa prinsip cara memilih teman menurut Islam:

a) Pertimbangkan agama dan akhlaknya

Hadits:

«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ» ‎ 

Artinya: “Seseorang berada di atas agama temannya; maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.”

Ini menunjukkan bahwa teman berpengaruh langsung terhadap nilai keagamaan seseorang.

b) Pilih teman yang saleh, berakhlak baik, dan jujur

Dalam syarat memilih teman disebut oleh Imam Al-Ghazâlî bahwa teman harus: berakal, berakhlak baik, saleh, tidak tamak dunia, dan jujur. 

Kriteria ini memberikan panduan agar kita tidak terbawa oleh teman yang hanya mengejar dunia, non-moral, atau bahkan khianat.

c) Hindari teman yang membawa kerusakan

Hadits dari Abu Mūsa yang sudah disebut menunjukkan bahwa teman yang buruk bisa membawa bau buruk atau kerusakan:

 «… وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً» ‎ 

Dari penafsiran: teman yang buruk bisa “membakar” (merusak) atau menyebarkan “bau” buruk (pengaruh negatif). Maka kita harus waspada terhadap teman yang akhlaknya buruk.

d) Lakukan evaluasi dan pengamatan sebelum menjalin keakraban

Ulama Syiah (dalam sanad hadits ‎Imam ‘Alī ibn Abī Ṭâlib) menyebut:

 «قَدِّمِ الْاِخْتِبَارَ وَأُجِدِ الاسْتِظْهَارَ فِي اخْتِيَارِ الإِخْوَانِ وَإِلَّا أَلْجَأَكَ الإِضْطِرَارُ إِلَى مُقَارَنَةِ الأَشْرَارِ» 

Artinya: “Lakukanlah pengujian dan usahakanlah pengamatan dalam memilih saudara/teman, atau engkau akan dipaksa dalam keharusan untuk bergaul dengan orang-jahat.”

Ini menunjukkan bahwa memilih teman tidak boleh dilakukan sembarangan, tetapi harus ada upaya introspeksi, pengamatan karakter, latar belakang, dan pengaruhnya.

e) Selamatkan diri dari teman yang hanya menguntungkan duniawi dan tidak mendukung iman

Perspektif “teman makan teman” mengingatkan bahwa jika hubungan hanyalah berdasarkan keuntungan materi atau manfaat duniawi, maka bisa berbalik menjadi kerugian. Islam mengajarkan agar ukhuwah (persaudaraan) didasari nilai takwa, bukan hanya dunia. Maka teman yang baik adalah yang mengajak kepada kebaikan, bukan sebaliknya.

3. Langkah-praktis memilih teman

Dari prinsip-prinsip di atas, berikut langkah praktis yang bisa diambil:

1. Sebelum mendekat, lihat keimanan dan ketaqwaan calon teman: Apakah dia istiqamah dalam shalat, takut pada Allah, dan menjaga akhlak?

2. Amati akhlak dan perilakunya dalam keseharian: bagaimana dia memperlakukan orang lain, berbicara, menepati janji, bertindak jujur.

3. Perhatikan pengaruhnya terhadap diri Anda: setelah bersama-dia, apakah Anda terdorong ke arah kebaikan atau sebaliknya? Apakah Anda merasa nyaman melakukan hal baik atau terbiasa hal buruk?

4. Tanyakan motivasi dalam persahabatan: Apakah hanya karena fasilitas, keuntungan, status, atau karena bersama dalam kebaikan?

5. Jika sudah menjalin persahabatan dan kemudian terlihat pengaruh buruk, maka pertimbangkan untuk meredam keakraban atau menjaga dengan batas yang sehat—selama tidak memutus ukhuwah secara kasar, kecuali jika memang bahaya nyata.

6. Rajin bermuhasabah (introspeksi diri) dan meminta pertolongan Allah agar diberikan teman yang baik dan dijauhkan dari teman yang merusak.

Penutup

Persahabatan dalam Islam adalah anugerah yang besar, tetapi juga mengandung tanggung jawab dan potensi risiko. Istilah “teman makan teman” menggambarkan bahwa teman yang kita anggap bisa saja berbalik merugikan kita — baik secara moral, spiritual, maupun sosial. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar kita memilih teman dengan sangat berhati-hati, berdasarkan kriteria keimanan, akhlak, pengaruh positif, dan pengamatan yang cermat.

Dengan memahami dan menerapkan dalil-dalil Al-Qur’ân dan Hadîts yang telah disebut serta merujuk pada pandangan ulama, maka kita dapat menjalin persahabatan yang sehat dan bermanfaat, serta menjauh dari persahabatan yang justru membawa kerugian. Semoga Allah SWT memberikan kita teman-teman yang baik, yang menjalin ukhuwah dalam ketaqwaan, dan menjauhkan kita dari teman yang memakan kita sebagaimana ungkapan “teman makan teman”.

Daftar Rujukan (Sebagian)

Al-Qur’ân: Surah Al-Furqân (25:27-29). 

Hadîts: Sahih al‑Bukhari No. 2101 (contoh teman baik vs teman buruk). 

Terjemah kitab: ‎Bidayatul Hidayah oleh Imam Al-Ghazâlî , syarat memilih teman bergaul. 

Artikel: Haura Alfiyah Nida, “Konsep Memilih Teman yang Baik Menurut Hadis”. 

Skripsi: Siti Nur Azizah, “Konsep Memilih Teman Menurut Syekh Al-Zarnûjî dalam Kitab Ta‘lim al-Muta‘allim”. 

Online: “Choosing Friends” oleh ImanIslam.com.

Redaksi: Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "Waspada Teman Makan Teman dan Solusinya"