Meugang daging Rp.180 sp Rp 200 Rb/ kg
ADAT BUDAYA MEUGANG DALAM MASYARAKAT ACEH
Oleh: Cik Gu Bustami Ahmad
Tradisi Membeli dan Memasak Daging Dua Hari Menjelang Ramadhan sebagai Simbol Ketahanan Sosial dan Perbaikan Gizi Keluarga
Inti Pembahasan
Meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh yang dilakukan dua hari menjelang bulan suci Ramadhan dengan membeli, memasak, dan mengonsumsi daging bersama keluarga. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun sejak masa Kesultanan Aceh dan tetap bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan menjelaskan sejarah, makna sosial, nilai budaya, aspek ekonomi, serta fungsi gizi dalam tradisi Meugang. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Meugang bukan sekadar aktivitas konsumsi daging, tetapi merupakan simbol solidaritas sosial, penghormatan terhadap keluarga, identitas budaya, serta mekanisme distribusi kesejahteraan masyarakat. Bahkan dalam kondisi ekonomi sulit, masyarakat tetap berusaha melaksanakan Meugang melalui berbagai cara termasuk barter kebutuhan pokok. Tradisi ini juga berperan dalam perbaikan gizi keluarga sebelum memasuki Ramadhan.
Kata kunci: Meugang, adat Aceh, Ramadhan, budaya pangan, solidaritas sosial.
Awal kata
Aceh dikenal sebagai daerah yang memiliki integrasi kuat antara adat dan syariat Islam yang dikenal dengan falsafah:
“ Adat bak Poteumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala kanuen bak putrou Phang reusam bak laksamana "
Salah satu manifestasi adat tersebut adalah tradisi Meugang, yaitu kegiatan membeli dan memasak daging menjelang Ramadhan.
Tradisi ini memiliki akar sejarah panjang sejak masa Sultan Iskandar Muda yang menyembelih hewan dan membagikan daging kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur dan kepedulian sosial.
Dalam konteks kekinian, Meugang tetap dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat Aceh tanpa memandang status ekonomi. Bagi masyarakat Aceh, tanpa Meugang terasa belum sempurna menyambut Ramadhan.
Metode Pengamatan Contektual
Penelitian ini menggunakan metode:
Pendekatan kualitatif
Studi literatur
Analisis sosial-budaya
Sumber data berasal dari kajian jurnal, dokumen pemerintah, dan tulisan sejarah tentang budaya Aceh.
PEMBAHASAN
1. Sejarah Tradisi Meugang
Tradisi Meugang telah ada sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam.
Tujuan awalnya:
1. Wujud syukur menyambut Ramadhan
2. Pemerataan kesejahteraan rakyat
3. Menguatkan hubungan sosial
Pada masa Sultan:
Daging dibagikan kepada fakir miskin
Negara menanggung biaya penyembelihan
Menjadi peristiwa adat kerajaan
Tradisi ini tetap bertahan walaupun kerajaan telah berakhir karena sudah menjadi budaya masyarakat.
2. Meugang sebagai Identitas Budaya Aceh
Dalam masyarakat Aceh, Meugang memiliki makna:
a. Simbol kemuliaan keluarga
Seorang kepala keluarga merasa memiliki tanggung jawab menghadirkan daging pada hari Meugang.
b. Penghormatan kepada anak dan istri
Ungkapan budaya:
- walaupun sedikit
- walaupun hanya 1 kg
- yang penting “camjruem” daging campur campur (tetap masak)
c. Martabat sosial
Hari Meugang menjadi ukuran kemampuan minimal seorang ayah dalam membahagiakan keluarga.
3. Ketahanan Tradisi dalam Kondisi Ekonomi
Fakta sosial di Aceh menunjukkan:
Harga daging naik , Meugang tetap ada
Ekonomi sulit , tetap beli walau sedikit
Tidak punya uang , barter kebutuhan pokok
Hal ini menunjukkan bahwa Meugang bukan konsumsi biasa tetapi kebutuhan budaya dan emosional.
Penelitian budaya menyebut Meugang sebagai: 1. Media solidaritas sosial
2. Penguat hubungan kekeluargaan
3. Aktivitas Sosial Ekonomi pada Hari Meugang
Ciri khas suasana Meugang:
Pasar penuh
Penyembelihan sapi/kerbau meningkat
Transaksi besar-besaran
Kata “Meugang” sendiri berasal dari:
Beli daging di pasar dadakan penyembelihan banyak sapi, kerbou
(pasar menjadi sangat ramai).
Dampaknya:
1. Perputaran ekonomi rakyat meningkat
2. Peternak mendapat keuntungan
3. Pedagang kecil hidup
5. Meugang dan Perbaikan Gizi Keluarga
Sebelum memasuki Ramadhan:
Masyarakat memasak kari
masak sie reuboh
masak suf
berbagai olahan daging lainnya
Fungsinya:
✔ pemenuhan protein keluarga
✔ persiapan fisik menghadapi puasa
✔ kegembiraan menyambut ibadah
Tradisi ini juga disertai makanan khas lain seperti timphan, lumang, haluwa situk sebagai pelengkap nutrisi.
6. Nilai-Nilai Sosial dalam Tradisi Meugang
Nilai yang terkandung:
1. Solidaritas sosial setiap rumah,
Daging dibagi kepada:
Orang tua , anak yatim, fakir miskin, tetangga
2. Silaturrahmi keluarga
Anak pulang ke rumah dari perantauan, tempat pendidikan, orang tua membawa daging dan di masaknya.
3. Kebahagiaan kolektif menyambut Ramadhan
Sebagai bentuk ta’zim terhadap bulan suci.
7. Meugang sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Meugang merupakan: warisan indatu
identitas kultural Aceh tradisi yang tidak hilang oleh modernisasi
Masyarakat Aceh di perantauan pun tetap melaksanakan Meugang sebagai simbol keterikatan dengan tanah asal.
KESIMPULAN
Tradisi Meugang merupakan sistem budaya yang memiliki dimensi:
1. Historis , berasal dari Kesultanan Aceh
2. Sosial , mempererat solidaritas masyarakat
3. Ekonomi , menggerakkan pasar rakyat
4. Gizi , meningkatkan nutrisi keluarga sebelum Ramadhan
5. Spiritual , ekspresi kegembiraan menyambut ibadah
Ketahanan tradisi ini dalam berbagai kondisi ekonomi menunjukkan bahwa Meugang bukan sekadar konsumsi daging, tetapi merupakan simbol martabat keluarga, kebahagiaan anak-anak, dan identitas keacehan.
SARAN
Pelestarian Meugang dapat dilakukan melalui:
1. Penguatan edukasi budaya di sekolah
2. Dukungan pemerintah terhadap stabilisasi harga daging
3. Dokumentasi sebagai warisan budaya Aceh
PENUTUP (NARASI BUDAYA ACEH)
Bagi orang Aceh:
1. Ramadhan tanpa Meugang terasa hampa
2. Dapur harus berasap
3. Anak-anak harus makan daging
Walaupun: ekonomi sulit, harus menjual barang
harus barter kebutuhan
yang penting:
“Uroe Meugang, keluarga bahagia.”
DAFTAR PUSTAKA (contoh)
Ali Hasjmy. Kebudayaan Aceh dalam Sejarah
Redaksi:Islamic tekhno tv.com

Posting Komentar untuk "Adat Budaya Meugang Tradisi Masyarakat Aceh "