### KEUTAMAAN BELAJAR DAN MENGAJAR DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN, HADIS, DAN PANDANGAN PARA ULAMA
Tulisan ilmiah keislaman • Landasan dalil, tafsir, pendidikan, dan referensi kitab
### A. Pendahuluan
Belajar dan mengajar merupakan dua kegiatan yang sangat penting dalam Islam. Belajar adalah jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, memperbaiki akidah, menyempurnakan ibadah, dan membentuk akhlak mulia. Sementara itu, mengajar merupakan usaha menyampaikan ilmu, membimbing manusia menuju kebenaran, serta membangun kehidupan masyarakat yang beriman, berilmu, dan beradab.
Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk beribadah, tetapi juga mendorong mereka untuk membaca, berpikir, memahami wahyu, meneliti alam, dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat. Rasulullah ﷺ menjadi teladan utama sebagai pendidik yang membimbing manusia melalui wahyu, keteladanan, nasihat, dan kasih sayang.
Oleh karena itu, keutamaan belajar dan mengajar perlu dipahami sebagai satu kesatuan. Belajar tanpa mengamalkan ilmu belum mencapai tujuan pendidikan Islam, sedangkan mengajar tanpa ilmu dan akhlak dapat menimbulkan kesalahpahaman. Ilmu yang baik hendaknya melahirkan iman, amal saleh, kejujuran, tanggung jawab, dan kemaslahatan bagi sesama.
### Rumusan masalah
* Bagaimana kedudukan belajar dan mengajar dalam Islam?
* Apa saja dalil Al-Qur’an dan hadis tentang keutamaan ilmu?
* Bagaimana pandangan para ulama mengenai kewajiban menuntut ilmu dan tanggung jawab seorang pendidik?
* Bagaimana penerapannya dalam kehidupan keluarga, sekolah, masyarakat, dan profesi?
### Tujuan penulisan
Tulisan ini bertujuan menjelaskan keutamaan belajar dan mengajar berdasarkan sumber utama ajaran Islam, pandangan para ulama, serta penerapannya dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
### B. Landasan Al-Qur’an tentang Keutamaan Belajar dan Mengajar
### 1\. Wahyu pertama: perintah membaca dan belajar
### QS. Al-‘Alaq \[96\]: 1–5
Teks Arab lengkap dengan harakat
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ١
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ٢
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ٣
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ٤
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥
Artinya:
* Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
* Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
* Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.
* Yang mengajar (manusia) dengan pena.
* Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Terjemahan mengikuti makna umum terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama RI.
Isi kandungan ayat:
* Perintah membaca: Islam mendorong manusia mempelajari wahyu dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah.
* Ilmu bersumber dari Allah: Kemampuan berpikir, membaca, menulis, dan memahami merupakan karunia-Nya.
* Pena sebagai sarana pendidikan: Menulis dan mendokumentasikan ilmu memungkinkan pengetahuan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
* Belajar sepanjang hayat: Manusia pada awalnya tidak mengetahui banyak hal, kemudian memperoleh pengetahuan melalui proses belajar dan bimbingan.
* Ilmu harus disertai orientasi ketuhanan: Frasa “بِاسْمِ رَبِّكَ” mengingatkan bahwa aktivitas keilmuan hendaknya diarahkan kepada kebaikan, bukan kesombongan atau kerusakan.
Penjelasan tafsir:
Dalam Jāmi‘ al-Bayān, Imam ath-Thabari menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an melalui riwayat dan penjelasan bahasa. Sementara itu, Ibnu Katsir dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm menerangkan bahwa ayat-ayat permulaan ini menunjukkan kemuliaan Allah yang mengajarkan manusia sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya.
Ayat ini menjadi dasar penting bagi budaya literasi, pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu yang bertanggung jawab.
### 2\. Allah meninggikan derajat orang beriman dan berilmu
### QS. Al-Mujādilah \[58\]: 11
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya:
“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Isi kandungan ayat:
* Iman dan ilmu memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah.
* Orang berilmu mempunyai tanggung jawab moral untuk menggunakan pengetahuannya secara benar.
* Kemuliaan ilmu bukan sekadar gelar, jabatan, atau pengakuan manusia, tetapi juga tercermin dalam amal dan ketakwaan.
* Allah mengetahui bagaimana ilmu itu digunakan, baik untuk kemaslahatan maupun untuk kepentingan yang merugikan orang lain.
Penjelasan: Ayat ini memotivasi umat Islam untuk menuntut ilmu sekaligus menjaga keimanan dan akhlak. Derajat ilmu tidak semestinya dijadikan alasan untuk merendahkan orang lain.
### 3\. Tidak sama kedudukan orang yang berilmu dan yang tidak berilmu
### QS. Az-Zumar \[39\]: 9
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
Isi kandungan ayat:
* Ilmu membedakan pemahaman yang didasarkan pada pengetahuan dari tindakan yang didasarkan pada ketidaktahuan.
* Orang yang berakal hendaknya mengambil pelajaran, merenungkan kebenaran, dan memperbaiki perilaku.
* Ilmu yang bermanfaat membantu manusia beribadah dengan benar, mengambil keputusan secara bijaksana, dan menjalankan tanggung jawab sosial.
Penjelasan: Ayat ini merupakan dorongan untuk meningkatkan pengetahuan. Namun, seseorang tidak boleh merasa paling mulia hanya karena memiliki pendidikan tinggi. Ilmu sejati seharusnya melahirkan kerendahan hati dan kesediaan menerima kebenaran.
### 4\. Doa agar ilmu terus bertambah
### QS. Ṭāhā \[20\]: 114
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Artinya:
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”
Isi kandungan ayat:
* Manusia hendaknya senantiasa memohon tambahan ilmu kepada Allah.
* Tidak ada alasan untuk berhenti belajar karena merasa sudah cukup mengetahui.
* Doa perlu disertai ikhtiar, seperti membaca, bertanya kepada ahli, berdiskusi, meneliti, dan mengamalkan ilmu.
* Seorang guru pun tetap menjadi pembelajar agar pengajarannya semakin baik dan sesuai dengan perkembangan pengetahuan.
Penerapan: Doa ini dapat dibaca oleh pelajar, guru, orang tua, mahasiswa, ulama, dan siapa pun yang sedang menuntut ilmu.
### 5\. Mengajar sebagai tugas kenabian
### QS. Al-Baqarah \[2\]: 151
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”
Isi kandungan ayat:
* Rasulullah ﷺ menjalankan fungsi pendidikan melalui penyampaian wahyu, penyucian jiwa, dan pengajaran.
* Pendidikan Islam bukan hanya pemindahan pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan penyucian hati.
* Guru hendaknya menyeimbangkan penguasaan materi, keteladanan, dan pembinaan karakter.
* Murid perlu dibimbing agar memahami ilmu serta menggunakannya untuk kebaikan.
Penjelasan: Ayat ini memberikan kerangka pendidikan yang menyatukan pengetahuan, hikmah, dan pembentukan pribadi. Seorang pendidik tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga berusaha menjadi teladan dalam perilaku.
### H. Analisis dan Sintesis Ilmiah
Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, dan pemikiran para ulama, keutamaan belajar dan mengajar dapat dianalisis melalui empat dimensi.
Pertama, dimensi spiritual. Belajar membantu manusia mengenal Allah, memahami petunjuk agama, dan menjalankan ibadah dengan benar. Mengajar menjadi sarana menyampaikan kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang benar dan berdasarkan ilmu.
Kedua, dimensi intelektual. Perintah membaca dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 menegaskan pentingnya proses memperoleh pengetahuan. Dalam konteks pendidikan modern, hal ini dapat diterapkan melalui literasi, penelitian, diskusi, evaluasi sumber, dan pengembangan kemampuan berpikir kritis.
Ketiga, dimensi moral. QS. Al-Baqarah ayat 151 menghubungkan pengajaran dengan penyucian jiwa. Artinya, pendidikan seharusnya tidak hanya meningkatkan kecerdasan, tetapi juga membentuk kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan kepedulian.
Keempat, dimensi sosial. Hadis tentang ilmu yang bermanfaat menunjukkan bahwa pengetahuan dapat memberi manfaat berkelanjutan. Pendidikan membantu masyarakat meneruskan pengalaman, mengatasi masalah, dan meningkatkan kualitas kehidupan.
Keempat dimensi tersebut menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan pendidikan Islam tidak cukup dilihat dari banyaknya materi yang dikuasai atau tingginya gelar akademik. Keberhasilan juga perlu dinilai dari kebenaran pemahaman, kualitas akhlak, tanggung jawab, dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.
### I. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar dan mengajar merupakan dua aktivitas mulia yang memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam.
* Al-Qur’an menempatkan ilmu sebagai karunia Allah. QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 memerintahkan membaca dan menjelaskan bahwa Allah mengajarkan manusia sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya.
* Orang beriman dan berilmu memperoleh kedudukan yang mulia. QS. Al-Mujādilah ayat 11 memotivasi umat Islam untuk meningkatkan iman dan pengetahuan serta bertanggung jawab atas amalnya.
* Rasulullah ﷺ memberikan teladan sebagai pendidik. QS. Al-Baqarah ayat 151 menggambarkan tugas beliau dalam membacakan ayat, menyucikan jiwa, dan mengajarkan Kitab serta Hikmah.
* Belajar dan mengajar Al-Qur’an memiliki keutamaan khusus. Hadis riwayat al-Bukhari no. 5027 menyebut orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an sebagai golongan yang terbaik.
* Ilmu yang bermanfaat dapat terus menghasilkan kebaikan. Hadis riwayat Muslim no. 1631 menjelaskan keutamaan ilmu yang dimanfaatkan setelah seseorang meninggal dunia.
* Adab merupakan bagian penting dari pendidikan. Pemikiran Imam al-Ghazali, Imam an-Nawawi, Ibnu Jama‘ah, Ibnu Khaldun, dan ulama lainnya memberikan landasan untuk mengembangkan pendidikan yang menggabungkan ilmu, akhlak, dan metode pembelajaran yang baik.
Dengan demikian, umat Islam hendaknya tidak berhenti pada kegiatan mencari ilmu, tetapi juga mengamalkannya, mengajarkannya sesuai kemampuan, dan memastikan bahwa pengetahuan tersebut membawa kemaslahatan.
Ilmu yang disertai iman, amal saleh, dan akhlak mulia merupakan bekal penting bagi kehidupan dunia dan akhirat.
### J. Daftar Pustaka dan Kitab Rujukan
Berikut referensi utama yang dapat digunakan untuk kajian lebih mendalam. Nomor halaman tidak dicantumkan karena berbeda menurut edisi dan penerbit.
### Sumber primer
* Al-Qur’an al-Karim. Terjemahan dan tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia.
* Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Kitab Faḍā’il al-Qur’an, hadis no. 5027; serta hadis no. 3461 tentang penyampaian ilmu. Teks hadis 5027 dapat diperiksa di [Sahih al-Bukhari 5027](https://sunnah.com/bukhari:5027).
* Muslim bin al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim. Hadis no. 1631 tentang amal yang berkelanjutan dan no. 2699 tentang keutamaan menempuh jalan untuk mencari ilmu.
### Kitab tafsir
* Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān.
* Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Dapat dijadikan rujukan untuk penjelasan QS. Al-‘Alaq dan QS. Ṭāhā. Lihat, misalnya, [Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-‘Alaq: 5](https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura96-aya5.html) dan [Tafsir Ibnu Katsir, QS. Ṭāhā: 114](https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura20-aya114.html).
### Kitab pendidikan dan adab ilmu
* Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, khususnya Kitāb al-‘Ilm.
* An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. At-Tibyān fī Ādāb Ḥamalat al-Qur’ān.
* An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab.
* Ibnu Jama‘ah, Badruddin. Tadhkirat al-Sāmi‘ wa al-Mutakallim fī Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim.
* Ibnu Khaldun, Abdurrahman. Al-Muqaddimah.
Catatan akademik: Untuk penulisan makalah, skripsi, atau artikel jurnal, sebaiknya cantumkan nama penerbit, tahun terbit, jilid, halaman, dan edisi kitab yang benar-benar digunakan. Terjemahan ayat dan h
adis juga perlu disesuaikan dengan edisi rujukan yang dipakai.
Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai bahan kajian keislaman, materi pendidikan, ceramah, maupun pengembangan materi khutbah tentang keutamaan belajar dan mengajar.
Posting Komentar untuk " "