Tarbiyah Ramadhan: "CURHAT SEORANG GURU: ANTARA PENGABDIAN DAN HARAPAN "

Curhat seorang guru, by.Bustami Ahmad

CURHAT SEORANG GURU: ANTARA PENGABDIAN DAN HARAPAN (Dialektika Spiritual, Profesionalitas, dan Masa Depan Generasi dalam Perspektif Pendidikan Islam)

Oleh: Cik Gu Bustami Ahmad

Abstrak

Guru merupakan aktor utama dalam proses pembentukan peradaban. Namun di balik kemuliaan posisinya sebagai pewaris tugas kenabian, terdapat dinamika batin yang penuh perjuangan: antara keikhlasan pengabdian dan harapan terhadap perubahan sistem pendidikan serta kualitas generasi. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dan refleksi fenomenologis terhadap realitas guru. Hasil kajian menunjukkan bahwa profesi guru adalah jihad intelektual dan spiritual yang menuntut keteguhan niat, ketahanan emosional, serta dukungan sistemik. Pendidikan berbasis iman dan adab menjadi harapan utama dalam menyelamatkan generasi masa depan.

Kata kunci: Guru, pengabdian, adab, pendidikan Islam, generasi.

Pendahuluan: Suara Hati yang Tak Selalu Terdengar

Di ruang kelas yang sederhana, di antara lembaran absen dan tumpukan administrasi, ada hati yang terus berbisik:

"Apakah yang aku lakukan ini benar-benar mengubah mereka?"

Guru bukan sekadar pengajar, tetapi pemikul amanah peradaban.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا 

Artinya:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal saleh.”

(QS. Fuṣṣilat: 33)

Menurut Imam Al-Ghazali, profesi mengajar adalah pekerjaan hati ,  menyucikan jiwa manusia dan mendekatkannya kepada Allah.

1. REALITA GURU DI LAPANGAN: ANTARA IDEALISME DAN KELELAHAN JIWA

1.1 Pengabdian dalam sunyi

Tidak semua pengabdian diukur dengan penghargaan.

Hadits Nabi Saw:

« إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتّٰى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »

(HR. Tirmidzi)

Maknanya: bahkan semesta mendoakan guru.

Namun realitas di lapangan:

Kesejahteraan yang belum ideal

Beban administrasi berlebihan

Minimnya penghormatan sosial

Di titik inilah keikhlasan diuji.

Refleksi batin guru:

"Aku tetap berdiri di depan kelas, meski lelahku tak pernah masuk dalam laporan kinerja."

1.2 Mengajar dengan hati, bukan sekadar kurikulum

Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia.

Pandangan Ki Hajar Dewantara:

“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Namun realita hari ini sering memaksa guru menjadi:

Operator nilai

Penyelesai target

Pengisi sistem

Bukan lagi pendidik ruh.

1.3 Luka batin ketika adab murid memudar

Perkataan Imam Malik:

"تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ الْعِلْمِ"

Ketika murid tidak lagi menundukkan pandangan kepada guru, yang terluka bukan sekadar wibawa , tetapi ruh pendidikan itu sendiri.

2. TANTANGAN MENDIDIK ZAMAN SEKARANG

2.1 Generasi digital dan krisis makna

Allah berfirman:

 أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ 

(QS. At-Takātsur: 1)

Era digital melahirkan:

Instan mindset

Lemahnya fokus

Krisis kesabaran dalam belajar

Menurut Neil Postman, teknologi tanpa nilai akan menghilangkan makna pendidikan.

Guru hari ini bukan hanya mengajar , tetapi bersaing dengan layar.

2.2 Melemahnya peran keluarga

Hadits:

« كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ »

Ketika rumah tidak lagi menjadi madrasah pertama, sekolah menanggung beban peradaban.

Guru mendidik ilmu, adab, bahkan luka batin murid.

2.3 Krisis adab sebagai akar masalah

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas:

Masalah terbesar pendidikan adalah hilangnya adab.

Ilmu tanpa adab melahirkan kecerdasan yang tidak berarah.

3. HARAPAN UNTUK GENERASI: DOA YANG TAK PERNAH PADAM

Di setiap akhir pelajaran, ada doa yang tidak tertulis dalam RPP:

"Ya Allah… jadikan mereka lebih baik dari kami."

3.1 Membangun generasi rabbani

 رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ 

(QS. Ash-Shaffat: 100)

Tujuan guru bukan sekadar kelulusan , tetapi keselamatan dunia akhirat muridnya.

3.2 Pendidikan berbasis cinta dan keteladanan

Menurut Ibnu Jamaah:

Guru harus mengajar dengan kasih sayang seperti kepada anaknya sendiri.

Inilah yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

3.3 Harapan spiritual guru

Guru sejati tidak menggantungkan hasil pada manusia.

 إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ 

Refleksi :

"Mungkin aku tidak melihat perubahan mereka hari ini, tetapi aku yakin Allah mencatat setiap huruf yang aku ajarkan."

Sintesis: Guru sebagai Mujahid Peradaban

Mengajar adalah jihad tanpa sorotan.

Hadits:

« أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ »

Guru:

membangun jiwa

menanam iman

menyalakan cahaya peradaban

meski sering dalam kesunyian.

Kesimpulan

1. Profesi guru adalah pengabdian spiritual dan intelektual yang sering tidak terlihat secara material tetapi bernilai tinggi di sisi Allah.

2. Tantangan pendidikan modern terletak pada krisis adab, distraksi digital, dan melemahnya sinergi keluarga.

3. Harapan masa depan generasi bertumpu pada pendidikan berbasis iman, keteladanan guru, dan sistem yang memuliakan ilmu.

Penutup: Curhat yang Menjadi Doa

Pada akhirnya, curhat seorang guru bukanlah keluhan…

tetapi munajat:

 رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي • وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي 

(QS. Ṭāhā: 25–26)

"Ya Allah… jika lelah ini adalah jalan menuju ridha-Mu, maka kuatkanlah aku untuk tetap berdiri di depan kelas esok pagi."

Redaksi: Islamic tekhno tv com 

Posting Komentar untuk "Tarbiyah Ramadhan: "CURHAT SEORANG GURU: ANTARA PENGABDIAN DAN HARAPAN ""