KEJAHATAN POLITIK ITU MEMANTUL: ACEH, NASIONAL, DAN ILUSI KEKUASAAN YANG MENIPU
Oleh: ust Bustami Ahmad, S.Ag.,M.Pd
Ada satu kesalahan besar yang terus berulang dalam panggung politik, baik di Aceh maupun di tingkat nasional: banyak orang mengira kejahatan bisa menjadi strategi. Mereka mengira menjatuhkan lawan dengan fitnah adalah kecerdikan, menyalahgunakan kekuasaan adalah kepiawaian, dan mengkhianati amanah adalah bagian dari “permainan”.
Padahal, sejarah telah berulang kali membuktikan satu hal: kejahatan politik tidak pernah benar-benar menang, ia hanya menunggu waktu untuk memantul dan menghancurkan pelakunya sendiri.
Al-Qur’an telah menutup semua ruang ilusi itu dengan satu kalimat tegas:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا
“Barang siapa berbuat baik maka untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat jahat maka atas dirinya sendiri.” (QS. Fushshilat: 46)
Ini bukan ayat untuk mimbar semata. Ini adalah hukum politik paling jujur yang sering diabaikan.
Politik Tanpa Moral: Jalan Pintas Menuju Kehancuran
Realitas politik hari ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan:
- Fitnah dijadikan alat kampanye
- Uang menjadi penentu suara
- Kekuasaan dipakai untuk membalas dendam
- Amanah berubah menjadi alat memperkaya diri
Di Aceh, daerah yang dikenal dengan syariat Islam, ironinya luka ini terasa lebih dalam. Simbol agama sering dijadikan legitimasi, tetapi praktiknya jauh dari nilai-nilai keadilan.
Pertanyaannya: apakah semua ini benar-benar menguntungkan?
Jawabannya: tidak.
Rasulullah saw telah mengingatkan:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Kegelapan itu tidak menunggu akhirat saja. Ia sudah mulai terasa di dunia: kekuasaan yang tidak tenang, kepemimpinan yang penuh konflik, dan kehidupan yang dihantui ketakutan.
Hukum Balasan: Cepat atau Lambat, Pasti Datang
Politik mungkin bisa memanipulasi persepsi publik, tetapi tidak bisa menghindari hukum Allah.
كَمَا تَدِينُ تُدَانُ
“Sebagaimana engkau memperlakukan, demikian engkau akan diperlakukan.”
Berapa banyak tokoh yang dulu naik dengan cara menjatuhkan orang lain, lalu jatuh dengan cara yang sama?
Berapa banyak yang dulu mengkhianati, lalu dikhianati oleh lingkarannya sendiri?
Ini bukan kebetulan. Ini adalah pola.
Di Aceh, kita menyaksikan dinamika kekuasaan yang keras:
hari ini kawan, besok lawan.
Hari ini dielu-elukan, besok dilupakan.
Di tingkat nasional, fenomenanya lebih besar:
kekuatan dibangun dengan kompromi, lalu runtuh oleh konflik internal.
Kejahatan itu seperti bumerang, semakin kuat dilempar, semakin keras ia kembali.
Kebangkrutan Moral: Lebih Bahaya dari Kekalahan Politik
Rasulullah saw memberikan gambaran paling mengerikan:
Seseorang datang di hari kiamat dengan pahala besar, shalat, puasa, zakat, tetapi karena ia pernah menzalimi orang lain, semua pahala itu habis dibagikan kepada korban-korbannya. (HR. Muslim)
Bayangkan seorang pemimpin:
- dipuji di dunia
- dielu-elukan massa
- menang dalam kontestasi
Namun di akhirat, ia datang sebagai orang bangkrut.
Inilah tragedi terbesar politik:
menang di dunia, hancur di akhirat.
Aceh: Antara Identitas Syariat dan Realitas Kekuasaan
Aceh memiliki keistimewaan. Ia bukan sekadar daerah administratif, tetapi simbol penerapan nilai Islam di Indonesia. Namun, justru di sinilah ujian terberatnya.
Ketika politik tidak lagi mencerminkan nilai:
- kejujuran digantikan manipulasi
- amanah digantikan kepentingan
- ukhuwah digantikan intrik
maka yang rusak bukan hanya sistem, tetapi marwah daerah itu sendiri.
Kita tidak kekurangan slogan religius.
Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk jujur.
Jangan Salah Membaca Waktu
Kesalahan terbesar para pelaku kejahatan adalah mengira bahwa diamnya balasan berarti tidak ada balasan.
Padahal Al-Qur’an telah memperingatkan:
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 8)
Waktu hanyalah jeda.
Bukan pengampunan otomatis.
Penutup: Pesan untuk Para Pemegang Kekuasaan
Tulisan ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan, terutama bagi siapa pun yang hari ini berada di lingkar kekuasaan, baik di Aceh maupun di tingkat nasional.
Jangan pernah merasa aman dengan kejahatan.
Karena setiap:
- fitnah akan kembali
- pengkhianatan akan berbalik
- kezaliman akan menuntut balasan
Cepat atau lambat.
Kesimpulan paling kerasnya:
«Politik yang dibangun di atas kejahatan bukan hanya akan runtuh, tetapi akan menyeret pelakunya jatuh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.»
Dan saat itu terjadi, tidak ada strategi, tidak ada kekuasaan, tidak ada jaringan yang mampu menyelamatkan, karena yang datang bukan lawan politik, tetapi balasan dari perbuatannya sendiri.
Redaksi: Islamic tekhno tv com
Posting Komentar untuk "KEJAHATAN POLITIK ITU MEMANTUL "