TARBIYAH RAMADHAN "Sikap Muslimin dalam Kesiapan Memasuki Bulan Suci Ramadhan Perspektif Sunnah Rasulullah Saw"

Sikap Muslimin Kesiapan Masuknya Ramadhan

TARBIYAH RAMADHAN:

"Sikap Muslimin dalam Kesiapan Memasuki Bulan Suci Ramadhan Perspektif Sunnah Rasulullah Saw"

Oleh: Cik Gu Bustami Ahmad

Inti Pembahasan

Ramadhan adalah bulan tarbiyah ruhiyah (pendidikan spiritual) yang membentuk pribadi mukmin menjadi insan bertakwa. Kesiapan menyambut Ramadhan bukan hanya bersifat fisik, tetapi meliputi kesiapan iman, ilmu, amal, dan akhlak. Artikel ini membahas sikap yang seharusnya dimiliki kaum Muslimin dalam menyambut Ramadhan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah saw, serta pandangan para ulama klasik dan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur (library research) dengan merujuk pada kitab-kitab tafsir, hadits, dan syarahnya.

Kata Kunci: Tarbiyah Ramadhan, Kesiapan Ruhiyah, Sunnah Nabi, Tazkiyatun Nafs, Takwa.

A. Awal kata

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi madrasah ilahiyah untuk membentuk insan bertakwa. Allah ﷻ menegaskan tujuan puasa dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

(QS. Al-Baqarah: 183)

Kandungan Ayat:

Puasa adalah kewajiban syar’i. Ia memiliki dimensi historis (umat terdahulu juga diwajibkan).

Tujuan utamanya adalah takwa (pengendalian diri dan kesadaran ilahiyah).

Menurut Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, takwa di sini bermakna menahan diri dari maksiat serta melatih jiwa dalam ketaatan.

B. Sikap Muslim dalam Kesiapan Menyambut Ramadhan

1. Bergembira dan Bersyukur atas Datangnya Ramadhan

Rasulullah saw memberi kabar gembira kepada para sahabat:

 إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

(HR. البخاري ومسلم)

Artinya:

"Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan."

Makna Hadits:

Ramadhan adalah momentum rahmat dan ampunan.

Lingkungan spiritual lebih kondusif untuk ibadah.

Umat Islam dianjurkan menyambutnya dengan suka cita.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menyatakan:

 “Para salaf berdoa enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan setelahnya agar diterima amal mereka.”

2. Memperbanyak Doa dan Persiapan Ruhiyah

Doa yang masyhur dari para sahabat:

 اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya: “Ya Allah, sampaikanlah kami kepada Ramadhan.”

Maknanya adalah permohonan umur panjang dalam ketaatan dan kesiapan spiritual.

Imam Ibn Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa doa tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan hati sebelum memasuki musim ibadah.

3. Taubat dan Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)

Allah swt berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

(QS. النور: 31)

Artinya:

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang beriman agar kamu beruntung.”

Kandungan:

Taubat adalah syarat keberuntungan.

Ramadhan adalah momentum penghapusan dosa.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa hati yang kotor oleh dosa tidak mampu merasakan manisnya ibadah.

4. Memahami Ilmu Fiqh Ramadhan

Rasulullah Saw bersabda:

 مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

(HR. البخاري)

Artinya:

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memahamkannya dalam agama.”

Sikap Ilmiah:

Memahami hukum puasa.

Mengetahui rukun, syarat, pembatal, dan sunnahnya.

Mengetahui fiqh zakat fitrah dan qiyam Ramadhan.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menegaskan kewajiban mempelajari hukum ibadah sebelum melaksanakannya.

5. Meningkatkan Tilawah dan Tadabbur Al-Qur’an

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an:

 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

(QS. البقرة: 185)

Makna:

Ramadhan identik dengan Al-Qur’an.

Sunnah Nabi Saw adalah muraja’ah bersama Jibril setiap Ramadhan (HR. Bukhari).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan memperbanyak tilawah pada bulan Ramadhan.

6. Melatih Kesungguhan Ibadah (Mujahadah)

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

(HR. البخاري ومسلم)

Makna:

Puasa harus dilandasi iman dan keikhlasan.

Harapan pahala adalah motivasi spiritual.

Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa iman berarti keyakinan akan kewajiban, dan ihtisab berarti mengharap pahala semata karena Allah.

7. Menyiapkan Fisik dan Sosial

Rasulullah Saw memperbanyak puasa di bulan Sya’ban (HR. Abu Dawud).

Menurut Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm, hal ini adalah bentuk latihan menuju Ramadhan.

Dimensi sosial:

Memperbanyak sedekah.

Menjaga ukhuwah.

Mempersiapkan zakat dan infak.

C. Pendapat Para Ulama Tentang Tarbiyah Ramadhan

1. Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (Zad al-Ma’ad):

Ramadhan adalah bulan jihad melawan hawa nafsu.

2. Imam Al-Ghazali (Ihya’ Ulumuddin):

Puasa memiliki tiga tingkatan:

Puasa umum (menahan makan dan minum)

Puasa khusus (menahan anggota badan dari dosa)

Puasa khususul khusus (menahan hati dari selain Allah)

3. Ibnu Rajab Al-Hanbali (Latha’if al-Ma’arif):

Ramadhan adalah musim perdagangan akhirat.

D. Implementasi Praktis Kesiapan Ramadhan

1. Muhasabah diri.

2. Menyusun target ibadah (tilawah, sedekah, qiyam).

3. Membersihkan hati dari dengki dan permusuhan.

4. Memperbaiki hubungan keluarga.

5. Meluruskan niat.

Kesimpulan

Kesiapan menyambut Ramadhan menurut Sunnah Rasulullah Saw meliputi:

Kesiapan iman (takwa dan niat).

Kesiapan ilmu (memahami fiqh puasa).

Kesiapan ruhiyah (taubat dan tazkiyah).

Kesiapan amal (tilawah, sedekah, qiyam).

Kesiapan sosial dan fisik.

Ramadhan adalah madrasah tarbiyah ilahiyah yang membentuk insan bertakwa. Barang siapa mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, maka ia akan meraih keberkahan dan maghfirah Allah SWT.

Daftar Rujukan

1. Al-Qur’an Al-Karim.

2. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari.

3. Muslim, Shahih Muslim.

4. Ibn Rajab al-Hanbali, Latha’if al-Ma’arif.

5. Ibn Hajar al-Asqalani, Fathul Bari.

6. Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab.

7. Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin.

8. Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’ad.

9. Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.

10. Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.

Redaksi: Islamic tekhno tv.com

Posting Komentar untuk "TARBIYAH RAMADHAN "Sikap Muslimin dalam Kesiapan Memasuki Bulan Suci Ramadhan Perspektif Sunnah Rasulullah Saw""