Bagian IV Penutup, AT-TAHRIM AYAT 10–12 " Istri Nabi Nuh, Isteri Nabi Luth, Asiyah, Isteri Fir'aun, dan Maryam binti Imran

TAFSIR DAN TADABBUR AL-QUR’AN SURAT AT-TAHRIM AYAT 10–12

Bagian Keempat dan Penutup: Istri Nabi Nuh, Istri Nabi Luth, Asiyah Istri Fir‘aun, dan Maryam binti Imran 

( Kajian lengkap berdasarkan beberapa kitab tafsir dan hadis Rasulullah Saw )  

Oleh : Dr.Tgk.H.Amri Fatmi, LC.,MA

Dirangkum: ust.Bustami Ahmad, S.Ag.,M.Pd

A. PENDAHULUAN

Pada bagian keempat ini kita sampai kepada penutup Surat At-Tahrim, yaitu ayat 10–12. Penutup surat ini sangat agung karena Allah ﷻ menghadirkan empat sosok perempuan:

1. Istri Nabi Nuh عليه السلام.

2. Istri Nabi Luth عليه السلام.

3. Asiyah, istri Fir‘aun.

4. Maryam binti Imran عليها السلام.

Empat contoh tersebut bukan sekadar kisah. Menurut para mufasir, susunan ayat-ayat ini merupakan penegasan bahwa keselamatan dan kemuliaan manusia di sisi Allah bergantung pada iman dan amalnya sendiri, bukan semata-mata:

hubungan keluarga,

keturunan,

kedudukan,

kekuasaan,

lingkungan,

atau pasangan hidup.

Dua perempuan pertama hidup bersama dua nabi, tetapi tidak selamat karena tidak beriman.

Dua perempuan berikutnya hidup dalam keadaan yang berat, tetapi Allah mengangkat derajat mereka karena keimanan.

Inilah pesan besarnya:

Lingkungan yang saleh tidak otomatis menyelamatkan orang yang tidak beriman, dan lingkungan yang buruk tidak dapat menghalangi orang yang memilih beriman kepada Allah.

B. TAFSIR SURAT AT-TAHRIM AYAT 10

1. Teks Ayat

 ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ ۝١٠

Artinya:

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, yaitu istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, tetapi keduanya berkhianat kepada kedua suaminya. Maka kedua suami itu tidak dapat sedikit pun menolong mereka dari azab Allah. Dan dikatakan kepada keduanya, ‘Masuklah kamu berdua ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).’”

C. MAKNA “ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا”

Allah berfirman: ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا

“Allah membuat sebuah perumpamaan.”

Al-Qur’an sering menggunakan amtsāl atau perumpamaan agar manusia dapat memahami kebenaran secara lebih mendalam.

Perumpamaan dua perempuan ini merupakan pelajaran bagi manusia bahwa:

Hubungan dengan orang yang saleh tidak dapat menggantikan keimanan pribadi.

Seseorang tidak boleh berkata:

 “Ayah saya orang saleh.”

 “Suami saya seorang alim.”

“Keluarga saya dari keturunan ulama.”

 “Saya tinggal di lingkungan yang agamis.”

Semua itu adalah nikmat, tetapi tidak otomatis menjamin keselamatan.

D. ISTRI NABI NUH DAN ISTRI NABI LUTH

Allah menyebut: 

امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ

“Istri Nuh dan istri Luth.”

Mereka mempunyai kedudukan keluarga yang sangat dekat dengan dua nabi besar:

Nabi Nuh عليه السلام,

Nabi Luth عليه السلام.

Namun Allah tidak menyebut mereka sebagai perempuan beriman.

Justru keduanya menjadi contoh: 

kedekatan kepada orang saleh tidak cukup apabila seseorang sendiri menolak kebenaran.

E. MAKNA:

كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ

“Keduanya berada di bawah dua orang hamba yang saleh dari hamba-hamba Kami.”

Menurut tafsir, kata: تَحْتَ

secara bahasa dalam konteks ini menunjukkan hubungan keduanya sebagai istri dari dua nabi.

Allah menyebut Nabi Nuh dan Nabi Luth sebagai: عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ

“Dua orang hamba Kami yang saleh.”

Ini merupakan kemuliaan bagi dua nabi tersebut.

F. APA MAKNA PENGKHIANATAN ISTRI NABI NUH DAN NABI LUTH?

Allah berfirman: فَخَانَتَاهُمَا

“Maka keduanya berkhianat kepada kedua suaminya.”

Ayat ini harus dipahami dengan benar.

Para ulama tafsir seperti Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan lainnya menjelaskan bahwa pengkhianatan yang dimaksud bukanlah pengkhianatan seksual atau perzinaan.

Para nabi dijaga kehormatannya, dan yang dimaksud adalah: 

pengkhianatan dalam agama dan dakwah.

Istri Nabi Nuh tidak beriman kepada risalah Nabi Nuh عليه السلام.

Sedangkan istri Nabi Luth tidak beriman kepada dakwah suaminya dan menurut penjelasan para mufasir, ia memberikan dukungan atau informasi kepada kaum Nabi Luth tentang para tamu yang datang kepada Nabi Luth.

Karena itu, pengkhianatan mereka adalah:

pengkhianatan terhadap iman,

pengkhianatan terhadap dakwah,

keberpihakan kepada kebatilan.

G. PELAJARAN PENTING TENTANG MAKNA PENGKHIANATAN

Kata: خِيَانَةٌ

atau pengkhianatan tidak selalu berarti pengkhianatan rumah tangga dalam pengertian zina.

Seseorang dapat berkhianat terhadap:

Amanah,

Kepercayaan,

Agama,

Negara,

Pekerjaan,

Ilmu,

Kebenaran.

Dalam konteks ayat ini, pengkhianatan adalah:

Berpaling dari iman dan tidak mendukung kebenaran yang dibawa oleh kedua nabi tersebut.

H. TIDAK ADA “ORANG DALAM” DI HADAPAN ALLAH

Allah berfirman: فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Maka kedua suami itu tidak dapat sedikit pun menolong keduanya dari Allah.”

Nabi Nuh dan Nabi Luth adalah:

Nabi Allah,

Manusia pilihan,

Orang saleh.

Tetapi mereka tidak dapat menyelamatkan istri mereka yang memilih kekufuran.

Ini membuktikan prinsip besar: 

Di akhirat tidak ada keselamatan berdasarkan hubungan keluarga semata.

Allah berfirman:

 يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ

Artinya:

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.”

Setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri.

I. CONTOH TADABBUR AYAT 10

1. Anak seorang ulama

Seorang anak mungkin lahir dalam keluarga ulama.

Ia mendengar:

Al-Qur’an,

Ceramah,

Nasihat agama,

sejak kecil.

Namun jika ia sendiri meninggalkan iman dan kebenaran, ia tetap bertanggung jawab atas dirinya.

2. Pasangan hidup yang saleh

Seseorang mempunyai suami atau istri yang rajin beribadah.

Namun ia sendiri:

Tidak salat,

Tidak mau belajar Agama,

Terus melakukan kemaksiatan.

Pasangan yang saleh tidak otomatis dapat menyelamatkannya tanpa kehendak Allah dan usaha perbaikan dari dirinya sendiri.

3. Lingkungan yang Agamis

Tinggal di daerah yang:

banyak masjid,

banyak dayah,

banyak ulama,

merupakan nikmat.

Tetapi seseorang tetap harus beriman dan beramal.

J. ISI KANDUNGAN AYAT 10

1. Hubungan keluarga tidak menjamin keselamatan akhirat.

2. Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth tidak selamat karena menolak iman.

3. Kedekatan dengan orang saleh harus diiringi dengan keimanan pribadi.

4. Pengkhianatan dalam ayat ini bukan pengkhianatan seksual, tetapi pengkhianatan terhadap agama dan dakwah.

5. Setiap manusia bertanggung jawab atas pilihannya.

6. Nabi sekalipun tidak dapat menyelamatkan orang yang tetap menolak iman dengan kehendak Allah.

7. Nasab dan status keluarga tidak cukup untuk menyelamatkan manusia.

K. TAFSIR SURAT AT-TAHRIM AYAT 11

1. Teks Ayat

 وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ۝١١

Artinya:

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.’”

L. SIAPAKAH ISTRI FIR‘AUN?

Dalam literatur Islam, ia dikenal sebagai:

 آسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ

Asiyah binti Muzahim.

Ia adalah istri Fir‘aun, seorang penguasa yang dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai manusia yang sangat sombong dan zalim.

Fir‘aun bahkan mengucapkan: أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”

Namun, di dalam istana Fir‘aun terdapat seorang perempuan yang hatinya memilih iman kepada Allah.

Inilah keagungan Asiyah.

M. ASIYAH: IMAN DI TENGAH LINGKUNGAN KEZALIMAN

Asiyah hidup di:

istana kekuasaan,

kemewahan,

lingkungan kekufuran,

kekuasaan yang zalim.

Namun kemewahan tidak membuatnya lupa kepada Allah.

Ia lebih memilih: 

iman daripada istana.

Ia lebih memilih: 

surga daripada kekuasaan dunia.

N. DOA ASIYAH YANG SANGAT AGUNG

Asiyah berdoa:

 رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Wahai Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di surga.”

Perhatikan susunan doanya.

Ia mendahulukan:  عِنْدَكَ

“Di sisi-Mu.”

Kemudian: بَيْتًا

“sebuah rumah.”

Kemudian: فِي الْجَنَّةِ

“di dalam surga.”

Para ulama mengambil pelajaran bahwa Asiyah tidak sekadar menginginkan surga, tetapi ia menginginkan: 

kedekatan kepada Allah.

Ia tidak meminta: 

istana Fir‘aun.

Ia tidak meminta:

Kekuasaan Fir‘aun.

Ia tidak meminta:

harta Fir‘aun.

Ia meminta:

sebuah rumah di sisi Allah.

O. TIGA PERMINTAAN ASIYAH

Pertama

 رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Meminta rumah di surga.

Kedua

وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ

“Selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya.”

Artinya ia meminta perlindungan:

dari orang zalim,

dari ajarannya,

dari pengaruhnya,

dan dari perbuatan buruknya.

Ketiga

 وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

Seorang mukmin tidak hanya ingin lepas dari kezaliman individu, tetapi juga ingin diselamatkan dari sistem dan lingkungan kezaliman.

P. HADIS TENTANG KEMULIAAN ASIYAH

Rasulullah Saw bersabda:

 كَثِيرٌ مِنَ الرِّجَالِ كَمُلَ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ

Artinya:

“Banyak laki-laki yang mencapai kesempurnaan, sedangkan dari kalangan perempuan yang mencapai kesempurnaan tidaklah banyak, kecuali Asiyah istri Fir‘aun dan Maryam putri Imran.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan tingginya kedudukan dua perempuan tersebut.

Q. TADABBUR DARI KISAH ASIYAH

1. Pasangan yang buruk tidak harus menghancurkan iman

Asiyah adalah istri seorang penguasa yang zalim.

Tetapi ia tetap menjaga iman.

Pesannya: 

Jangan menjadikan lingkungan sebagai alasan untuk meninggalkan Allah.

2. Kekayaan tidak selalu membawa keselamatan

Asiyah tinggal di istana.

Tetapi ia memilih rumah sederhana di surga daripada seluruh kemewahan dunia.

3. Seorang perempuan mempunyai kedudukan tinggi dalam Islam

Al-Qur’an menjadikan Asiyah sebagai:

 مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا

“Perumpamaan bagi orang-orang beriman.”

Bukan hanya bagi perempuan.

Tetapi bagi:

laki-laki,

perempuan,

tua,

muda.

R. ISI KANDUNGAN AYAT 11

1. Iman dapat tumbuh di lingkungan yang paling sulit.

2. Perempuan dapat menjadi teladan besar bagi seluruh manusia.

3. Kedudukan dan kekayaan tidak boleh mengalahkan iman.

4. Seorang mukmin harus meminta perlindungan dari pengaruh kezaliman.

5. Surga harus lebih dicintai daripada kenikmatan dunia.

6. Kedekatan kepada Allah lebih utama daripada kemewahan dunia.

7. Asiyah adalah salah satu perempuan paling mulia dalam sejarah Islam.

S. TAFSIR SURAT AT-TAHRIM AYAT 12

1. Teks Ayat

 وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ ۝١٢

Artinya:

“Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh ciptaan Kami. Dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, dan dia termasuk orang-orang yang taat.”

T. SIAPAKAH MARYAM BINTI IMRAN?

Maryam adalah:

 مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ

putri Imran.

Ia adalah ibu Nabi Isa عليه السلام.

Maryam adalah salah satu perempuan paling mulia dalam sejarah manusia.

Allah mengabadikan namanya dalam Al-Qur’an.

Bahkan terdapat satu surat bernama:

سُورَةُ مَرْيَمَ Surat Maryam.

U. MAKNA: الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا

“Yang menjaga kehormatannya.”

Kata: أَحْصَنَتْ

berasal dari: الإِحْصَان

yang berarti menjaga dan membentengi diri.

Maryam menjaga:

kehormatannya,

kesuciannya,

dirinya dari perbuatan yang dilarang Allah.

Maryam menjadi teladan:

Kesucian dan kehormatan bukan sesuatu yang kuno, tetapi merupakan kemuliaan manusia.

V. MAKNA: فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا

“Maka Kami tiupkan ke dalamnya sebagian dari roh Kami.”

Ayat ini harus dipahami berdasarkan akidah Islam.

Kata: مِنْ رُوحِنَا

bukan berarti bahwa roh manusia merupakan bagian dari Zat Allah.

Dalam penjelasan para ulama, ini adalah bentuk:

إِضَافَةُ التَّشْرِيفِ

penyandaran sebagai bentuk kemuliaan.

Maksudnya adalah: 

roh yang diciptakan oleh Allah dan disandarkan kepada-Nya sebagai bentuk pemuliaan.

Allah menciptakan Nabi Isa عليه السلام dengan mukjizat yang luar biasa.

W. KELAHIRAN NABI ISA: KEKUASAAN ALLAH

Maryam mengandung Nabi Isa tanpa hubungan biologis dengan laki-laki.

Ini merupakan mukjizat dan tanda kekuasaan Allah.

Allah berkuasa menciptakan:

Nabi Adam tanpa ayah dan ibu,

Hawa dari Nabi Adam,

Nabi Isa tanpa ayah,

dan manusia lainnya melalui ayah dan ibu.

Semuanya menunjukkan: 

Allah tidak terikat dengan kebiasaan hukum alam yang Dia sendiri ciptakan.

X. MAKNA: وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ

“Dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya.”

Maryam adalah seorang perempuan yang:

beriman kepada Allah,

menerima kebenaran wahyu,

tunduk kepada perintah Allah.

Iman Maryam bukan hanya pengakuan.

Ia membuktikannya dengan:

kesabaran,

ketaatan,

keteguhan.

Y. MAKNA: وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

“Dan dia termasuk orang-orang yang taat.”

Kata: الْقَانِتِينَ

berarti orang-orang yang:

tekun dalam ketaatan,

tunduk kepada Allah,

beribadah dengan sungguh-sungguh.

Maryam adalah perempuan, tetapi ayat menggunakan bentuk umum:  الْقَانِتِينَ

yang menunjukkan ia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang taat.

Z. HADIS TENTANG KEMULIAAN MARYAM

Rasulullah Saw  bersabda:

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ

Artinya:

“Perempuan terbaik pada zamannya adalah Maryam binti Imran, dan perempuan terbaik pada zamannya adalah Khadijah binti Khuwailid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw juga menyebut:  آسِيَةُ وَمَرْيَمُ

Asiyah dan Maryam sebagai perempuan yang mencapai derajat kesempurnaan yang tinggi.

AA. TADABBUR DARI KISAH MARYAM

1. Menjaga kehormatan adalah kekuatan

Zaman modern sering menganggap kebebasan tanpa batas sebagai kemajuan.

Namun Al-Qur’an mengajarkan:

Manusia yang mampu menjaga dirinya adalah manusia yang kuat.

2. Ketika manusia mencela, Allah mengetahui kebenaran

Maryam menghadapi ujian yang sangat berat.

Secara lahiriah, ia mengandung tanpa suami.

Manusia dapat menuduh.

Tetapi Allah mengetahui kebenarannya.

Pelajarannya:

Jangan menggantungkan seluruh nilai diri kepada penilaian manusia.

Yang paling penting adalah:

Allah mengetahui kebenaran.

3. Ketaatan membutuhkan pengorbanan

Maryam tidak memilih jalan hidup yang mudah.

Ia menerima ketetapan Allah.

Karena itu:

Orang yang taat kepada Allah tidak selalu memiliki kehidupan yang mudah, tetapi ia memiliki pertolongan dan kemuliaan dari Allah.

AB. ISI KANDUNGAN AYAT 12

1. Maryam adalah teladan kesucian dan kehormatan.

2. Menjaga diri adalah bagian dari keimanan.

3. Nabi Isa lahir dengan mukjizat atas kekuasaan Allah.

4. Allah Mahakuasa menciptakan dengan cara yang dikehendaki-Nya.

5. Maryam membenarkan wahyu Allah.

6. Maryam termasuk hamba Allah yang sangat taat.

7. Perempuan memiliki kedudukan mulia melalui iman dan ketakwaannya.

AC. PERBANDINGAN EMPAT PEREMPUAN DALAM PENUTUP SURAT AT-TAHRIM

Tokoh Lingkungan Pilihan Hasil

Istri Nabi Nuh Suami seorang Nabi Memilih kekufuran Mendapat azab

Istri Nabi Luth Suami seorang Nabi Berpihak kepada kebatilan Mendapat azab

Asiyah Istri penguasa zalim Memilih iman Mendapat kemuliaan

Maryam Hidup dalam kesucian dan ujian Memilih ketaatan Menjadi teladan sepanjang zaman

Dari tabel tersebut terlihat:

Yang menentukan kedudukan manusia bukan lingkungannya, tetapi pilihan imannya dan amalnya.

AD. HUBUNGAN AYAT 10–12 DENGAN SELURUH SURAT AT-TAHRIM

Surat At-Tahrim dimulai dengan persoalan rumah tangga Nabi Saw dan berakhir dengan kisah empat perempuan.

Ini menunjukkan bahwa:

Rumah tangga bukan sekadar urusan dunia, tetapi tempat ujian iman.

Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth

Mengajarkan:

keluarga yang dekat dengan orang saleh belum tentu selamat tanpa iman.

Asiyah

Mengajarkan:

pasangan yang zalim tidak dapat memaksa seseorang kehilangan iman.

Maryam

Mengajarkan:

menjaga kehormatan dan ketaatan kepada Allah adalah jalan kemuliaan.

AE. HUBUNGAN SELURUH AYAT SURAT AT-TAHRIM 1–12

AYAT 1–3: PELAJARAN TENTANG KEHIDUPAN PRIBADI DAN KELUARGA

Jangan mengharamkan yang Allah halalkan.

Jangan menyulitkan diri secara berlebihan.

Jaga sumpah.

Jaga rahasia.

Selesaikan persoalan rumah tangga dengan bijaksana.

AYAT 4–6: TAUBAT DAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA

Segera bertaubat.

Jangan bersekutu dalam keburukan.

Bangun karakter dengan iman dan ibadah.

Selamatkan diri dan keluarga dari neraka.

AYAT 7–9: PENYESALAN, TAUBAT, DAN PERJUANGAN

Jangan menunda taubat.

Taubatlah dengan taubat nasuha.

Mohon cahaya dan ampunan Allah.

Berjuanglah menegakkan kebenaran secara sah, adil, dan sesuai syariat.

AYAT 10–12: TANGGUNG JAWAB IMAN INDIVIDU

Hubungan keluarga tidak menjamin keselamatan.

Lingkungan buruk tidak harus menghancurkan iman.

Pilihlah iman.

Jagalah kehormatan.

Jadilah hamba yang taat kepada Allah.

AF. KESIMPULAN AKHIR: PESAN BESAR SURAT AT-TAHRIM

Surat At-Tahrim dapat disebut sebagai surat pendidikan iman, keluarga, rahasia, taubat, tanggung jawab, dan keteladanan.

Beberapa pesan besarnya adalah:

1. Tidak boleh mengubah hukum Allah sesuai hawa nafsu.

2. Rumah tangga harus dibangun dengan adab.

3. Rahasia harus dijaga.

4. Setiap manusia wajib bertaubat.

5. Keluarga harus dijaga dari neraka.

6. Penyesalan akhirat tidak akan bermanfaat.

7. Taubat nasuha adalah jalan keselamatan.

8. Kedekatan dengan orang saleh tidak cukup tanpa iman pribadi.

9. Lingkungan yang buruk tidak menjadi alasan untuk meninggalkan iman.

10. Perempuan memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Al-Qur’an apabila beriman dan bertakwa.

11. Kekuasaan dan kekayaan tidak lebih berharga daripada iman.

12. Kehormatan dan kesucian merupakan kemuliaan.

AG. DOA-DOA PILIHAN DARI SURAT AT-TAHRIM

1. Doa Orang Beriman Memohon Cahaya

 رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:

“Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

2. Doa Asiyah

رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya:

“Wahai Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

AH. PENUTUP DAN REFLEKSI KAJIAN

Kajian Surat At-Tahrim ayat 1–12 memberikan sebuah perjalanan pendidikan yang sangat lengkap.

Surat ini mengajarkan bahwa persoalan sekecil apa pun dalam keluarga dapat menjadi bahan pendidikan iman.

Kesalahan harus dibalas dengan: 

taubat.

Kelemahan keluarga harus diperbaiki dengan:

iman.

Anak-anak harus dilindungi dengan:

pendidikan agama.

Masa lalu harus diperbaiki dengan:

taubat nasuha.

Masa depan harus dipersiapkan dengan:

iman dan amal saleh.

Dan setiap manusia harus memahami:

Tidak ada hubungan keluarga, jabatan, kekayaan, kekuasaan, maupun kedekatan dengan orang saleh yang dapat menggantikan iman pribadi.

Pesan penutup Surat At-Tahrim adalah:

Jadilah seperti Asiyah yang memilih Allah meskipun hidup di istana Fir‘aun, dan jadilah seperti Maryam yang menjaga kehormatan serta ketaatannya kepada Allah dalam ujian yang sangat berat.

DAFTAR KITAB RUJUKAN

Kitab Tafsir Klasik

Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān.

Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.

Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān.

Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl.

Hamka, Tafsir Al-Azhar.

Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsīr al-Jalālain.

Fakhruddin Ar-Razi, Mafātīḥ al-Ghayb.

Abu Hayyan Al-Andalusi, Al-Baḥr al-Muḥīṭ.

Kitab Tafsir Modern

Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsīr al-Munīr.

Sayyid Qutb, Fī Ẓilāl al-Qur’ān.

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah

Kitab Hadis

Imam Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.

Imam Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim.

Imam At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi.

Imam An-Nasa’i, Sunan An-Nasā’ī.

Ibnu Majah, Sunan Ibnu Mājah.

KESIMPULAN AKHIR SATU KALIMAT

Surat At-Tahrim mengajarkan bahwa keselamatan dunia dan akhirat dibangun dengan menjaga batas-batas Allah, memperbaiki kesalahan dengan taubat, menjaga keluarga dengan iman, dan tetap teguh memilih kebenaran dalam keadaan apa pun.

Redaksi Islamic tekhno tv com 

Posting Komentar untuk "Bagian IV Penutup, AT-TAHRIM AYAT 10–12 " Istri Nabi Nuh, Isteri Nabi Luth, Asiyah, Isteri Fir'aun, dan Maryam binti Imran"