TATA CARA MENULIS CERITA

Cara menulis cerita , by. ust.Bustami

TATA CARA MENULIS CERITA                                 ( Panduan Sistematis dan Lengkap Contoh )

Oleh : Cik gu Bustam Ahmad ( kls.Literasi )

A. Pembahasan awal

Cerita pendek atau cerpen merupakan salah satu bentuk karya sastra berupa prosa fiksi yang relatif singkat. Cerpen menyajikan sebuah peristiwa atau konflik utama yang dialami oleh tokoh tertentu dalam waktu yang terbatas. Berbeda dengan novel yang dapat memiliki banyak tokoh dan berbagai konflik, cerpen biasanya lebih terfokus, padat, dan dapat dibaca dalam sekali duduk.

Menulis cerpen bukan sekadar menyusun kalimat yang indah. Penulis harus mampu menemukan ide, menciptakan tokoh, membangun konflik, menentukan alur, memilih sudut pandang, menciptakan suasana, serta menyampaikan amanat secara menarik.

" Menulis cerpen pada hakikatnya adalah seni mengubah ide, pengalaman, imajinasi, dan realitas kehidupan menjadi sebuah cerita yang singkat, utuh, hidup, dan bermakna." 

B. Pengertian Cerpen

Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek, yaitu karya sastra berbentuk prosa fiksi yang menceritakan satu peristiwa pokok yang dialami oleh seorang atau beberapa tokoh.

Cerpen mempunyai ciri utama sebagai berikut:

1. Ceritanya relatif singkat.

2. Dapat dibaca dalam sekali duduk.

3. Berfokus pada satu konflik utama.

4. Jumlah tokohnya terbatas.

5. Latar tidak terlalu banyak.

6. Alur cerita lebih sederhana.

7. Tokoh mengalami suatu persoalan atau perubahan.

8. Memiliki awal, tengah, dan akhir.

9. Mengandung pesan atau amanat.

10. Menggunakan bahasa yang mampu membangkitkan imajinasi pembaca.

C. Tujuan Menulis Cerpen

Menulis cerpen bertujuan untuk:

1. Menghibur pembaca.

2. Menyampaikan pengalaman hidup.

3. Menyampaikan kritik sosial.

4. Mengembangkan daya imajinasi.

5. Menanamkan nilai moral dan pendidikan.

6. Menyampaikan pesan keagamaan atau kemanusiaan.

7. Mendokumentasikan peristiwa kehidupan.

8. Mengembangkan kemampuan berbahasa dan sastra.

D. UNSUR-UNSUR PEMBANGUN CERPEN

Sebelum menulis cerpen, seorang penulis harus memahami unsur-unsur intrinsik cerpen.

1. Tema

Tema adalah gagasan pokok atau dasar cerita.

Contoh tema:

- Persahabatan

- Kejujuran

- Kasih sayang orang tua

- Pendidikan

- Kemiskinan

- Perjuangan hidup

- Keagamaan

- Kepedulian lingkungan

- Korupsi

- Pengorbanan

Contoh:

Tema cerpen:

“Perjuangan seorang anak dari keluarga miskin untuk tetap bersekolah.”

2. Tokoh

Tokoh adalah orang atau pelaku yang menjalankan cerita.

Contoh:

- Ahmad

- Siti

- Ibu

- Guru

- Sahabat

- Kepala sekolah

Contoh tokoh:

" Ahmad adalah seorang anak rajin dari keluarga sederhana."

Tokoh yang paling banyak mengalami konflik disebut tokoh utama.

Tokoh yang membantu atau mendukung jalannya cerita disebut tokoh tambahan.

3. Penokohan atau Perwatakan

Penokohan adalah cara penulis menggambarkan sifat tokoh.

Sifat tokoh dapat berupa:

- Jujur

- Rajin

- Sabar

- Pemarah

- Sombong

- Dermawan

- Penyayang

- Disiplin

- Malas

Contoh:

«Ahmad selalu datang ke sekolah lebih awal. Walaupun rumahnya jauh, ia tidak pernah mengeluh.»

Dari kalimat tersebut dapat diketahui bahwa Ahmad memiliki sifat rajin dan disiplin.

4. Alur atau Plot

Alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk jalan cerita.

Tahapan alur cerpen:

1. Pengenalan

Memperkenalkan tokoh dan keadaan.

2. Munculnya masalah

Konflik mulai terjadi.

3. Konflik berkembang

Masalah menjadi semakin rumit.

4. Klimaks

Konflik mencapai puncak.

5. Penyelesaian

Masalah menemukan jalan keluar.

Contoh sederhana:

"Ahmad ingin mengikuti ujian, tetapi tidak memiliki uang untuk membeli perlengkapan sekolah. Masalah semakin besar ketika ayahnya jatuh sakit. Ahmad hampir menyerah. Namun, gurunya memberikan bantuan dan Ahmad akhirnya dapat mengikuti ujian."

5. Latar

Latar merupakan tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa.

a. Latar tempat

Contoh:

- Di sekolah

- Di rumah

- Di masjid

- Di pasar

- Di sawah

b. Latar waktu

Contoh:

- Pagi hari

- Malam hari

- Hari Senin

- Saat bulan Ramadan

c. Latar suasana

Contoh:

- Sedih

- Tegang

- Bahagia

- Menakutkan

- Haru

6. Sudut Pandang

Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam menceritakan cerita.

Orang pertama

Menggunakan kata:

"Aku, saya, kami."

Contoh:

"Aku berlari menuju sekolah sambil membawa tas yang sudah kusam.,"

Orang ketiga

Menggunakan nama tokoh atau kata:

"Dia, ia, mereka."

Contoh:

"Ahmad berlari menuju sekolah sambil membawa tas yang sudah kusam."

7. Konflik

Konflik merupakan masalah atau pertentangan dalam cerita.

Tanpa konflik, cerita biasanya terasa datar.

Contoh konflik:

"Ahmad ingin membeli buku, tetapi uang yang dimilikinya harus digunakan untuk membeli obat ibunya."

Konflik dapat terjadi antara:

- Manusia dengan manusia.

- Manusia dengan dirinya sendiri.

- Manusia dengan masyarakat.

- Manusia dengan alam.

8. Amanat

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penulis.

Contoh amanat:

Jangan mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan hidup."

Amanat sebaiknya tidak selalu disampaikan secara langsung, tetapi dapat tersirat melalui peristiwa dan tindakan tokoh.

E. LANGKAH-LANGKAH MENULIS CERPEN

Langkah 1: Menentukan Ide Cerita

Ide dapat diperoleh dari mana saja.

Sumber ide antara lain:

- Pengalaman pribadi

- Kehidupan keluarga

- Peristiwa di sekolah

- Persahabatan

- Lingkungan masyarakat

- Berita

- Sejarah

- Mimpi

- Imajinasi

Contoh:

Pengalaman:

"Seorang siswa terlambat ke sekolah karena membantu nenek menyeberang jalan."

Ide cerpen:

"Seorang siswa mendapat hukuman karena terlambat, tetapi kemudian gurunya mengetahui bahwa ia terlambat karena menolong seorang nenek."

Langkah 2: Menentukan Tema

Setelah mendapatkan ide, tentukan tema utama.

Contoh:

Ide: Seorang siswa membantu nenek.

Tema: Kepedulian sosial.

Langkah 3: Menentukan Tokoh

Tentukan:

1. Siapa tokoh utama?

2. Siapa tokoh pendukung?

3. Apa sifat mereka?

4. Apa masalah yang mereka hadapi?

Contoh:

Tokoh| Sifat

Farhan| Baik dan peduli

Pak Guru| Tegas tetapi bijaksana

Nenek| Lemah dan membutuhkan bantuan

Langkah 4: Menentukan Konflik

Buatlah masalah yang menarik.

Contoh:

"Farhan terlambat masuk kelas karena menolong seorang nenek. Guru tidak percaya dan menghukumnya."

Konflik ini menimbulkan pertanyaan:

"Apakah Farhan akan tetap dihukum?

Apakah guru akan mengetahui kebenarannya?"

Pertanyaan seperti inilah yang membuat pembaca ingin melanjutkan cerita.

Langkah 5: Menentukan Alur

Susun peristiwa secara berurutan.

Contoh kerangka:

1. Farhan berangkat ke sekolah.

2. Ia bertemu nenek yang kesulitan menyeberang.

3. Farhan membantu nenek.

4. Ia tiba terlambat di sekolah.

5. Guru menghukumnya.

6. Seorang warga datang menjelaskan kejadian sebenarnya.

7. Guru meminta maaf kepada Farhan.

8. Farhan mendapat penghargaan.

Langkah 6: Menentukan Latar

Contoh:

- Tempat: Jalan raya dan sekolah.

- Waktu: Senin pagi.

- Suasana: Tegang dan haru.

Langkah 7: Menentukan Sudut Pandang

Misalnya:

Orang pertama:

"Aku melihat seorang nenek berdiri di tepi jalan."

Atau:

Orang ketiga:

"Farhan melihat seorang nenek berdiri di tepi jalan."

Langkah 8: Membuat Pembukaan yang Menarik

Pembukaan merupakan bagian penting untuk menarik perhatian pembaca.

Contoh pembukaan kurang menarik:

"Pada suatu hari ada seorang anak bernama Farhan."

Contoh pembukaan lebih menarik:

"Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit ketika Farhan berlari sekuat tenaga menuju gerbang sekolah."

Pembukaan kedua lebih menarik karena langsung membawa pembaca ke dalam situasi cerita.

Langkah 9: Mengembangkan Cerita

Gunakan:

- Narasi

- Deskripsi

- Dialog

- Konflik

Contoh narasi:

"Farhan berlari menuju sekolah."

Contoh deskripsi:

"Seragam putihnya basah oleh keringat dan napasnya tersengal-sengal."

Contoh dialog:

“Mengapa kamu terlambat?” tanya Pak Hasan."

“Maaf, Pak. Saya membantu seorang nenek menyeberang jalan,” jawab Farhan."

Penggabungan ketiganya akan membuat cerpen lebih hidup.

Langkah 10: Menentukan Klimaks

Klimaks merupakan puncak ketegangan cerita.

Contoh:

“Saya tidak mau mendengar alasan!” bentak Pak Hasan. “Kamu tetap mendapat hukuman!”

Farhan hanya menundukkan kepala.

Pada saat itulah seorang nenek datang ke sekolah.

“Anak ini telah menolong saya,” katanya sambil menunjuk Farhan."

Langkah 11: Menulis Penyelesaian

Penyelesaian dapat berupa:

1. Akhir bahagia.

2. Akhir sedih.

3. Akhir mengejutkan.

4. Akhir terbuka.

Contoh:

"Pak Hasan akhirnya meminta maaf kepada Farhan dan menyadari bahwa tidak semua keterlambatan disebabkan oleh kemalasan."

Langkah 12: Melakukan Penyuntingan

Setelah cerpen selesai, jangan langsung menganggap tulisan sudah sempurna.

Periksa kembali:

- Ejaan.

- Tanda baca.

- Struktur kalimat.

- Nama tokoh.

- Jalan cerita.

- Konsistensi waktu.

- Konflik.

- Amanat.

F. STRUKTUR CERPEN

Secara umum, struktur cerpen dapat dibagi menjadi:

1. Orientasi

Bagian pengenalan tokoh dan latar.

2. Komplikasi

Bagian ketika masalah mulai muncul.

3. Klimaks

Puncak konflik.

4. Resolusi

Penyelesaian masalah.

5. Koda

Pesan atau penutup cerita.

G. CONTOH KERANGKA MENULIS CERPEN

Judul:

“Sepatu yang Terlambat”

Tema:

Perjuangan dan pendidikan.

Tokoh:

- Rafi

- Ibu

- Pak Guru

Latar:

Desa, rumah, sekolah, pagi hari.

Konflik:

Rafi tidak memiliki sepatu yang layak untuk pergi ke sekolah.

Klimaks:

Rafi menemukan uang di jalan dan ingin menggunakannya untuk membeli sepatu, tetapi pemilik uang sedang mencarinya.

Penyelesaian:

Rafi mengembalikan uang tersebut dan mendapatkan bantuan pendidikan.

Amanat:

Kejujuran harus tetap dipertahankan meskipun seseorang sedang mengalami kesulitan.

H. CONTOH CERPEN LENGKAP

SEPATU UNTUK RAKYAT KECIL

Oleh: Bustami Ahmad 

Pagi itu, Rafi berdiri cukup lama di depan pintu rumahnya. Ia menatap sepatunya yang sudah sobek di bagian depan.

“Apakah kamu tidak jadi pergi sekolah, Nak?” tanya ibunya dari dalam rumah.

Rafi menghela napas.

“Rafi malu, Bu. Semua teman memakai sepatu baru.”

Ibunya keluar dari dapur sambil membawa sebuah piring kecil.

“Maafkan Ibu. Ibu belum mampu membelikanmu sepatu.”

Rafi segera menundukkan kepala. Ia merasa bersalah telah membuat ibunya sedih.

“Tidak apa-apa, Bu. Rafi akan tetap pergi.”

Rafi berjalan menuju sekolah. Di tengah perjalanan, ia melihat sebuah dompet tergeletak di tepi jalan.

Dengan jantung berdebar, ia membuka dompet tersebut.

Di dalamnya terdapat sejumlah uang.

Rafi terdiam.

Uang itu cukup untuk membeli sepasang sepatu baru.

Tiba-tiba muncul suara dalam hatinya.

“Kalau uang ini kau ambil, kau bisa membeli sepatu.”

Namun, suara lain kembali muncul.

“Tetapi uang ini bukan milikmu.”

Rafi menutup dompet itu.

Tidak jauh dari tempat tersebut, ia melihat seorang lelaki tua berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas.

“Pak, apakah Bapak kehilangan sesuatu?” tanya Rafi.

Lelaki itu menatapnya.

“Ya, Nak. Saya kehilangan dompet. Di dalamnya ada uang untuk membeli obat istri saya.”

Rafi segera menyerahkan dompet tersebut.

Lelaki itu terkejut.

“Apakah kamu tidak mengambil uangnya?”

Rafi menggeleng.

“Itu bukan uang saya, Pak.”

Mata lelaki tua itu berkaca-kaca.

“Terima kasih, Nak. Semoga Allah membalas kebaikanmu.”

Rafi tersenyum.

“Doakan saja saya, Pak.”

Karena kejadian tersebut, Rafi kembali terlambat tiba di sekolah.

“Rafi! Ini sudah ketiga kalinya kamu datang terlambat!” kata Pak Guru dengan tegas.

“Maaf, Pak. Saya…”

“Tidak ada alasan!”

Rafi hanya terdiam.

Pada jam istirahat, lelaki tua pemilik dompet tadi datang ke sekolah. Ia menjelaskan kepada Pak Guru tentang apa yang telah dilakukan Rafi.

Pak Guru terdiam cukup lama.

Kemudian beliau memanggil Rafi.

“Maafkan Bapak karena telah menilaimu tanpa mengetahui kebenarannya.”

Rafi tersenyum.

“ Tidak apa-apa, Pak.”

Beberapa hari kemudian, seluruh siswa dikumpulkan di lapangan sekolah.

Kepala sekolah memanggil nama Rafi ke depan.

Hari itu, Rafi mendapatkan penghargaan sebagai siswa paling jujur.

Ia juga menerima sebuah hadiah.

Sebuah kotak.

Ketika dibuka, di dalamnya terdapat sepasang sepatu baru.

Rafi memeluk sepatu itu.

Namun, yang paling membuatnya bahagia bukanlah sepatu tersebut.

Ia teringat kata ibunya:

“Harta boleh hilang, Nak. Tetapi jangan pernah kehilangan kejujuran.”

Rafi tersenyum.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa langkah kecilnya menuju sekolah telah mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sepasang sepatu.

Amanat Cerpen

"Kejujuran harus tetap dipertahankan dalam keadaan apa pun. Kesulitan hidup bukan alasan untuk mengambil hak orang lain."

I. TIPS AGAR CERPEN MENARIK

1. Mulailah dengan kalimat yang kuat

Contoh:

“Ketika aku membuka pintu rumah itu, semua orang sedang menangis.”

Kalimat ini membuat pembaca penasaran.

2. Jangan terlalu banyak menjelaskan

Kurang efektif:

"Ali sangat sedih. Ali merasa hatinya sakit. Ali sangat kecewa dan sedih."

Lebih efektif:

"Ali menatap surat itu lama-lama. Tangannya gemetar, lalu ia melipat kertas tersebut tanpa berkata apa-apa."

Tindakan tokoh lebih kuat daripada penjelasan berlebihan.

3. Gunakan dialog yang wajar

Contoh:

“Mengapa kamu tidak pulang?”

“Aku masih menunggu Ayah.”

Dialog dapat membuat cerita terasa hidup.

4. Hindari terlalu banyak tokoh

Cerpen yang singkat tidak membutuhkan terlalu banyak tokoh.

5. Bangun konflik

Tanpa masalah, cerita dapat terasa membosankan.

Contoh:

"Seorang anak menemukan uang."

Belum cukup menarik.

Tambahkan konflik:

"Uang tersebut sangat dibutuhkan untuk pengobatan ibunya, tetapi ternyata pemiliknya sedang mencari uang tersebut."

6. Gunakan akhir yang berkesan

Contoh:

"Ketika ia akhirnya menemukan ayahnya, ternyata lelaki itu tidak lagi mengenalinya."

Atau:

"Aku tersenyum. Ternyata surat yang selama ini kutunggu sudah tersimpan di saku bajuku sendiri."

J. CONTOH CERPEN SINGKAT UNTUK LATIHAN

“PENSIL YANG HILANG”

Rina menangis di dalam kelas.

“Pensilku hilang,” katanya.

Semua teman mencari pensil tersebut, tetapi tidak ditemukan.

Ketika pelajaran dimulai, Budi datang terlambat.

“Budi, mengapa kamu terlambat?” tanya guru.

“Saya mengembalikan pensil Rina, Bu.”

Semua siswa terkejut.

“Tetapi pensilnya ada di dalam kotak pensilku,” kata Rina.

Budi tersenyum.

“Yang saya kembalikan bukan pensilnya.”

“Lalu apa?”

“Kejujuranku.”

Rina mengerutkan kening.

Budi kemudian menunjukkan pensil yang telah ditemukannya di jalan.

“Ternyata pensil ini bukan milikmu. Saya sudah mengembalikannya kepada pemiliknya.”

Rina tersenyum malu.

Hari itu, seluruh kelas belajar bahwa tidak semua barang yang kita temukan boleh kita miliki.

K. LATIHAN MENULIS CERPEN

Buatlah sebuah cerpen berdasarkan tema berikut.

Tema 1:

“Kejujuran”

Tokoh: Seorang siswa.

Konflik: Menemukan uang di sekolah.

Tema 2:

“Kasih Sayang Ibu”

Tokoh: Anak dan ibu.

Konflik: Anak malu karena ibunya bekerja sebagai buruh.

Tema 3:

“Persahabatan”

Tokoh: Dua sahabat.

Konflik: Mereka bersahabat tetapi bersaing dalam sebuah perlombaan.

Tema 4:

“Pendidikan”

Tokoh: Seorang anak miskin.

Konflik: Ia hampir putus sekolah karena tidak memiliki biaya.

Tema 5:

“Lingkungan”

Tokoh: Seorang pelajar.

Konflik: Ia berusaha menyelamatkan sungai yang tercemar.

L. FORMAT PRAKTIS MENULIS CERPEN

Sebelum mulai menulis, isi terlebih dahulu kerangka berikut:

Judul: ............................................

Tema: ............................................

Tokoh utama: ............................................

Sifat tokoh: ............................................

Tokoh pendukung: ............................................

Latar tempat: ............................................

Latar waktu: ............................................

Konflik: ............................................

Klimaks: ............................................

Penyelesaian: ............................................

Amanat: ............................................

Setelah kerangka tersebut selesai, kembangkan menjadi cerita yang utuh.

M. KESIMPULAN

Menulis cerpen adalah kegiatan kreatif yang memerlukan ide, imajinasi, pengamatan, dan keterampilan berbahasa. Seorang penulis cerpen harus mampu menyusun sebuah cerita yang memiliki tema jelas, tokoh yang hidup, konflik yang menarik, alur yang runtut, latar yang mendukung, dan amanat yang bermakna.

Secara sederhana, tata cara menulis cerpen dapat dilakukan melalui langkah:

Mencari Ide → Menentukan Tema → Menciptakan Tokoh → Menentukan Latar → Membuat Konflik → Menyusun Alur → Menentukan Sudut Pandang → Menulis Pembukaan → Mengembangkan Cerita → Membuat Klimaks → Menyelesaikan Konflik → Menyunting Cerita.

Prinsip penting yang harus diingat dalam menulis cerpen adalah:

“Cerita yang baik bukan selalu cerita yang panjang, tetapi cerita yang mampu membuat pembaca merasa sedang mengalami peristiwa yang diceritakan.”

Dengan banyak membaca cerpen, mengamati kehidupan, rajin berlatih menulis, dan terus memperbaiki karya, seseorang akan semakin mampu menghasilkan cerpen yang menarik, hidup, dan berkesan.

Rujukan Singkat

- Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada University Press.

- Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. Apresiasi Kesusastraan.

- Kosasih, E. Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra.

- Stanton, Robert. Teori Fiksi.

- Tarigan, Henry Guntur. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra.

Posting Komentar untuk "TATA CARA MENULIS CERITA"