BERLAKU ADIL LAH SEMUA HAL

Berlaku adil lah semua hal, by.ust.Bustami

TADABBUR AL-QUR’AN: BERLAKU ADIL (Berdasarkan QS. Al-Mā’idah Ayat 8 )

Oleh : ust.Bustami Ahmad,S.Ag.,M.Pd

1. Dalil dasar hukum ayat Al Ma'idah ayat 8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

2. Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Mā’idah: 8)

3. Tafsir Ayat

Ayat ini merupakan salah satu prinsip agung dalam Islam tentang keadilan. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk berlaku adil kepada orang yang kita cintai, kepada keluarga, sahabat, atau orang yang sejalan dengan kita. Bahkan ketika hati kita dipenuhi rasa tidak suka kepada seseorang atau suatu kelompok, Allah tetap memerintahkan kita untuk berlaku adil.

A. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا”

“Wahai orang-orang yang beriman!”

Allah memulai ayat dengan panggilan:

“Wahai orang-orang yang beriman.”

Ini menunjukkan bahwa perintah berlaku adil adalah bagian dari konsekuensi iman.

Iman bukan hanya ibadah ritual. Iman juga harus terlihat dalam sikap kita kepada manusia.

Orang yang beriman harus berusaha agar lisannya adil, pikirannya adil, penilaiannya adil, keputusannya adil, dan perlakuannya terhadap orang lain juga adil.

B. “كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ”

“Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah.”

Kata قَوَّامِينَ (qawwāmīn) menunjukkan orang-orang yang bersungguh-sungguh dan terus-menerus menegakkan sesuatu.

Artinya, keadilan bukan sikap sesaat.

Kita diperintahkan untuk menjadi orang yang konsisten menegakkan keadilan.

Yang lebih penting lagi adalah:

“لِلَّهِ” yaitu karena Allah.

Kita berlaku adil bukan karena ingin dipuji manusia.

Bukan karena ingin disebut bijaksana.

Bukan karena takut kehilangan teman.

Bukan karena ingin mendapatkan keuntungan.

Tetapi karena kita sadar bahwa Allah memerintahkan kita untuk adil.

Dengan demikian, ukuran keadilan seorang Muslim bukanlah kepentingan pribadi, melainkan keridaan Allah.

C. “شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ”

“Menjadi saksi dengan adil.”

Seorang Muslim harus berhati-hati ketika memberikan kesaksian, menyampaikan berita, menilai seseorang, atau mengambil keputusan.

Jangan sampai kita membesar-besarkan kesalahan orang yang tidak kita sukai, tetapi mengecilkan kesalahan orang yang kita cintai.

Jangan pula sebaliknya.

Keadilan menuntut kita untuk mengatakan sesuatu sesuai dengan kenyataan.

Jika seseorang benar, kita harus mengatakan dia benar.

Jika seseorang salah, kita harus mengatakan dia salah.

Walaupun orang tersebut bukan teman kita.

Dan apabila orang yang kita cintai melakukan kesalahan, kita juga tidak boleh membenarkan kesalahannya hanya karena hubungan kedekatan.

4. Larangan Membiarkan Kebencian Menghilangkan Keadilan

Allah berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.”

Inilah bagian yang sangat dalam dari ayat ini.

Manusia mudah berlaku adil kepada orang yang dicintainya.

Tetapi ujian keadilan yang sebenarnya adalah:

Apakah kita masih mampu berlaku adil kepada orang yang kita tidak sukai?

Kebencian sering membuat manusia kehilangan objektivitas.

Ketika kita membenci seseorang, kesalahan kecilnya terlihat besar.

Kebaikannya tidak kita lihat.

Kelemahannya terus kita ungkit.

Perkataannya kita tafsirkan secara buruk.

Sedangkan ketika orang yang kita cintai melakukan kesalahan, kita mencari alasan untuk membelanya.

Al-Qur’an mengajarkan agar seorang Mukmin tidak seperti itu.

Perasaan boleh tidak suka, tetapi keadilan tidak boleh hilang.

Kita boleh tidak menyukai seseorang.

Tetapi kita tidak boleh menzaliminya.

Kita boleh berbeda pendapat.

Tetapi kita tidak boleh berdusta tentangnya.

Kita boleh mengkritiknya.

Tetapi kritik harus berdasarkan kebenaran.

5. “اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ”

“Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Allah memberikan penegasan:

اعْدِلُوا yaitu Berlaku adillah!

Perintah ini sangat jelas.

Kemudian Allah menjelaskan alasannya:

هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Keadilan adalah jalan menuju ketakwaan.

Orang yang bertakwa tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga berusaha menjaga hak-hak manusia.

Sebab takwa berarti kesadaran bahwa Allah selalu melihat apa yang kita lakukan.

Mungkin manusia tidak mengetahui ketika kita berbuat tidak adil.

Mungkin tidak ada yang melihat ketika kita memfitnah seseorang.

Mungkin tidak ada yang mengetahui ketika kita mengambil hak orang lain.

Tetapi Allah mengetahui semuanya.

Karena itu, seorang yang benar-benar bertakwa akan berkata dalam dirinya:

“Aku harus adil, karena Allah melihatku.”

6. “وَاتَّقُوا اللَّهَ”

“Dan bertakwalah kepada Allah.”

Setelah memerintahkan keadilan, Allah kembali memerintahkan ketakwaan.

Ini menunjukkan bahwa keadilan dan takwa memiliki hubungan yang sangat erat.

Keadilan membutuhkan hati yang takut kepada Allah.

Jika seseorang hanya takut kepada manusia, dia akan berlaku adil ketika diawasi.

Tetapi ketika tidak ada yang melihat, dia mungkin berbuat zalim.

Namun orang yang bertakwa menyadari:

Allah selalu melihat.

Karena itu, keadilan harus tetap dijaga:

- ketika ada yang melihat maupun tidak;

- ketika menguntungkan maupun merugikan;

- terhadap teman maupun lawan;

- terhadap orang yang kita cintai maupun orang yang kita benci.

7. “إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ”

“Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ditutup dengan pengingat yang sangat kuat.

Allah Mahateliti terhadap apa yang kita kerjakan.

Allah mengetahui bukan hanya perbuatan kita, tetapi juga apa yang tersembunyi di baliknya.

Allah mengetahui:

- ketika kita mengatakan sesuatu yang benar;

- ketika kita berdusta;

- ketika kita membela seseorang karena kebenaran;

- ketika kita membela seseorang karena hubungan pribadi;

- ketika kita menolak seseorang karena kebencian;

- ketika kita memberikan hak kepada orang lain;

- dan ketika kita mengambil hak orang lain.

Tidak ada kezaliman yang luput dari pengetahuan Allah.

Tidak ada keadilan yang sia-sia di sisi Allah.

8. Tadabbur Ayat: Apa yang Allah Ajarkan kepada Kita?

Tadabbur Pertama: Keadilan adalah perintah Allah

Keadilan bukan sekadar nilai sosial.

Keadilan adalah perintah langsung dari Allah.

Maka ketika kita berlaku adil, sesungguhnya kita sedang menjalankan ibadah.

Tadabbur Kedua: Ukuran keadilan bukan suka atau tidak suka

Sering kali manusia mengatakan:

“Karena saya tidak suka kepadanya, maka saya tidak mau membenarkan perkataannya.”

Al-Qur’an mengajarkan sebaliknya.

Kebenaran tetap kebenaran, walaupun disampaikan oleh orang yang tidak kita sukai.

Kesalahan tetap kesalahan, walaupun dilakukan oleh orang yang kita cintai.

Inilah keadilan yang diajarkan Al-Qur’an.

Tadabbur Ketiga: Kebencian adalah ujian terhadap keadilan

Ayat ini secara khusus mengingatkan tentang kebencian.

Mengapa?

Karena kebencian dapat membutakan hati.

Ketika hati dipenuhi kebencian, seseorang bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak akan dia lakukan jika hatinya tenang.

Maka seorang Muslim harus mampu mengendalikan emosinya.

Jangan biarkan kebencian membuat kita menjadi zalim.

Tadabbur Keempat: Adil harus dimulai dari diri sendiri

Sebelum menuntut orang lain berlaku adil kepada kita, mari bertanya:

“Apakah aku sudah berlaku adil kepada orang lain?”

Sudahkah kita adil kepada pasangan?

Sudahkah kita adil kepada anak-anak?

Sudahkah kita adil kepada orang tua?

Sudahkah kita adil kepada tetangga?

Sudahkah kita adil kepada bawahan?

Sudahkah kita adil kepada orang yang berbeda pendapat dengan kita?

Sudahkah kita adil ketika menjadi pemimpin?

Tadabbur Kelima: Jangan menilai seseorang hanya dari kesalahannya

Keadilan mengajarkan kita untuk melihat sesuatu secara utuh.

Seseorang mungkin mempunyai kesalahan, tetapi bukan berarti seluruh dirinya adalah buruk.

Seseorang mungkin berbeda dengan kita, tetapi bukan berarti seluruh pendapatnya salah.

Seseorang mungkin pernah berbuat salah kepada kita, tetapi bukan berarti kita boleh menzaliminya.

Keadilan mengajarkan kita untuk tetap objektif.

Tadabbur Keenam: Keadilan harus dijaga ketika memiliki kekuasaan

Ketika seseorang mempunyai kekuasaan, jabatan, harta, atau pengaruh, dia mempunyai kesempatan lebih besar untuk berlaku tidak adil.

Karena itu, semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menegakkan keadilan.

Seorang pemimpin harus adil.

Seorang guru harus adil.

Orang tua harus adil kepada anak-anaknya.

Atasan harus adil kepada bawahannya.

Orang yang mempunyai amanah harus menjaga amanah tersebut.

9. Contoh Berlaku Adil dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam keluarga

Jangan membela anak hanya karena dia anak kita ketika dia melakukan kesalahan.

Dalam persahabatan

Jangan membenarkan teman ketika dia melakukan kesalahan hanya karena kita ingin menjaga pertemanan.

Dalam pekerjaan

Jangan memberikan hak istimewa kepada seseorang hanya karena dia dekat dengan kita.

Dalam kepemimpinan

Jangan membeda-bedakan orang berdasarkan kedekatan, status, atau kepentingan pribadi.

Dalam perselisihan

Jangan menceritakan kesalahan lawan dengan melebih-lebihkan kenyataan.

Dalam berbicara

Jangan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya hanya karena kita tidak menyukai orang yang diberitakan.

Dalam menggunakan media sosial

Jangan melakukan penghinaan, fitnah, atau menyebarkan informasi yang belum terbukti benar.

10. Pertanyaan Tadabbur untuk Diri Kita

Mari kita renungkan:

1. Apakah aku sudah mampu berlaku adil kepada orang yang tidak kusukai?

2. Apakah kebencianku kepada seseorang pernah membuatku berkata tidak benar tentangnya?

3. Apakah aku membela kebenaran atau hanya membela kelompokku?

4. Ketika orang yang kusukai melakukan kesalahan, apakah aku berani mengatakan bahwa dia salah?

5. Ketika orang yang tidak kusukai melakukan kebaikan, apakah aku mampu mengakui kebaikannya?

6. Apakah aku sudah adil kepada keluargaku?

7. Apakah aku sudah adil ketika menjadi pemimpin atau ketika diberikan amanah?

8. Ketika berbicara tentang orang lain, apakah perkataanku sesuai dengan fakta?

9. Apakah aku sudah mengingat bahwa Allah mengetahui semua perbuatanku?

11. Inti Kandungan QS. Al-Mā’idah Ayat 8

Dari ayat ini dapat diambil beberapa pelajaran penting:

1. Orang beriman diperintahkan untuk menegakkan keadilan.

2. Keadilan harus dilakukan karena Allah, bukan demi pujian manusia.

3. Seorang Muslim harus menjadi saksi yang jujur dan adil.

4. Kebencian tidak boleh menjadi alasan untuk berbuat zalim.

5. Keadilan berlaku kepada semua manusia, termasuk kepada orang yang tidak kita sukai.

6. Keadilan merupakan jalan yang dekat menuju ketakwaan.

7. Ketakwaan mendorong seseorang untuk berlaku adil meskipun tidak ada manusia yang melihat.

8. Allah mengetahui seluruh perbuatan manusia.

9. Keadilan harus diterapkan dalam keluarga, masyarakat, pekerjaan, kepemimpinan, dan kehidupan sosial.

10. Seorang Muslim harus mengendalikan emosi agar tidak terjerumus kepada kezaliman.

12. Pesan Utama Tadabbur

QS. Al-Mā’idah ayat 8 mengajarkan kepada kita bahwa keadilan yang sebenarnya bukanlah berlaku adil kepada orang yang kita cintai saja.

Keadilan yang sebenarnya adalah ketika kita tetap mampu mengatakan yang benar meskipun kebenaran itu merugikan diri kita.

Tetap memberikan hak kepada orang lain meskipun kita tidak menyukainya.

Tetap mengakui kebaikan seseorang meskipun dia berbeda dengan kita.

Dan tetap menolak kezaliman meskipun dilakukan oleh orang yang kita cintai.

Karena pada akhirnya, yang kita pertanggungjawabkan bukanlah penilaian manusia, tetapi penilaian Allah سبحانه وتعالى.

Allah berfirman: اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Maka marilah kita jadikan ayat ini sebagai cermin untuk diri sendiri:

“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang adil. Jangan biarkan kebencianku membuatku zalim, jangan biarkan kecintaanku membuatku membenarkan kesalahan, dan jangan biarkan kepentinganku membuatku mengambil hak orang lain.”

13. Doa Penutup

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَادِلِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْبَغْضَاءِ، وَأَعِنَّا عَلَى الْحَقِّ وَالْعَدْلِ، وَلَا تَجْعَلْنَا نَظْلِمُ أَحَدًا، وَلَا نَجْعَلُ الْبُغْضَاءَ تَمْنَعُنَا مِنَ الْعَدْلِ.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang adil dan orang-orang yang bertakwa. Bersihkan hati kami dari kedengkian dan kebencian. Tolonglah kami untuk senantiasa berada di atas kebenaran dan keadilan. Jangan jadikan kami menzalimi seorang pun, dan jangan jadikan kebencian menghalangi kami untuk berlaku adil.”

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Redaksi Islamic tekhno tv com 


Posting Komentar untuk "BERLAKU ADIL LAH SEMUA HAL"