TAFSIR DAN TADABBUR SURAT AT-TAHRIM AYAT 4–6
Bagian Kedua:
( Taubat, Adab dalam Rumah Tangga Nabi Saw , dan Tanggung Jawab Menyelamatkan Keluarga dari Api Neraka )
Oleh: Dr.Tgk.H.Amri Fatmi, Lc.,MA
Dirangkum: ustd.Bustami Ahmad,S.Ag.,M.Pd
Berdasarkan Al-Qur’an, hadis-hadis Rasulullah Saw , dan penjelasan sejumlah kitab tafsir
Kajian Surat At-Tahrim sebagai kelanjutan pembahasan ayat 1–3
A. PENDAHULUAN
Setelah ayat 1–3 menjelaskan persoalan mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan, hukum sumpah, dan amanah menjaga rahasia, Surat At-Tahrim berlanjut pada ayat 4–6 dengan pembahasan yang semakin luas dan mendalam.
Tiga ayat ini berbicara tentang:
1. Kewajiban bertaubat ketika melakukan kesalahan , ayat 4.
2. Kemuliaan Rasulullah Saw serta peringatan terhadap tindakan yang menyakiti beliau, ayat 4.
3. Peringatan tentang keharmonisan rumah tangga dan nilai perempuan salehah , ayat 5.
4. Tanggung jawab menjaga diri dan keluarga dari api neraka , ayat 6.
Ayat 4–6 menunjukkan bahwa persoalan keluarga dalam Islam bukan sekadar masalah pribadi. Keluarga adalah institusi iman, pendidikan, akhlak, dan tanggung jawab akhirat.
B. TAFSIR SURAT AT-TAHRIM AYAT 4
1. Teks Ayat
«إِنْ تَتُوبَا إِلَى ٱللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا ۖ وَإِنْ تَظَٰهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ مَوْلَىٰهُ وَجِبْرِيلُ وَصَٰلِحُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ ٤ Artinya:
“Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh hati kamu berdua telah condong kepada kebenaran. Tetapi jika kamu berdua saling bantu-membantu untuk menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya, demikian pula Jibril dan orang-orang mukmin yang saleh; dan para malaikat setelah itu juga menjadi penolongnya.”
C. ASBĀBUN NUZŪL DAN KONTEKS AYAT 4
Ayat ini berkaitan dengan peristiwa yang telah dibicarakan pada ayat sebelumnya, yaitu persoalan yang terjadi di dalam rumah tangga Rasulullah Saw
Para ahli tafsir menyebutkan bahwa dua istri Nabi ﷺ yang dimaksud dalam ayat ini adalah:
عَائِشَةُ وَحَفْصَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
yaitu Aisyah binti Abu Bakar r.a. dan Hafshah binti Umar bin Khattab r.a.
Dalam riwayat yang sahih, Umar bin Khattab r.a. pernah bertanya kepada Ibn Abbas r.a. tentang dua perempuan yang dimaksud dalam ayat:
مَنْ الْمَرْأَتَانِ اللَّتَانِ تَظَاهَرَتَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ؟
“Siapakah dua perempuan yang saling membantu terhadap Rasulullah Saw itu?”
Lalu Umar r.a. menjawab: عَائِشَةُ وَحَفْصَةُ
“Aisyah dan Hafshah.”
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa ayat ini berkaitan dengan dua istri Rasulullah ﷺ dalam peristiwa rumah tangga yang disebutkan pada ayat sebelumnya.
Namun, penting dipahami bahwa penyebutan kesalahan mereka di dalam Al-Qur’an bukan untuk merendahkan kedudukan mereka. Justru peristiwa tersebut menjadi pendidikan bagi umat:
" Tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan kecuali para nabi dalam perkara-perkara yang dijaga Allah."
Orang beriman dapat melakukan kesalahan, tetapi ukuran kemuliaannya adalah bagaimana ia:
- menyadari kesalahan,
- bertaubat,
- dan memperbaiki diri.
D. ANALISIS KATA PER KATA AYAT 4
1. إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ
“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah.”
Kata: تَتُوبَا
berasal dari kata: تَابَ – يَتُوبُ – تَوْبَةً
yang berarti kembali kepada Allah.
Taubat secara bahasa berarti: الرجوع
" kembali."
Sedangkan secara istilah, taubat berarti:
Kembali dari perbuatan dosa menuju ketaatan kepada Allah."
Allah membuka ayat ini dengan seruan taubat.
Ini merupakan pelajaran besar:
"Setiap persoalan harus diselesaikan dengan kembali kepada Allah."
Ketika suami dan istri bertengkar, ketika sahabat berselisih, ketika anak melakukan kesalahan, solusi pertama bukanlah memperbesar masalah, tetapi:
kembali kepada Allah.
E. SYARAT-SYARAT TAUBAT
Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang benar mempunyai beberapa unsur:
1. Meninggalkan dosa
Tidak mungkin seseorang berkata:
“Saya bertaubat.”
tetapi terus melakukan dosa yang sama dengan sengaja.
2. Menyesali kesalahan
Rasulullah Saw bersabda: النَّدَمُ تَوْبَةٌ
Artinya:
“Penyesalan adalah taubat.”
Menyesal merupakan tanda bahwa hati masih hidup.
3. Bertekad tidak mengulangi
Taubat bukan hanya menangis sesaat.
Taubat berarti mempunyai keinginan sungguh-sungguh untuk meninggalkan kesalahan.
4. Mengembalikan hak manusia
Jika kesalahan berkaitan dengan manusia, maka harus:
- meminta maaf,
- mengembalikan harta,
- memperbaiki kerusakan,
- atau meminta halal apabila hak tersebut memang dilanggar.
F. MAKNA:
فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا
“Maka sungguh hati kamu berdua telah condong.”
Kata: صَغَتْ
bermakna condong atau menyimpang.
Para mufasir menjelaskan bahwa hati keduanya telah condong kepada sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan dalam persoalan tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa:
«Kesalahan sering dimulai dari kecenderungan hati sebelum menjadi perbuatan.»
Seseorang tidak tiba-tiba melakukan dosa.
Sering kali prosesnya:
1. hati condong,
2. pikiran menerima,
3. keinginan berkembang,
4. kemudian perbuatan dilakukan.
Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan umat untuk menjaga hati.
G. HATI ADALAH PUSAT KEHIDUPAN MANUSIA
Rasulullah Saw bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”
Hubungannya dengan Surat At-Tahrim
Allah tidak hanya berbicara tentang tindakan:
فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا
tetapi Allah berbicara tentang: " hati "
Artinya, perbaikan manusia harus dimulai dari hati.
H. MAKNA:
وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ
“Dan jika kamu berdua saling bantu-membantu untuk menghadapi Nabi.”
Kata: تَظَاهَرَا
berasal dari kata: الظَّهْر
yang secara bahasa berarti “punggung”.
Makna asalnya adalah:
"saling memberikan dukungan atau saling menguatkan."
Dalam konteks ayat, maksudnya adalah dua pihak saling membantu dalam suatu tindakan yang memberikan tekanan atau menyusahkan Rasulullah Saw
Pelajaran
Islam melarang persekongkolan untuk melakukan keburukan.
Jangan sampai dua orang:
- bersatu untuk menzalimi satu orang,
- bekerja sama menyebarkan fitnah,
- membuat kelompok untuk menjatuhkan seseorang,
- atau bersekongkol menyakiti pasangan.
I. PERINGATAN UNTUK KELUARGA MASA KINI
Dalam rumah tangga modern kadang-kadang terjadi:
Suami dan keluarganya
Suami mengajak:
- ibunya,
- saudara-saudaranya,
- atau teman-temannya,
untuk menyudutkan istrinya.
Istri dan keluarganya
Istri mengajak:
- orang tuanya,
- saudara-saudaranya,
- atau sahabat-sahabatnya,
untuk membenci suami.
Kemudian masalah rumah tangga menjadi semakin besar.
Surat At-Tahrim memberikan pelajaran:
"Jangan membangun koalisi untuk menghancurkan rumah tangga."
Apabila ada masalah:
- duduk bersama,
- bermusyawarah,
- mencari jalan damai,
- meminta nasihat orang yang bijaksana,
- dan kembali kepada Allah.
J. MAKNA:
فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ
“Maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya.”
Kata: مَوْلَى
memiliki makna:
- pelindung,
- penolong,
- penjaga,
- pengurus.
Ketika Rasulullah Saw menghadapi tekanan manusia, Allah SWT menyatakan:
فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ
“Allah adalah pelindungnya.”
Ini adalah penghormatan yang sangat besar kepada Rasulullah Saw.
K. KEMUDIAN JIBRIL DAN ORANG-ORANG MUKMIN MENJADI PENOLONG
Allah berfirman: وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ
“Demikian pula Jibril dan orang-orang mukmin yang saleh.”
Ayat ini menggambarkan kemuliaan Rasulullah
Jika ada orang yang ingin menyakiti beliau, maka:
- Allah adalah pelindungnya,
- Jibril mendukungnya,
- orang-orang mukmin yang saleh menjadi pendukungnya.
Kemudian Allah berfirman:
وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ
“Dan para malaikat setelah itu juga menjadi penolong.”
Pelajaran iman
Seorang mukmin tidak boleh merasa sendirian ketika berada di jalan yang benar.
Jika manusia meninggalkannya karena ia mempertahankan kebenaran, maka ia tetap mempunyai Allah.
L. ISI KANDUNGAN AYAT 4
1. Setiap manusia harus segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.
2. Taubat adalah kembali kepada Allah.
3. Kesalahan hati harus diperbaiki sebelum berkembang menjadi perbuatan.
4. Dua orang tidak boleh bersekutu dalam perbuatan yang menyakiti orang lain.
5. Persatuan untuk melakukan kezaliman adalah dosa.
6. Allah adalah pelindung Rasulullah Saw .
7. Jibril dan malaikat menjadi pendukung Rasulullah Saw .
8. Orang-orang mukmin wajib membela kebenaran.
9. Persoalan keluarga harus diselesaikan dengan adab dan taubat.
10. Tidak ada manusia yang terlalu tinggi sehingga tidak membutuhkan taubat.
M. TAFSIR SURAT AT-TAHRIM AYAT 5
1. Teks Ayat
عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُۥٓ أَزْوَٰجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَٰتٍ مُّؤْمِنَٰتٍ قَٰنِتَٰتٍ تَٰٓئِبَٰتٍ عَٰبِدَٰتٍ سَٰٓئِحَٰتٍ ثَيِّبَٰتٍ وَأَبْكَارًا ٥
Artinya:
“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu: perempuan-perempuan yang muslim, beriman, taat, bertaubat, beribadah, berpuasa, baik yang pernah menikah maupun yang masih perawan.”
N. MAKNA:
عَسَىٰ رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ
“Jika Nabi menceraikan kamu.”
Ini merupakan peringatan yang sangat serius.
Akan tetapi, ayat ini tidak berarti bahwa Rasulullah Saw benar-benar menceraikan seluruh istri yang dimaksud.
Allah memberikan peringatan bahwa:
«Kedudukan seseorang tidak boleh menjadikannya sombong dan merasa aman dari kehilangan amanah.»
Setiap orang harus menjaga:
- iman,
- akhlak,
- tanggung jawab.
O. DELAPAN SIFAT UTAMA PEREMPUAN SALEHAH
Ayat ini menyebutkan karakter yang sangat indah.
1. مُسْلِمَاتٍ
Perempuan-perempuan yang berserah diri kepada Allah.
Makna Islam bukan hanya nama.
Tetapi:
- tunduk kepada Allah,
- menerima hukum Allah,
- melaksanakan perintah,
- meninggalkan larangan.
2. مُؤْمِنَاتٍ
Perempuan-perempuan yang beriman.
Islam berkaitan dengan ketundukan lahir.
Sedangkan iman berkaitan dengan keyakinan yang tertanam dalam hati.
Seorang Muslimah sejati mempunyai:
- iman kepada Allah,
- iman kepada malaikat,
- iman kepada kitab,
- iman kepada rasul,
- iman kepada hari akhir,
- iman kepada qada dan qadar.
3. قَانِتَاتٍ
Perempuan-perempuan yang taat.
Taat kepada:
- Allah,
- Rasulullah Saw ,
- dan dalam urusan yang benar menaati kewajiban kehidupan keluarga.
Ketaatan bukan berarti menerima kezaliman.
Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.
4. تَائِبَاتٍ
Perempuan-perempuan yang selalu bertaubat.
Manusia bukan makhluk yang tidak pernah salah.
Tetapi manusia yang baik adalah yang:
"menyadari kesalahan dan kembali kepada Allah."
5. عَابِدَاتٍ
Perempuan-perempuan yang rajin beribadah.
Ibadah bukan hanya:
- salat,
- puasa,
- zikir.
Mendidik anak dengan niat karena Allah juga dapat bernilai ibadah.
Mengurus keluarga dengan ikhlas juga bernilai ibadah.
6. سَائِحَاتٍ
Secara bahasa:
السِّيَاحَةُ
berarti melakukan perjalanan.
Namun sejumlah mufasir menjelaskan kata:
سَائِحَاتٍ
dalam konteks ini sebagai: صَائِمَاتٍ
yaitu perempuan yang berpuasa.
Hal ini menunjukkan bahwa seorang Muslimah mempunyai kedisiplinan dalam ibadah.
7. ثَيِّبَاتٍ
Perempuan yang pernah menikah.
8. أَبْكَارًا
Perempuan yang masih perawan.
Dua kata terakhir menunjukkan bahwa kemuliaan perempuan tidak hanya bergantung kepada status pernikahannya.
Baik:
- pernah menikah,
- maupun belum menikah,
yang menjadi ukuran adalah iman dan ketakwaannya.
P. ISI KANDUNGAN AYAT 5
1. Rumah tangga membutuhkan iman dan akhlak.
2. Seorang perempuan harus memiliki kepribadian Islam yang kuat.
3. Status sosial tidak lebih tinggi daripada ketakwaan.
4. Perempuan terbaik adalah yang tunduk kepada Allah.
5. Taubat merupakan sifat orang beriman.
6. Ibadah harus menjadi bagian kehidupan keluarga.
7. Status pernah menikah atau belum menikah bukan ukuran kemuliaan seseorang.
8. Kepribadian manusia harus dibangun di atas iman.
Q. TAFSIR SURAT AT-TAHRIM AYAT 6
1. Teks Ayat
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ٦
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah para malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak pernah durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
R. AYAT PALING PENTING TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA
Ayat: قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
merupakan dasar besar pendidikan keluarga dalam Islam.
Kata: قُوا
berasal dari: وَقَى – يَقِي – وِقَايَةً
yang berarti: menjaga, melindungi, memelihara.
Ayat ini bukan sekadar berkata:
“Sayangilah keluargamu.”
Tetapi lebih mendalam:
"Lindungilah keluargamu dari kehancuran akhirat."
S. BAGAIMANA CARA MENJAGA KELUARGA DARI NERAKA?
Para ulama menjelaskan bahwa menjaga keluarga dari neraka dilakukan dengan:
1. Mengajarkan tauhid
Keluarga harus mengetahui:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Tidak ada Tuhan selain Allah.
Anak-anak harus mengenal:
- siapa Allah,
- siapa Rasulullah Saw
- tujuan hidup manusia.
2. Mengajarkan salat
Allah SWT berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
Artinya:
“Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”
Rumah Muslim seharusnya memiliki suasana salat.
3. Mengajarkan Al-Qur’an
Anak jangan hanya mengenal:
- internet,
- permainan,
- artis,
- tokoh media sosial.
Tetapi harus mengenal:
- Al-Qur’an,
- Rasulullah Saw ,
- sahabat Nabi,
- ulama,
- sejarah Islam.
4. Mengajarkan akhlak
Anak harus diajarkan:
- jujur,
- malu,
- sopan,
- menghormati orang tua,
- menghormati guru,
- menjaga lisan.
5. Memberikan makanan halal
Rasulullah Saw mengingatkan tentang pentingnya makanan halal.
Orang tua tidak cukup menyuruh anak salat.
Orang tua juga harus berusaha agar:
- nafkah,
- makanan,
- pakaian,
diperoleh dari sumber halal.
T. HADIS TENTANG TANGGUNG JAWAB KELUARGA
Rasulullah Saw bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Kemudian hadis menjelaskan bahwa:
- pemimpin bertanggung jawab atas rakyat,
- suami bertanggung jawab atas keluarganya,
- istri bertanggung jawab terhadap rumah suaminya.
Pelajaran:
"Kepemimpinan dalam Islam adalah amanah, bukan sekadar kekuasaan."
U. MENJAGA KELUARGA DI ERA DIGITAL
Tadabbur ayat ini sangat relevan pada zaman sekarang.
Menjaga anak bukan hanya berarti memastikan:
- ia sudah makan,
- ia sudah mandi,
- ia pergi ke sekolah.
Tetapi juga memastikan:
Apa yang ia lihat?
Apakah tontonan yang merusak akhlak?
Apa yang ia dengarkan?
Apakah konten yang mengajak kepada kemaksiatan?
Siapa teman dekatnya?
Apakah teman tersebut membawa kepada kebaikan?
Apa yang dilakukan dengan telepon genggam?
Apakah digunakan untuk:
- belajar,
- membaca,
- berkomunikasi dengan baik,
atau justru:
- membuka aurat,
- pornografi,
- perjudian,
- penipuan,
- kekerasan,
- dan kemaksiatan?
Prinsipnya:
"Orang tua yang hanya menjaga tubuh anak tetapi tidak menjaga agamanya belum menjalankan seluruh amanah pendidikan."
V. MAKNA:
وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Bahan bakarnya manusia dan batu.”
Ayat ini menggambarkan dahsyatnya neraka.
Kata:
وَقُود
berarti bahan bakar.
Neraka bukan api biasa.
Allah menggambarkan kedahsyatannya sehingga manusia harus segera memperbaiki diri.
Tujuannya bukan agar manusia putus asa, tetapi agar:
- takut kepada dosa,
- meninggalkan maksiat,
- dan kembali kepada Allah.
W. MALAIKAT PENJAGA NERAKA
Allah berfirman:
«عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ»
“Di atasnya terdapat malaikat-malaikat yang keras dan kuat.”
Para malaikat tersebut:
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ
“Mereka tidak mendurhakai Allah dalam apa yang diperintahkan-Nya.”
Ini berbeda dengan manusia.
Manusia memiliki:
- pilihan,
- hawa nafsu,
- dan kemungkinan bermaksiat.
Malaikat senantiasa taat kepada Allah.
X. ISI KANDUNGAN AYAT 6
Ayat ini mengandung prinsip:
1. Orang beriman wajib menjaga dirinya dari neraka.
2. Orang tua memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan agama keluarga.
3. Pendidikan keluarga harus dimulai dari rumah.
4. Pendidikan bukan hanya akademik, tetapi juga akidah dan akhlak.
5. Suami memiliki amanah terhadap keluarganya.
6. Istri juga memiliki amanah terhadap rumah tangga.
7. Anak-anak harus diajarkan agama secara bertahap.
8. Menjaga keluarga pada zaman modern juga termasuk mengawasi lingkungan digital.
9. Nafkah halal merupakan bagian penting dari pendidikan keluarga.
10. Neraka merupakan peringatan agar manusia tidak bermain-main dengan dosa.
Y. HUBUNGAN AYAT 4, 5, DAN 6
Ketiga ayat ini membentuk rangkaian pendidikan yang sangat indah.
AYAT 4: MEMPERBAIKI HATI
إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ
Jika melakukan kesalahan, segera bertaubat.
AYAT 5: MEMPERBAIKI KEPRIBADIAN
مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ...
Keluarga yang baik harus dibangun dengan karakter:
- Islam,
- iman,
- ketaatan,
- taubat,
- ibadah.
AYAT 6: MEMPERBAIKI KELUARGA
قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Setelah memperbaiki diri, seseorang harus memperbaiki keluarganya.
Urutannya:
Hati → Pribadi → Keluarga → Keselamatan Akhirat
Z. KESIMPULAN BAGIAN KEDUA
Surat At-Tahrim ayat 4–6 merupakan dasar pendidikan keluarga Islam.
Pertama
Segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.
Kedua
Jangan bersekutu untuk menyakiti orang lain.
Ketiga
Rasulullah Saw adalah manusia mulia yang dibela oleh Allah, Jibril, orang-orang mukmin, dan para malaikat.
Keempat
Karakter terbaik dalam keluarga adalah Islam, iman, ketaatan, taubat, dan ibadah.
Kelima
Setiap keluarga wajib membangun perlindungan dari api neraka.
Pesan terbesar ayat 4–6 adalah:
“Perbaikilah hatimu dengan taubat, bangunlah keluargamu dengan iman dan ibadah, serta jagalah dirimu dan keluargamu dari jalan yang membawa kepada api neraka.”
RUJUKAN
1. Al-Qur’an al-Karim, Surat At-Tahrim ayat 4–6.
2. Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
3. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim.
4. Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān.
5. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.
6. Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān.
7. Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl.
8. Al-Mahalli dan As-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain.
9. Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsīr al-Munīr.
10. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah.
11. Sayyid Qutb, Fī Ẓilāl al-Qur’ān.
POIN RENUNGAN
Jangan menunggu rumah tangga bermasalah untuk kembali kepada Allah.
Jangan menunggu anak rusak baru mendidiknya.
Jangan menunggu tua baru mengajarkan agama kepada keluarga.
"Mulailah dari sekarang: perbaiki diri, perbaiki keluarga, dan selamatkan semuanya dengan iman, ilmu, ibadah, dan akhlak".
Redaksi Islamic tekhno tv com

Posting Komentar untuk "Bagian II ; Taubat, Adab dan Tanggung Jawab ""